Politik Cinta

kematian. Gula pasir 2 sendok, kekuningan, lebih cerah dari senja di Krokowolon. Air panas dari cerek biru yang kubeli di pasar Alok, dengan harum yan

Politik Cinta
Dok. Barcelona
Ilustrasi: Seorang pria asal China, Liu Shutong (jongkok), melamar kekasihnya, Liu Panqiu (kanan), dalam sebuah tur di Stadion Camp Nou, Barcelona, Jumat (28/3/2014). 

Ketika kutoleh, aku terkejut akan sebuah bingkisan cukup besar di atas meja belajarku. Tak tahu, siapa yang meletakkannya di situ. Mirip misteri dalam film-film di TV. Segera aku meraih dan membukanya. Ada sepucuk kertas putih bertinta. Aku terduduk dan mulai membaca.

"Bung, maaf. Hanya ini yang dapat kukirim untukmu. Bubuk kopi Gorontalo, gula pasir Jogja, dan gelas kaca bergambar wajah Prabowo Subianto. Maaf dan hanya maaf, karena aku lolos menjadi caleg, menjadi anak buah Prabowo. Aku tetap mencintaimu, dengan segala keegoisanmu mengakhiri kisah kita, walaupun kini aku telah bersuami... Salam, Rymera, SH.. !"
Aku hanya tersenyum. Tertawa rasanya tak sanggup.
Betul-betul politik cinta. Cinta yang dengan tahu dan mau dipolitisasi tanpa malu- malu.........

*) Cerpen ini keluar sebagai juara pertama dalam sayembara menulis cerpen
pada Dies Natalis STFK Ledalero tahun 2014.

Ikuti Terus Berita Terbaru di http://kupang.tribunnews.com
silahkan
Like www.facebook.com/poskupang.online
Follow https://twitter.com/poskupang

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved