Tamu Kita

Dorce Lussi: Awal Usaha Diprotes Suami dan Anak

Salah seorang wanita asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang peduli terhadap kelestarian budaya kain tenun ikat NTT adalah Dorce Lussi.

Dorce Lussi: Awal Usaha Diprotes Suami dan Anak - ina_nado_(1).JPG
POS KUPANG/NOVEMY LEO
POS KUPANG/NOVEMY LEO DORCE --- Dorce Lussi, pemilik usaha Sentra Tenun Ikat Ina Ndao, Lembaga Diklat Bisnis Diplomat Service (BDS), dan Rumah Tenun Rote Keluarga Cinta Budaya di Kupang, Sabtu (7/3/2015) siang.
Dorce Lussi: Awal Usaha Diprotes Suami dan Anak - ina_nado_(3).JPG
istimewa
KELUARGA --- Dorce Lusi bersama suami dan dua dari tiga anaknya, serta ibunya, dalam acara nikah perak mereka, di Kupang, beberapa waktu lalu.

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Salah seorang wanita asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang peduli terhadap kelestarian budaya kain tenun ikat NTT adalah Dorce Lussi. Wanita asal Pulau Ndao, Kabupaten Rote Ndao-NTT ini sangat gencar memproduksi dan memperkenalkan keunikan dan keindahan kain tenun khas NTT ini pada masyarakat di luar NTT, termasuk di dunia.

Bahkan Dorce juga gencar memproduksi dan memberikan pelatihan sekaligus bimbingan terhadap masyarakat agar bisa membuat kain tenun ikat NTT yang berkualitas. Dari semula hanya bekerja sendiri di bawah pohon asam dan kusambi, kini Dorce sudah memiliki banyak tenaga kerja dan mempunyai Sentra Tenun Ikat Ina Ndao, Lembaga Diklat Bisnis Diplomat Service (BDS), dan Rumah Tenun Rote Keluarga Cinta Budaya di Kupang.

Bagaimana Dorce mengawali kariernya dan apa saja suka duka, tantangan dalam menjalankan usahanya dan upaya pelestarian kain tenun khas NTT ini? Semuanya disampaikan Dorce dalam wawancara eksklusif dengan wartawan Pos Kupang, OMDSMY Novemy Leo, di kediamannya, Sabtu (7/3/2015) siang.

Mengapa Anda menggunakan Nama INA NDAO untuk tempat usaha Anda?
Nama Ina Ndao itu sarat makna. Hal itu saya gunakan sebagai wujud rasa penghargaan tinggi saya kepada orangtua dan tanah kelahiran saya. Kata Ina dalam bahasa Rote Ndao adalah sebutan untuk ibu. Dan, kata Ndao diambil dari tempat kelahiran saya, Pulau Ndao. Maknanya nama INA NDAO bahwa saya tidak akan pernah melupakan jasa-jasa dari ibu saya dan juga tidak akan pernah melupakan tempat kelahiran saya itu.

Apa suka duka yang Anda dialami dalam merintis usaha ini?
Dukanya, pada awal saya memulai usaha ini saya menghadapi banyak tantangan dan kesulitan, terutama dalam hal dana atau modal, juga kesulitan dalam menjalani kehidupan saya. Di awal merintis usaha ini, saya banyak mengorbankan kepentingan dan keinginan pribadi saya, waktu, tenaga dan pikiran. Saya harus mengerjakan pesanan tenun ikat yang sangat banyak dari pelanggan hingga seringkali saya mengabaikan keluarga. Dan karena itu, suami dan anak-anak seringkali protes.

Namun puji Tuhan, karena semua pengorbanan yang pernah saya lakukan itu kini sudah membuahkan hasil yang baik bagi saya dan keluarga serta masyarakat NTT. Sementara itu sukanya bahwa saya menjadi lebih mandiri dalam menjalani kehidupan ini. Saya juga bisa tahu bagaimana keindahan dan keanegkaragaman motif dan keunikan tenun ikat dari setiap daerah di dalam dan dari luar NTT.

Bahkan sekarang ini saya akhirnya bisa membuat motif tenun ikat dari berbagai daerah di NTT. Bisa membagikan ilmu saya kepada masyarakat NTT bahwa bisa ikut serta membantu melestarikan budaya, khususnya tenun ikat khas NTT ini di dalam maupun di luar NTT. Saya juga bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat NTT. Saya senang dan bahagia, karena meski hanya menjadi bagian kecil, tapi saya juga sudah ikut berupaya melestarikan budaya tenun ikat khas NTT.

Berapa modal awal usaha Anda?
Saat awal, memang banyak kendala dalam pengembangan usaha ini. Orang mungkin tak percaya jika saya menceritakan pengalaman saya ini. Saya memiliki keterampilan bisa membuat tenun ikat dengan motif Rote Ndao. Saya diajari oleh mama saya. Saya anak tunggal sehingga sejak kecil, saya selalu menemani mama saat mama membuat tenun ikat.

Saya mulai dari menggulung benang hingga saya bisa menenun. Modal awal saya hanya Rp 20.000 dan itu saya dapat dari keuntungan menjual tanaman bonsai pagar di polibek seharga Rp 500,00 per polibek. Uang Rp 20.000 itu lalu saya gunakan untuk membeli benang, rafia dan periuk tanah. Sedangkan alat tenunnya, saya gunakan bambu dan katu yang disambung-sambung. Lalu saya mulai membuat kain tenun bersama mama dan mama mantu saya.

Kain tenun pertama yang dihasilkan, saya jual seharga Rp 50.000. Lalu saya putar untuk modal lagi dan akhirnya bisa membuat lebih banyak kain tenun dari hari ke hari sesuai pesanan. Selanjutnya barulah saya dibantu oleh pemerintah dan pihak swasta dan akhirnya saya bisa memiliki pusat kerajinan tenun ikat khas NTT Ina Ndao di Kupang dan juga bisa memiliki balai diklat.

Halaman
1234
Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help