Tamu Kita

Semuel Haning: Saya Bangga Jika Lulusan PGRI Mampu Bersaing

Memimpin Universitas PGRI NTT dengan belasan ribu mahasiwa/i dan tenaga pengajar yang profesional, bukan perkara mudah.

Semuel Haning: Saya Bangga Jika Lulusan PGRI Mampu Bersaing - semuel_haning1.jpg
PK/VEL
Semuel Haning, S.H, M.H
Semuel Haning: Saya Bangga Jika Lulusan PGRI Mampu Bersaing - semuel-haning-dan-keluarga1.jpg
istimewa
KELUARGA--Semuel Haning, S.H, M.H bersama istri dan anaknya.

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Memimpin Universitas PGRI NTT dengan belasan ribu mahasiwa/i dan tenaga pengajar yang profesional, bukan perkara mudah. Tantangan, hambatan, tentu banyak, namun semua itu bisa dilalui dan dihadapi oleh Rektor Universitas PGRI NTT, Semuel Haning, S.H, M.H dengan berbagai tips mumpuni.

Karenanya, tak heran jika output mahasiswa/i dari lembaga ini bisa diterima dan 'terpakai' dalam masyarakat dan daerah di dalam maupun luar NTT. Apa saja kiat memimpin universitas PGRI dan apa saja program yang dicetuskan Semuel untuk memberdayakan mahasiswa/i, dosen plus pegawainya? Tips dan pengalaman itu diceritakan Semuel dalam wawancara eksklusif dengan wartawan Pos Kupang, OMDSMY Novemy Leo, Rabu (11/3/2015) siang.

Sejak kapan universitas ini didirikan dan saat ini sudah memiliki program studi apa saja?
Universitas PGRI NTT ini berdiri sejak tahun 1996. Saat ini ada lima fakukas di Universitas PGRI NTT yakni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Mita dan Fakultas Pertanian. Jumlah mahasiswa saat ini sekitar 12.000 orang dengan tenaga pengajara skeitar 240 orang dosen.

Bagaimana kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) para dosen?
Bersyukur bahwa berangsur-angsur kualitas SDM 240 orang dosen di Universitas PGRI NTT ini mulai meningkat. Saat ini kami tidak lagi memiliki dosen yang berkualifikasi S1, semuanya sudah berkualifikasi S2 dan S3. Karena menurut hemat saya, seorang pengajar universitas minimal harus bergelar S2 akademik.

Dan, harus diakui bahwa rendahnya kualitas output mahasiswa/i itu salah satunya disebabkan karena proses mengajar dari dosen yang masih buruk. Dan, hal ini terjadi karena kompetensi dosennya yang berkaitan dengan gelar yang disandangnya. Dengan tenaga dosen yang berkualifikasi minimum S2, maka peningkatan mutu mahasiswa pasti terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dan, seorang dosen yang benar-benar ingin menjadi dosen yang berkualitas, maka dia harus mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 bahkan S3. Hal ini penting untuk bisa mencapai puncak karier fungsionalnya yakni bisa memperoleh gelar profesor atau guru besar. Dan, selama ini, Universitas PGRI telah mendukung dosen-dosen yang hendak melanjutkan studi ke jenjang S2 dan S3.

Hal ini sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen Nomor 5 tahun 2005 dimana menyebutkan bahwa mahasiswa S1 minimal harus diajar oleh tenaga pendidik bertitel S2, sedangkan untuk S2 harus diajar oleh S3.

Bagaimana dengan kualitas mahasiswa/i Universitas PGRI NTT?
Menyedihkan bukan, di saat kita ingin melakukan persaingan global, lantas mutu atau kualitas mahasiswa/i kita tidak juga meningkat dari tahun ke tahun untuk ukuran nasional, apalagi untuk ukuran internasional. Karenanya kami selalu berupaya untuk terus meningkatkan kualitas output mahasiswa/i di sini.

Dan, saya yakin bahwa output mahasiwa/i Universitas PGRI berkualitas. Karena selain didukung oleh tenaga pengajar yang berkualitas, plus sarana prasarana dan fasilitas yang memadai, juga berbagai motivasi yang diberikan kepada setiap mahasiswa/i.

Dan, dalam tes penerimaan masuk ke Universitas PGRI pun, dilakukan seleksi ketat, baik tes tertulis, psikotes dan tes kesehatan plus kepribadiannya. Dan, setiap tahun peminatnya sangat banyak. Tahun kemarin saja kami membuka hanya 2.000, namun yang daftar hingga 4.000 orang. Dan, kini yang aktif kuliah sebanyak 12.000 mahasiswa.

Halaman
1234
Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved