Helena

KABAR kematianya terlalu cepat beredar, secepat kilat menyambar kelabunya senja di tengah rinai hujan. Mungkin, karena sosok yang tergeletak itu adala

Helena
Net
Ilustrasi

"Selama tak kau sesali terbitnya matahari di ufuk barat, maka perubahan pasti ada. Helena, engkau harus yakin bahwa perubahan pun dapat ada pada orang yang tak berpengaharapan sekalipun. Perubahan itu ada bersama kita di detik ini, saat matamu sendu menanti harapan.

"Kataku pelan meyakinkan. Aku hanya ingin ia tenang dalam setiap detik bersamaku. "Baringkan tubuh pada hangatnya kasur itu. Peluklah mentari bersama asa dalam mimpimu sekuat mungkin agar engkau tahu Helena bahwa mentari pasti akan datang esok bersama asa yang baru. Begitulah perubahan.

"Lalu, kubiarkan ia berbaring pada hangatnya malam. Di luar bulan pecah sebelah temani malam kelam, sekelam hidup kami: menunggu akhir kisah dua kekasih yang telah menjadi kurir narkoba.
***
Hari masih terlalu dini untuk kunamakan pagi. Bulan masih bergelantung menghiasi langit pucat. Ataukah aku salah menamakan waktu sekarang ini? Ah, tak apalah. Lagian, siapa yang akan menggubris tentang keadan ini. Koruptor saja masih dilindungi oleh aturan. Seolah-olah tak ada aturan hukum. Maka, tidak apalah lagian tak ada aturan untuk menamakan waktu.

Jika ada pun tak ada yang tahu bahwa aku sedang mempersalahkan waktu. Mungkin ini juga cara yang tepat untuk menyalahkan waktu yakni dengan diam-diam protes terhadapnya.

Langkahku berhenti pada via setapak ini. Mataku menemukan segerombolan manusia sedang berkelana dengan matanya masing-masing. Mereka ada di rumah itu. Tempat kubaringkan Helena semalam. Tempat Helena bermimpi bersama mentari yang berdikit perlahan.

Tempat Helena memeluk mentari yang membawa asa baru dalam hidupnya. Seorang masih memaksa Helena untuk mengatakan sesuatu.

Namun, ia tetap tenang tak menjawab apapun. Perlahan mereka berlalu bersama pudarnya gelap. Helena dibawah pergi bersama mereka. Aku rebah perlahan pada via setapak ini. Mengguyuri pipi dengan beningnya air mataku. Helena pergi saat mentari belum datang. Mimpinya belum menjadi kenyataan.

"Itu bukan perubahan, Helena. "Mataku yang bernanah terus memandang mobil yang membawa pergi Helena. Helena pergi bersama harapan yang belum menyata.

***
Aksara bertanggal ini kuremas lalu kubantingkan kelantai berdebu. Adrenalinku sesak. Aku tak tahu harus kemana dan bagaimana. Sedang, di sana ajal menanti Helena. Ia akan mati ditangan seorang penembak yang menggantikan El untuk menentukan hidup. Itulah hukum. Kakiku terus melangkah pada panasnya trotoar ini. Mataku tak pedulikan hiruk-pikuknya roda empat di jalan ini. "Helena tak takut mati. Tapi ia hanya butuh waktu untuk berubah.

"Pikiranku sesak terisi oleh Helena. Tepat ditikungan itu, kurasakan gelap menghimpitku. Sangat gelap. Mataku pudar. Dingin. Aku hanya punya senyum terbaik. Sebuah perubahan. "Helena aku pun memeluk mentari bersamamu: kematian."

* Mahasiswa STFK-Ledalero

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved