PosKupang/

Jurnalisme Warga

UN Bukan Penentu Kelulusan

Terhadap informasi ini, sedikitnya membuat para kepala sekolah, guru-guru dan siswa

UN Bukan Penentu Kelulusan
Net
Ilustrasi 

Oleh Maksimus Masan Kian

POS KUPANG.COM - UJIAN Nasional (UN) tahun 2015 di tahun ajaran 2014/2015 tidak lagi sebagai penentu kelulusan siswa. Demikian keputusan yang diambil Kementerian Pendidikan Nasional, Anies Baswedan.

Menurut Anies Baswedan, UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan siswa, namun fungsi UN untuk pemetaan dan syarat melanjutkan pendidikan pada jenjang di atasnya. Hasil UN dapat digunakan untuk melihat posisi siswa, sekolah, dan daerah secara nasional. Hasilnya bukan lulus atau tidak lulus, tapi yang dilihat adalah angka.

Terhadap informasi ini, sedikitnya membuat para kepala sekolah, guru-guru dan siswa merasa bahwa UN tidak lagi sebagai sebuah ujian yang menakutkan dan menyeramkan. UN tidak lagi menjadi anak emas yang selalu mendapat prioritas perhatiaan nomor satu.

Namun disisi lain, dengan menghilangkan UN sebagai penentu kelulusan siswa, maka bisa jadi kita (Negara Indonesia,Red) tidak memiliki sebuah patokan standar nilai secara nasional yang kemudian nilai itu bisa menjadi pembanding pada tingkat internasional. Selain itu bisa jadi siswa dan guru tidak lagi serius mempersiapkan diri dalam menghadapi UN.

Beberapa kepala sekolah di Kabupaten Flores Timur, yang diwawancarai penulis pada Minggu (18/12/2014), di antaranya Kepala SMP Negeri 3 Tanjung Bunga di Laka, Hans Kelen mengatakan, secara pribadi dirinya setuju dengan penentuan kelulusan siswa dikembalikan ke satuan pendidikan masing- masing. Dasar pemikirannya adalah bahwa sekolah lebih mengenal dan memahami perkembangan kemampuan siswa. Menilai siswa kan tidak cukup dengan melihat dari aspek kognitif tapi perlu juga memperhatikan aspek lainnya seperti psikomotorik dan afektif.

Kepala SMK Kesehatan Sura Dewa Larantuka, Ahmad M. Kasim, A.Kep, M.Kes. mengatakan bagi dirinya wajar saja, karena selain penilaian pada aspek pengetahuan, aspek lain yang patut mendapat penilaian adalah aspek ketrampilan dan juga sikap siswa. Terkait ketrampilan dan sikap yang mengetahui persis adalah guru di sekolah. Namun harus diingat, jika penentuan kelulusan siswa menjadi hak penuh satuan pendidikan, maka sekolah hanya mengambil standar nilai minimal untuk menentukan kelulusan, tidak ada alat kontrol sebagai pembeda antara satu sekolah dengan sekolah yang lain.

"Kita tidak memiliki sebuah kategori nilai yang kemudian bisa menjadi standar nasional sebagai pembanding dengan negara lain. Saya berpendapat bahwa dengan kondisi ini, kita orang Indonesia tidak bisa bersaing,"kata Ahmad.

Selain kedua kepala sekolah ini, Kepala SMP Negeri Satu Atap Bilal, Adonara Timur, Aloysius Beda Sabon juga menyatakan pendapatnya tentang UN tidak lagi sebagai penentu kelulusan siswa. Sabon mengatakan, dari sisi positif menurut guru dan siswa, UN tidak lagi menjadi sebuah ujian yang menakutkan dan atau meyeramkan bagi guru maupun siswa. Siswa bisa masuk di ruang ujian dengan psikologi dan mental yang baik. Namun bukan berarti kepala sekolah, guru dan siswa tidak serius dalam menyiapkan siswa menghadapi UN.

Di sekolahnya, lanjut Sabon, tidak lagi memikirkan pada
tataran siswa lulus atau tidak lulus, tapi bagaimana menyiapkan diri untuk meningkatkan kualitas lulusan. Nilai akhir yang didapat siswa harus tinggi, karena satu hal yang pasti bahwa saat siswa melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi, nilai menjadi acuan dalam seleksi penerimaan siswa di SMA dan mahasiswa baru pada Perguruan tinggi (PT).

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaraga (PPO) Kabupaten Flores Timur Drs. Bernadus Beda Keda saat dikonfirmasi pada Minggu (18/12/14), mengatakan sampai saat ini, Petunjuk Operasional (POS) UN 2015 belum ada. Kebijakan - kebijakan pusat terkait UN, baik secara struktur maupun secara teknis operasional belum diketahui persis.

Menurut Kadis, yang paling penting sekarang adalah bagaimana sekolah dalam hal ini, kepala sekolah, guru dan orangtua menyiapkan kondisi yang baik untuk anak bisa mendapatkan nilai UN secara standar, bisa diterima pada sekolah-sekolah bermutu baik pada jenjang diatasnya, dan bisa diterima pada perguruan tinggi. "Kami akan siap melakukan sosialisasi terkait UN tidak lagi sebagai penentu kelulusan siswa, manakala petunjuk teknis sudah kami terima," kata Bernad. *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help