Tamu Kita

Yustina Suryani Sadji: Mimpikan Kedaulatan Pangan NTT

Walau memiliki campuran darah Jawa dari ibunya, dan juga dilahirkan di tanah Jawa, Yustina Suryani Sadji tidak menjadi penghalang bagi pekerjaannya

Yustina Suryani Sadji: Mimpikan Kedaulatan Pangan NTT
POS KUPANG/JUMAL HAUTEAS
Yustina Suryani Sadji

Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Jumal Hauteas

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Walau memiliki campuran darah Jawa dari ibunya, dan juga dilahirkan di tanah Jawa, Yustina Suryani Sadji tidak memandang status campurannya tersebut sebagai suatu halangan untuk tidak mencintai produk-produk lokal Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bahkan berdasarkan talenta yang dimilikinya, Yustina yang sudah dikaruniai empat orang anak bersama pasangannya, Yoseph Sadji ini memiliki mimpi untuk mewujudkan kedaulatan pangan bagi NTT dari produk lokal khas NTT.

Bagaimana usaha membangun mimpi tersebut, berikut petikan wawancara Ibu Yustina S Sadji dengan wartawan Pos Kupang, Jumal Hauteas, di kediamannya, Jumat (10/4/2015).

NTT lebih dikenal sebagai provinsi miskin dan terkebelakang. Tetapi Ibu Yustina justru memiliki mimpi untuk mewujudkan kedaulatan pangan untuk NTT. Apa sebenarnya spirit ibu untuk hal ini?
Sebenarnya bukan dari saya pribadi. Tetapi sejak bergabung dengan Jaringan Perempuan Usaha Kreatif (Jarpuk) Ina Foa pada tahun 2009 lalu, saya belajar kemudian lahirlah prinsip ini bahwa setiap orang di balik kelemahannya pasti memiliki potensi tersembunyi yang jika dikembangkan secara baik dan konsisten, pasti bisa menghasilkan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan.

Apakah ibu memiliki semacam visi-misi pribadi untuk mewujudkan mimpi ibu ini? Kalau ada, apa visi-misi ibu?
Iya, saya memiliki visi-misi pribadi dan juga visi-misi perusahaan untuk mewujudkan adanya sentra produksi pangan lokal yang sudah saya rancang, namanya Mina Damai Bahari (Mindari). Untuk mewujudkan ini, visi saya adalah "Tenang menjalani hidup, sejahtera menikmati hidup, damai meninggalkan hidup".

Sedangkan misi saya ada tiga, yakni pertama, melakukan segala sesuatu dengan mengedepankan kasih. Kedua, membuat segalanya lebih mudah dengan memandang setiap hal dengan sudut pandang positif. Ketiga, menolong dan membantu sesama dengan senyum dan ikhlas.

Bagaimana mulai membangun mimpi ini?
Sekali lagi saya harus katakan bahwa spirit yang kami bangun bersama di jaringan adalah percaya pada apa yang ada dalam diri setiap orang, sehingga kami selalu berusaha untuk menyadarkan mama-mama di desa-desa bahwa mereka bisa berkembang dari apa yang mereka miliki dan tidak harus terus bergantung dengan orang lain, apalagi dengan bantuan.

Apakah itu bukan sebuah mimpi yang terlalu besar?
Tentu saja tidak. Karena untuk menghasilkan sesuatu yang besar harus dimulai dari hal-hal kecil karena perubahan besar baru akan lahir jika ada satu langkah pertama.

Berarti harus mengubah mindset masyarakat ya?
Ia benar sekali, karena masyarakat kita masih selalu berpikir bahwa apa yang ada pada diri mereka tidak akan bermanfaat kalau dioptimalkan, sehingga cenderung pasrah untuk menerima nasib, dari pada berusaha untuk membangun diri mereka.

Halaman
1234
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help