Paskah di NTT 2015

Melawan Individualisme dan Hedonisme

Perayaan Jumat Agung adalah bukti solidaritas Allah terhadap manusia, karena seharusnya manusia yang tergantung di salib.

Melawan Individualisme dan Hedonisme
ist
Pdt. Mery Kolimon 

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Perayaan Jumat Agung adalah bukti solidaritas Allah terhadap manusia, karena seharusnya manusia yang tergantung di salib. Namun Tuhan menunjukkan solidaritasnya kepada manusia dengan menggantikan manusia di salib. Jadi, manusia harus ikut membangun solidaritas dengan sesama dan membangun keadilan ekologis.

Demikian Pendeta Mery Kolimon dan Romo Leo Mali, Pr memberikan pencerahan tentang makna perayaan Jumat Agung dan Paskah sebagai hari kebangkitan Tuhan bagi imat kristiani. Simaklah!

"Jangan sampai kita keliru dan berpikir bahwa kematian Kristus di kayu salib hanya untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi juga untuk keadilan ekologis," tegas Pdt. Dr. Mery Kolimon saat ditemui di kantor Fakultas Theologia Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Rabu (1/4/2015). Dijelaskannya, penyelamatan Allah melalui kematian Putra-Nya di Kayu Salib harus memberikan refleksi yang kuat bagi umat manusia agar ikut membangun solidaritas sesama manusia dan lingkungan.

Menurut dia, saat ini umat manusia sudah cenderung hidup individualisme dan hedonisme, yakni menempatkan diri sebagai lebih penting dan lebih utama dari kepentingan kelompok serta berusaha untuk mencari kesenangan bagi diri sendiri dan mengabaikan orang lain.

"Ini dua sikap yang tumbuh subur di tengah masyarakat, termasuk masyarakat NTT. Sikap ini harus dilawan karena kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sosial dan kelompok," tegas Pdt.Mery.

Karena itu, demikian Pdt. Mery, pesan Jumat Agung yang harus dimaknai oleh umat Kristiani di NTT adalah bergerak melawan rasa individualisme dan hedonisme yang tumbuh dalam diri masing-masing manusia.

"Ini (Jumat Agung) jelas memberi pesan kepada kita untuk membangun solidaritas dengan sesama dan keadilan lingkungan seperti solidaritas yang dilakukan Tuhan dengan manusia melalui pengorbanan-Nya di salib," tegasnya.

Pesan kedua bagi masyarakat NTT dalam perayaan Jumat Agung kali ini adalah membangun solidaritas untuk melakukan perlawanan terhadap keterbelakangan, kemiskinan dan penindasan, khususnya human traffiking (perdagangan manusia) yang dalam beberapa tahun terakhir begitu marak di NTT.

"Setiap hari ada puluhan hingga ratusan anak NTT keluar dari NTT untuk bekerja di luar daerah dan luar negeri melalui cara-cara yang tidak legal. Ini bentuk eksploitasi umat manusia yang harus segera dihentikan," kata Pdt. Mery.

Pelajaran yang diambil dari apa yang dilakukan Yesus di zamannya pada waktu itu adalah Yesus menolak untuk berkompromi dengan penguasa Romawi yang lalim dalam berkuasa dan pemimpin-pemimpin gereja yang juga tidak memberikan pelayanan yang baik kepada jemaat waktu itu.

"Yesus juga dianggap pemberontak di masanya, tetapi Yesus menolak untuk berkompromi dan itu pelajaran penting bagi kita dalam memaknai Jumat Agung kali ini. Ini juga memanggil kita untuk melawan penindasan dan eksploitasi manusia, khususnya human traffiking di NTT saat ini," urainya.

Pelajaran lainnya adalah Kematian Yesus di salib bukan hanya untuk keselamatan umat manusia. Tetapi juga untuk keadilan ekologis. Karena itu, umat manusia harus belajar memperjuangkan alam lingkungan yang ada, karena lingkungan yang ada harus tetap dipelihara untuk kelangsungan hidup di masa mendatang.

Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved