Tamu Kita

Kolonel Pnb Andi Wijaya: Tutup Pintu Keluar CTKI Ilegal

Kolonel (Pnb) Andi Wijaya, dan jajarannya berhasil menggagalkan pemberangkatan CTKI ilegal asal NTT ke luar NTT melalui Bandara El Tari Kupang.

Kolonel Pnb Andi Wijaya: Tutup Pintu Keluar CTKI Ilegal
PK/ALY
Kolonel (Pnb) Andi Wijaya, S.sos

Seringkali ceck in tidak dilakukan oleh CTKI ilegal namun oleh orang lain atau petugas lapangan (PL). Lalu mereka langsung boarding. Dan, setelah beberapa menit pesawat mau lepas landas, barulah CTKI itu masuk ke ruang tunggu tanpa ceck in dan boarding. Nah di sini butuh kejelian dari petugas untuk melihat penumpang mana saja yang tidak lagi ceck in, namun langsung boarding.

Tiap hari ada pemberangkatan CTKI Ilegal lewat Bandara El Tari Kupang?
Pasti Ada. Karena setiap hari kami menangkap CTKI ilegal itu. Saat ini mungkin pelaku belum 'kapok' sehingga masih terus saja memberangkatkan CTKI ilegal lewat Bandara El Tari Kupang. Tapi saya yakin, seiring dengan gencar dan rutinnya dilakukan penertiban dan penangkapan serta proses hukum terhadap CTKI ilegal yang diberangkatkan dari sini, maka berangsur-angsur juga jumlah kasus human trafficking di NTT ini akan berkurang.

Antisipasi lain yang bisa meminimalisir mobilisasi CTKI ilegal ke luar NTT?
Mengubah cara pandang atau pola pikir masyarakat dan pemerintah terkait persoalan ketenagakerjaan. Dalam beberapa pertemuan dengan sejumlah pejabat, ada pemikiran bahwa banyaknya angka pengangguran di NTT dan sulitnya mendapat pekerjaan karena minimnya lapangan kerja di NTT ini menjadi faktor pencetus terjadinya kasus human trafficking. Faktor banyaknya pengangguran itu dianggap sebagai suatu kekurangan.

Dan, banyak orang, termasuk sejumlah pejabat yang beranggapan bahwa lapangan kerja di NTT susah, sedangkan yang mau cari kerja itu banyak sehingga orang memilih menjadi CTKI ilegal. Padahal, menurut saya, justru banyaknya pengangguran di NTT itu menjadi suatu kekuatan bagi NTT bukan kekurangan.

Mengapa? Kalau NTT minim lapangan kerja, maka bagaimana caranya membuat si penganggur bisa menciptakan lapangan kerja sendiri. Atau bagaimana caranya pemerintah memfasilitasi para penganggur itu untuk bisa bekerja secara legal di luar NTT. Jadi, hendaknya pemerintah bisa melihat peluang kerja di daerah lain kemudian memfasilitasi para penganggur yang ada untuk bisa diterima bekerja di daerah lain itu.

Dengan demikian, para penganggur itu tidak 'dicaplok' atau terperangkap dalam kasus human trafficking. Namun harus ada keseriusan pemerintah untuk membekali SDM masyarakat yang akan mencari kerja di luar NTT itu dengan keterampilan yang memadai sesuai permintaan daerah lain. Agar SDM masyarakat bisa mumpuni dan memenuhi permintaan pasar agar mereka tidak diperlakukan sewenang-wenang di tempat bekerjanya itu. Termasuk memberikan informasi yang benar kepada masyarakat.

Informasi yang benar seperti apa yang Anda maksudkan?
Semua pihak, khususnya pemerintah dan aparat desa, lurah dan kecamatan, hendaknya senantiasa memberikan sosialisasi kepada warganya mengenai 'bahaya' menjadi CTKI ilegal. Bagaimana masyarakat di kota hingga di kampung-kampung bisa mendapatkan informasi yang baik dan benar mengenai tata cara menjadi TKI yang legal. Dengan demikian masyarakat tidak akan tergoda iming-iming dari calo CTKI ilegal yang menawarkan jasa memberikan pekerjaan.

Apa target Anda dalam pemberantasan kasus human trafficking ini?
Target kedinasan, saya ingin agar Bandara El Tari Kupang dan Lanud El Tari Kupang ini bersih dari oknum-oknum yang bermain dalam pemberangkatan CTKI secara ilegal. Dengan demikian, kasus human trafficking di NTT bisa diminimalisir dari waktu ke waktu. Kita harus bisa menutup rapat-rapat pintu keluar para CTKI ilegal yang salah satunya melalui pintu dari Bandara El Tari Kupang ini.

Bagaimana mewujudkan target Anda itu?
Pemberantasan kasus human trafficking ini jangan dilihat sebagai target semata. Karena menghentikan kasus perdagangan manusia ini merupakan target seluruh masyarakat dan pemerintah daerah NTT. Dalam waktu dekat, akan dibuat rencana aksi. Satgas baru akan disusun lagi. Dan, menurut hemat saya, seharusnya ada satu posko di Bandara El Tari Kupang ini.

Dan, yang terpenting bahwa untuk bisa mewujudkannya target itu, maka harus ada kerja sama dan kordinasi yang baik antar pihak terkait. Mulai dari AURI, Bandara El Tari Kupang, Polda NTT, BP3TKI, Nakertrans juga LSM, masyarakat, termasuk pers dan seluruh pihak harus proaktif menjalankan wewenang dan tugasnya sehingga pemberantas human trafficking di NTT bisa diminimalisir. *

Status Komandan Itu Hanya Baju

TERLAHIR sebagai anak kolong alias anak anggota TNI, telah membentuk kepribadiannya menjadi sosok lelaki pemberani dan tak kenal menyerah dalam memperjuangkan sesuatu. Besar di lingkungan tentara pun ikut mempengaruhi cita-cita masa depannya. Kini Andi Wijaya, S.Sos telah menduduki jabatan sebagai Danlanud El Tari Kupang.

"Sejak kecil saya sudah ingin menjadi tentara. Saya bangga dengan sosok ayah. Dia seorang pelatih terjun yang handal dan disegani di Paskas saat itu. Sejak umur lima tahun, saya sudah diajak ayah untuk naik pesawat. Karena itu saya sangat ingin menjadi penerjun," kata Kolonel (Pnb) Andi mengenang masa kecilnya di Bandung.

Momen terjun payung tak pernah dilewatkannya sepulang sekolah. Dan, akhirnya, obsesinya menjadi penerjun bisa terealisasi saat Andi diikutsertakan menjadi penerjun ketika duduk di bangku SMU kelas 1. Bahkan tahun 1984, suami dari Aspiaty Susana, SE ini menjadi penerjun termuda di Indonesia.

Tanpa ragu, setelah lulus SMU, ayah dari M Rafi Zhafran, dan Auliza Syifarani ini langsung ikut tes dan diterima.

Alumni AAU tahun 1990 ini kemudian menjadi penerbang dan membawa sejumlah pesawat tempur seperti oviten hick, bravo charli. Mantan Perwira Penerbang Skardon Udara 21 Malang ini menemui tambatan hatinya saat bertugas di Menado.

Ada pengalaman tragis tak terlupakan instruktur penerbang di Yogya ini. Yakni ketika mengikuti tes pilot tahun 1997. Maut nyaris menjemput lelaki berbadan atletis ini. Saat membawa sebuah pesawat tempur dalam ujian itu, tiba-tiba salah satu mesin pesawat mati saat pesawat sedang mengudara.

Tak memikirkan nyawanya, pada detik-detik terakhir, mantan Perwira Staf Ops Mabesau ini masih berupaya menghidupkan kembali mesin pesawat itu agar pesawat tak jatuh. Bahkan ketika mengetahui mesin tidak bakal bisa hidup lagi, mantan Kepala Dinas Personel Lanud Abd Saleh Malang ini masih juga memikirkan bagimana 'menjatuhkan' pesawatnya secara darurat di tempat yang aman, bukan di rumah penduduk.

"Saya masih berpikir untuk bisa menjatuhkan pesawat ini di tempat aman. Jangan sampai jatuh di atas perumahan penduduk karena nanti akan banyak korban jiwa. Dan, kami memang diajarkan hal-hal seperti itu, bagaimana harus bisa menyelamatkan pesawat, meminimalisir korban dan nyawa kita dan saya bisa melakukannya," kata mantan Komandan Wing 2 Lanud Abd Saleh Malang ini.

Lelaki berpenampilan sederhana ini kemudian mendaratkan pesawatnya di tengah kebun. Dan, bersamaan dengan keputusannya itu, detik terakhir di ketinggian 10 meter, Andi menginjak shetnya sehingga terlontar keluar dengan parasut. Namun parasutnya tidak terbuka sehingga Andi mendarat mulus di kebun.

Beruntung Andi hanya mengalami sakit pinggang tanpa cedera berat. Kejadian itu membuatnya sedikit trauma, namun tak menjadikannya 'kapok' membawa pesawat tempur.
"Pikir saya, kenapa harus trauma. Itu kan risiko sebagai penerbang. Saya kembali membawa pesawat tempur," kata lelaki yang suka tersenyum ramah ini.

Menurutnya, prinsip hidup yang selalu dijalaninya bahwa setiap tugas yang diberikan Negara kepadanya, harus mampu diselesaikan.

"Sebagai prajurit TNI, saya harus siap menjalani setiap tugas yang diberikan kepada saya. Apapun tugas itu, harus bisa saya selesaikan dengan baik sesuai kemampuan maksimal yang ada pada saya. Berhasil atau tidaknya tugasnya itu, tergantung dari beban dan bekal yang saya miliki," kata lelaki yang sangat mengedepankan kedisiplinan ini.

Kolonel Andi tak pernah menyesal terhadap sesuatu yang sudah terjadi dalam kehidupannya. Karena penyelesan itu, menurut Andi, memang akan selalu datang belakangan sehingga tak perlu disesali.

"Bagi saya, penyesalan itu tidak produksi. Penyesalan itu hanya untuk instrospeksi diri dan jangan berlama-lama menyesal," kata Kolonel Andi.

Mengenai penampilannya yang selalu sederhana dan low profile, lelaki yang hobi mancing ini mengatakan, itulah dirinya. Kesederhanaan itu sudah tertanam dalam keluarganya dan hal itu merupakan warisan terbaik dari orangtuanya.

Karena itu, penggemar sepak bola ini menilai bahwa jabatan, kekayaan dan status sosial bukanlah sesuatu yang harus diangung-agungkan.

"Tak ada gunanya menyombongkan diri dengan jabatan, kekayaan dan status yang kta miliki. Jabatan hanyalah titipan Tuhan dan bisa diambil sewaktu-waktu. Saya komandan sesuai kapastitas saya. Status komandan itu hanya baju, tidak abadi. Tapi, Andi, suatu pribadi yang kita miliki itu akan abadi seumur hidup dan dikenang orang. Karena itu, jadilah pribadi yang menyenangkan dan teruslah berbuat baik dengan semua orang," pesan Kolonel Andi.

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help