Politik Cinta

kematian. Gula pasir 2 sendok, kekuningan, lebih cerah dari senja di Krokowolon. Air panas dari cerek biru yang kubeli di pasar Alok, dengan harum yan

Politik Cinta
Dok. Barcelona
Ilustrasi: Seorang pria asal China, Liu Shutong (jongkok), melamar kekasihnya, Liu Panqiu (kanan), dalam sebuah tur di Stadion Camp Nou, Barcelona, Jumat (28/3/2014). 

Cinta itu lebih sakral dari hanya sekedar kata-kata romantis, rayuan-rayuan gombalis, dan puja-puji sesaat. Cinta itu lebih mulia dari kata cinta itu sendiri. Cinta adalah komitmen. Cinta adalah berjuang di masa kini dengan berkaca pada masa silam. Akhirnya, kesimpulan yang paling menggairahkan, cinta adalah masa depan. Kesimpulan yang tentunya menuai kontroversi, tapi terserah. Itulah cinta kami, cinta sepasang remaja kampung yang sedang bertumbuh dewasa.

Perbedaan juga mewarnai kisah cinta kami. Banyak kali kami bersitegang, hanya karena cita-cita. Hanya karena kesimpulan cinta yang kami sepakati. Aku betul menginginkannya untuk menjadi seorang politisi. Entah apa yang mengorek nuraniku kala itu, pokoknya aku betul mendukungnya untuk menjadi wakil rakyat.

Ada gelagat politik yang sering kulihat, ketika berpapasan dengan bola mata birunya yang menggoda. Bola mata, yang selalu lebih banyak bertutur, meski mulut terkatub rapat. Memang sih, politisi itu kebanyakan rentan terhadap dosa.

Tapi, sudahlah. Sudah saatnya kaum hawa unjuk gigi, kaum hawa memimpin dengan kasih keibuan, kaum hawa menjadi cermin bagi arogansi pria. Sudah waktunya, wanita memainkan lebih banyak peran Maria, yang lebih dekat pada Hukum. Soalnya, menjadi seperti Marta yang sibuk di dapur, itu sudah lumrah.

Berkali-kali kurayu Rymera untuk memenuhi asaku, bahkan sambil mengelus-elus rambutnya yang sering dilaburi minyak kemiri. Momen yang cukup romantis bila dipandang dari jarak cukup jauh, padahal bernadadasarkan tawar-menawar yang pelik. Awalnya ia menolak lalu kami sering bertengkar.

Tapi atas nama cinta, ia mengamininya. Memang, cinta itu juga misteri, masih bisa menang meski senjata dan belati kedapatan letih. Hingga penghujung waktu, ketika aku bersama rumpun keluarganya turut menghantarnya masuk fakultas ilmu politik pada sebuah perguruan tinggi di Kupang, sebuah petaka menodai sucinya cinta kami.

Tepatnya di dermaga Aimere, tanpa banyak kata, aku memutuskannya, karena ternyata seluruh berkas lamaran dan ijazahnya, sudah dikirim ke Malang. Ia memilih menjadi bidan di sana. Ia akan berlabuh seminggu di Kupang, di rumah pamannya, lalu terbang ke Malang. Dengan marah meluap, kuberi dia SMS terakhir, sampai detik ini.

"Hitam Arang / Kuhapus namamu pada keramik merah itu / Dengan hitamnya arang tempurung / Janjimu adalah kebodohanku / Dirimu sesungguhnya dosaku.."
Hilang lenyap, cinta kami kandas di tawar pantai.

***
Kurenggut gelas Megawatiku, kuhabisi isinya dalam sekejap, tanpa jedah. "Racikan yang masih menggigit," kuberbisik sendiri. Tanganku segera manggapai jendela lalu kudorong, dan aku melompat keluar. Boleh jadi, mirip loncatan kuda di padang Sumba. Udara segar dari puncak Nilo menampar wajahku, menyadarkan aku bahwa aku masih berada di lantai tiga.

Setelah cukup lama berbincang dalam kebisuan dengan bebungaan milik seorang sahabat di samping kamarku, aku berniat untuk kembali masuk ke bilikku. Bilik tak terurus dengan sebingkai poster di dinding, bergambarkan para pemain Arsenal FC. Paper Metodologi sedang menanti di sudut sunyi.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help