Andre Koreh: Mengubah Mental Tuan Menjadi Pelayan

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir. Andreas Wellem Koreh, MT sangat menikmati pekerjaannya.

Andre Koreh: Mengubah Mental Tuan Menjadi Pelayan
PK/VEL
Ir. Andreas W Koreh, MT, Kepala Dinas Pekerjaan Umum NTT 

Dan, jalan kabupaten sepanjang 13.000 km dan kurang dari 30 persen yang kondisinya masih baik. Ada standar pelayanan minimun dari Kementerian PU bahwa tahun 2019 mendatang 70 persen ruas jalan sudah harus baik. Tapi apakah hal itu bisa diwujudkan di NTT, sementara anggarannya sedikit?

Tentu tidak bisa. Namun kami tetap berharap janji Presiden Jokowi bahwa ada penghapusan subsidi BBM guna dialihkan ke kebutuhan lainnya itu, bisa `lari' juga ke infrastruktur di NTT.

Untuk Bidang Cipta Karya, bagaimana?
Untuk cipta karya, Menteri PU mengatakan tahun 2019 harus tercapai target 100-0-100. Artinya di tahun 2019, harus 100 persen penduduk terlayani air minum bersih; nol persen kawasan kumuh dan 100 persen sanitasi dan tata ruang. Tapi saat ini baru 35 persen penduduk di desa dan kota yang terlayani air minum bersih.

Untuk bisa memenuhi target menteri PU itu, maka tidak ada pilihan lain yakni harus ada penambahan anggaran ke NTT. Saya dan teman-teman selalu berjuang untuk bisa terjadi peningkatan anggaran setiap tahun dan memang ada peningkatan, namun tetap belum sesuai harapan.

Menurut saya, jika kita terus menggunakan pola anggaran DAU dan DAK yang disesuaikan dengan jumlah penduduk dan wilayah, maka sampai kapan pun NTT akan selalu mendapatkan dana sedikit dari pusat. Karena penduduk kita hanya 5 juta dibandingkan penduduk Jawa yang 80-an juta. Untuk itu harus ada terobosan, direktur presidium secara khusus yang mengalokasikan dana untuk percepatan infrastruktur ke Indonesia Timur.  

Perumahan targetnya ada 60.000 unit rumah dan 11.000 dibangun oleh MBR, namun saat ini bermasalah. Dan, saat ini masih ada 500.000 rumah yang tidak layak huni. Sementara dinas PU baru membangun 400 unit rumah.

Bagaimana dengan Bidang Pembinaan Jasa Konstruksi?
NTT punya sekitar 4.000 lebih kontraktor. Namun hanya 20 persen kontraktor yang bisa melakukan pekerjaan tertentu dan 80-an persen lainnya belum bisa. Agar bisa meningkatkan kemampuan SDM dari 80 persen kontraktor itu, PU membuka ruang seperti ada pelatihan dari tingkat pusat maupun provinsi.

Harapannya, ya itu tadi, agar setiap kontraktor di NTT bisa bersaing dengan bebas dan siap menghadapi Masyarakat Ekonomia Asean (MEA), perdagangan bebas. Jika kontraktor tidak membekali dirinya dengan kemampuan SDM dan modal yang kuat, bisa saja kontraktor dari negara ASEAN merebut 'lahan' ke Indonesia, termasuk ke NTT, apalagi jika sudah ada persaingan bebas.

Sekarang saja, di mana pelelangannya sudah menggunakan sistem online atau menggunakan internet, toh masih saja ada kontraktor yang gaptek alias gagap teknologi. Bagaimana dia bisa tahu dan mengikuti lelang jika tidak tahu buka internat. Ingat, bahwa siapa yang gaptek pasti akan kalah bersaing.

Suka duka Anda memimpin Dinas PU NTT?
Bagi saya sepertinya tak ada dukanya. Saya selalu merasa sukacita di manapun saya ditempatkan untuk bekerja. Mungkin ada dukanya tapi saya anggap duka itu adalah bagian dari sukacita dan harus saya jalani dalam kehidupan ini. Ada satu prinsip atau 'dogma' yang selalu saya tanamkan pada diri saya, juga pada diri setiap karyawan/ti di dinas PU.

Bahwa, di era keterbukaan seperti sekarang ini dimana tuntutan masyarakat sangat tinggi terhadap PU, maka karyawan/ti PU harus bisa melindungi diri. Melindungi diri dengan cara bagaimana? Caranya tegakkan aturan dan Takut Tuhan. Diri kita hanya bisa dilindungi oleh Tuhan dan aturan.

Artinya, setiap kita harus benar-benar tahu dan paham tentang berbagai aturan terkait bidang kerja masing-masing, jika kita tidak tahu dan tidak paham aturan, maka bisa-bisa kita masuk bui. Karena itu, setiap kita harus rajin membaca dan mencari tahu serta memahami berbagai aturan yang baru. Kalau perlu beli buku atau cari di internet lalu sharing dengan teman-teman.

Dengan demikian dalam bekerja, setiap kita tidak akan salah langkah karena bekerja berdasarkan aturan yang berlaku. Dan, kita juga akhirnya tidak terjerumus ke dalam persoalan hukum. Dan, di luar itu semua, bahwa kita juga harus rajin berdoa, dekat dengan Tuhan karena Tuhanlah yang bisa melindungi kita. Selain itu juga, kita harus rendah hati.

Rendah hati, maksudnya?
Ya, siapapun manusia, tentu dia tidak akan terlepas dari perbutan salah dan keliru dalam menjalani kehidupannya. Dan, sebenarnya jika orang mau mencari kesalahan kita, pasti akan menemukannya. Jika tidak rendah hati, maka kita bisa lupa diri dan mungkin akhirnya kita bisa terlibat kasus hukum.

Tapi jika kita selalu rendah hati dengan siapa saja, maka mungkin orang itu bisa memaafkan kita jika kita berbuat salah. Tentu saja selama kesalahan yang kita buat itu benar-benar tidak ada niat jelek. Karena itu, sering juga saya tekankan kepada setiap karyawan/ti PU untuk bisa memiliki sifat dan sikap rendah hati terhadap siapapun.

Kita berbuat baik saja sering orang masih mencari kesalahan dan menyalahkan kita, apalagi jika kita berbuat keliru. Dan, saya pun selalu mendapat kritik dari masyarakat.

Bagaimana Anda menyikapi kritikan masyarakat itu?
Banyak masyarakat yang `menyorot' dan mengkritik saya bahwa masih banyak pembangunan infrastruktur yang belum selesai dan belum maksimal dilakukan. Dan, masyarakat menilai itu adalah kegagalan dan ketidakberhasilan dinas PU dan saya pun dinilai gagal. Menilai seseorang gagal atau tidak, bagi saya itu merupakan penilaian subyektif.

Untuk dinas PU, jika dikirtik dan dinilai, maka nilainya sesuai dengan apa yang kami miliki dan telah kami kerjakan. Contohnya saja, jika dana proyek yang akan dikerjakan itu seharusnya senilai Rp 4 triliun, namun kenyataannya kita hanya dapat Rp 300 miliar, maka nilai hasil kerja itu sesuai dengan nilai yang Rp 300 miliar itu, bukan yang nilainya Rp 4 triliun.

Tapi saya mau katakan bahwa sebagai seorang pemimpin, kita harus siap menerima kritik yang sifatnya membangun. Namun bagaimanapun hendaknya kritik itu juga disampaikan dengan cara yang santun dan disertai dengan saran yang bisa jadi pertimbangan untuk perbaikan misalnya. Dan, saya pribadi selalu siap menerima kritikan itu.

Apa sih target dan mimpi dari seorang Kadis PU NTT?
Mimpi saya hanya satu. Dalam menjalani kehidupan dan pekerjaan, bagaimana saya bisa terus memberikan sikap yang baik dan bisa terus menjadi berarti sesuai kemampuan yang saya miliki itu bagi masyarakat.

Tipe saya adalah pekerja keras dan bekerja dengan totalitas sesuai kemampuan yang saya miliki. Jika ada persoalan atau tantangan, saya tidak akan menghindar, apalagi melawannya. Bagi saya persoalan itu harus dihadapi dan kita harus bisa berjalan `beriringan' dengan persoalan itu sehingga bisa menemukan apa yang menjadi akar masalahnya untuk kemudian dicari jalan keluarnya. *

Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved