Video Tamu Kita

VIDEO: Clemens Korohama Tidak Pelit Ilmu

Data dan administrasi pembukuan di wilayah RT 06/ RW 02 Kelurahan Naikoten 2 , Kota Kupang, sangat lengkap, rapi dan terperinci.

VIDEO: Clemens Korohama Tidak Pelit Ilmu
POS KUPANG/NOVEMY LEO
KOROHAMA --- Clemens Korohama, Ketua RT/6 RW 3 Kelurahan Naikoten 2, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, bersama istrinya, Rosalin Neparasi, dengan sejumlah produk kerajinan daur ulang dari kertas koran di Corohama Home Industri, Sabtu (14/2/2015). 

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Data dan administrasi pembukuan di wilayah RT 06/ RW 02 Kelurahan Naikoten 2 , Kota Kupang, sangat lengkap, rapi dan terperinci. Mau minta atau memerlukan data apa saja mengenai warga dan potensi di wilayah tersebut, semuanya terdata rapi di dalam buku.

Semua itu berkat ketekunan, ketelitian dan tanggung jawab seorang Ketua RT bernama Clemes Korohama alias Opa Korohama. Selain dikenal dekat dengan masyarakatnya, Opa Korohama juga aktif menyukseskan program-program kelurahan, termasuk program Kelurahan Ramah Anak.

Bahkan diusianya yang ke-68 tahun ini, opa Korohama masih kreatif membuat kerajinan tangan dari limbah koran bekas di Korohama Home Industri di Jalan P da Cunha Nomor 43. Talentanya itu tidak saja bermanfaat bagi keluarga, namun juga masyarakat di sekitarnya.

Bagaimana Klemens Corohama menjalankan perannya sebagai ketua RT di sana dan apa manfaat home industrinya? Semuanya diceritakan kepada wartawan Pos Kupang, OMDSMY Novemy Leo, di Kupang, beberapa waktu lalu.

Sejak Kapan Anda memulai kegiatan membuat kerajinan daur ulang dari kertas koran?
Saya memulai kegiatan ini sejak bulan November 2010 lalu. Saat itu saya duduk- duduk dan berpikir bagaimana caranya agar kertas koran itu bisa dimanfaatkan. Dan, saya mulai berpikir untuk mengolah kertas-kertas koran itu menjadi suatu kerajinan yang indah dan bisa dimanfaatkan. Dan, saya mulai membayangkan caranya dan mulai mencari koran bekas untuk kemudian melakukan praktek.

Bagaimana awalnya Anda memperoleh kertas koran untuk membuat kerajinan itu? Dan, produk apa yang pertama kali Anda buat?
Tidak ada cara lain. Saya ke rumah warga dari satu rumah ke rumah lain untuk meminta koran bekas. Dan, mereka dengan senang hati memberikannya kepada saya. Lalu saya bawa pulang dan mulai mempraktekkan caranya. Pertama kali saya membuat kap lampu. Itu kamu bisa lihat hasilnya di atas teras rumah saya ini (sambil menunjuk kap lampu yang ada di atas plafon rumahnya).

Caranya, koran yang ada saya gunting lalu gulung dan rendam dalam air kemudian mulai dibentuk sesuai yang diinginkan. Setelah itu, barang yang sudah jadi itu dijemur selama 2-3 hari, kemudian dipelitur sehingga bisa bertahan lama. Awalnya, beberapa kali saya gagal, namun saya tidak menyerah. Saya mencoba terus hingga akhirnya saya tahu bagaimana cara membentuk atau mendaur ulang kertas koran itu dengan baik dan benar.

Lalu saya mencoba membuat piring makan dan tempat tisu, juga tempat sirih dan lain-lainnya. Sekarang ada sekitar 20-an macam bentuk atau benda yang bisa saya buat dari daur ulang kertas koran itu. Dan, saya tidak kesulitan untuk mendapatkan koran bekas karena warga sekitar sini juga kerabat saya serta para pejabat di Pemkot Kupang maupun provinsi, sering datang ke sini dan memberikan saya koran bekas. Saya mendapat koran bekas secara gratis.

Modal usahanya bagaimana?
Modal usaha awal hanya Rp 500.000. Itu saya dapat pinjaman dari dana PEM. Modal itu saya manfaatkan semaksimal mungkin dan kini usaha saya sudah cukup berkembang. Lurah saat itu memang sangat mendukung usaha saya ini.

Sekarang saya melayani pesanan, juga pembelian secara langsung. Banyak orang lokal, juga orang luar NTT, bahkan dari luar negeri yang datang ke tempat usaha saya ini untuk membeli produk dan juga belajar cara membuatnya.

Halaman
1234
Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved