Politik Cinta

kematian. Gula pasir 2 sendok, kekuningan, lebih cerah dari senja di Krokowolon. Air panas dari cerek biru yang kubeli di pasar Alok, dengan harum yan

Politik Cinta
Dok. Barcelona
Ilustrasi: Seorang pria asal China, Liu Shutong (jongkok), melamar kekasihnya, Liu Panqiu (kanan), dalam sebuah tur di Stadion Camp Nou, Barcelona, Jumat (28/3/2014). 

Cerpen Reinard L Meo

BUBUK kematian. Gula pasir 2 sendok, kekuningan, lebih cerah dari senja di Krokowolon. Air panas dari cerek biru yang kubeli di pasar Alok, dengan harum yang hampir mirip hawa di So'a.

Kesemuanya itu kawin dalam 1 wadah, gelas kaca kebanggaanku, yang kudapatkan dari hasil tabung-menabung, bergambar Megawati Soekarno Puteri dengan tinju mengepal. Gelas, yang rasa-rasanya lebih penting dari sendok, setiap kali waktu makan tiba. Gerakan erotis sang sendok seolah mengusir uap-uap yang segera hilang, tak tahu arah, lenyap, ikuti idealisme masing-masing yang absurd.

Ketika bibirku memagut bibir Megawati, awalnya ragu, berhenti sejenak. Berniat melanjutkan, cemas membayang, gugup juga, tapi kemudian aku bergumam tanpa malu-malu, "Racikan yang sederhana, tapi menggigit."
***
"Nama saya,,,,Rymera.!" Rymera,,,? Nama yang antik, jarang didengar, dan sempat membuatku bingung sendiri awalnya. Kami berkenalan, ketika pertama kulihat dia duduk sendiri, dalam sebuah pesta. Dia itam manis dengan rambut keritingnya yang sengaja ditarik. Berteduh di bawah remang lampu kelap-kelip, ia benar-benar wanita idamanku.

Perkenalan itu kemudian menjadikan kami sepasang madu dan lebah dalam sebuah kembang yang bernama cinta. Yah, pada mulanya adalah gerogi, gerogi itu menerima belis dari nekad, akhirnya..terjadilah! Waktu itu aku dan dirinya sama-sama masih duduk di bangku SMA.

Sebuah sekolah berumur di tepian kota Bajawa, yang tidak mementingkan seberapa banyak siswa lulus UN, tetapi sejauh mana para alumni solider dengan realitas.

Aku masih ingat betul, bagaimana aku mengatakan cinta padanya. Malam itu, ketika gerimis mengintip di balik pohon advokat, kukirimi dia sebuah SMS berisi ayat-ayat sederhana. Sebelum tombol 'ok' pada handphone kutusuk, beberapa 'syair Daud kepada pemimpin biduan' terlebih dahulu berdansa dalam nuraniku.

"Keramik Merah / Kuukir namamu pada keramik merah / Bukti aku mencintaimu / Dengan segala keberanianmu untuk berdosa."

Tak menunggu terlalu bosan, dia membalas ayat-ayatku dengan sebuah tanda centang, dalam waktu tak kurang dari 7 detik. Hanya sebuah tanda centang. Kurang ajar! Sebuah jawaban singkat nan padat tapi kurang jelas. Jawaban yang memang berarti 'ya', tapi seolah tidak menghargai keringatku yang jatuh kala mengukir namanya pada wadah sekeras keramik. "Ha..ha..ha.." aku terbahak sendiri. Mungkin dia merasa bahwa aku terlalu kejam, menuduhya sebagai pendosa, tanpa terlebih dahulu membeberkan alasan.

***
Dalam perjalanan asmara, kami berdua mendapati banyak kesamaan pun pula tolak belakang. Satu kesamaan yang paling mencolok ialah konsep kami tentang cinta. Kami berdua sepakat, cinta itu tidak hanya pada awal perkenalan di tempat pesta. Cinta itu bukan soal keramik merah atau tanda centang.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved