PosKupang/

Model Berpengetahuan

Universitas Kehidupan Versus Universitas Modern

Karena itu, tidak ada kesuksesan berpengetahuan yang terisolasi antara dunia yang satu dengan dunia yang lainnya

Universitas Kehidupan Versus Universitas Modern
Ne
Universitas Flores 

Oleh Jonatan A Lassa
Research Fellow di RSIS Singapore dan Research Advisor  IRGSC Kupang

DUNIA maya dan dunia nyata dalam seminggu ini diramaikan oleh fenomena soal pilihan Jokowi dalam Kabinet Kerja. Komentar para ahli soal kualitas pilihan Jokowi bervariasi, tergantung tingkat kedekatan personal, ideologi maupun kerangka teori masing-masing. Salah satu yang menarik perhatian masyarakat adalah pada fenomena Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Artikel ini bukan membahas soal pendidikan Ibu Susi, tetapi menjelaskan soal model berpengetahuan di bawah kolong langit ini.

Seperti yang didengar dan dilihat tentang berbagai komentar vulgar, sexis, fisik dan bias jender ditujukan pada sang menteri. Menariknya, salah satu komentar langsung dan agak pedas datang dari 'dunia orang pintar' yakni pakar ilmu kelautan dari Institut Teknologi Bandung. Sang pakar, Muslim Muin, mempertanyakan "apakah Susi paham mengenai teknologi kelautan, marine products economics, coastal processes, dan underwater technology. Toh, baginya, kepakaran Ibu Susi hanyalah tentang penangkapan dan penjualan ikan."

Mungkin benar bahwa dunia kelautan dan perikanan bukan soal tangkap ikan semata.  Ada hal yang kompleks tentang  kelautan dan perikanan. Karena itu diperlukan seorang manajer (menteri) yang setidaknya mau mengerti seluk beluk makro dan mikro dunia kelautan dan perikanan. Karena kita hidup dalam dunia yang semakin terspesialisasi, maka jelas tidak ada seorang pun yang menjadi ahli di semua bidang. Karena itu, komentar soal perlunya seorang superman atau superwoman menjadi menteri menjadi tidak terlalu relevan. Yang diperlukan adalah seorang pembelajar tangguh yang mampu mengambil keputusan dan bertindak.

Bagaimana Anda mendekati masalah di atas? Setidaknya tiga model utama dalam berpengetahuan di era moderen. Pertama, model Sekolah Kehidupan atau Universitas Kehidupan.  Kedua, sekolah formal ataupun universitas (perguruan tinggi). Ketiga, adalah gabungan antar keduannya atau hibrida.

Sekolah dan Universitas Kehidupan
Sekolah kehidupan atau universitas kehidupan adalah model berpengetahuan yang dihasilkan secara langsung di 'dunia nyata', realitas hidup sehari-hari. Jadi, untuk menjadi seorang ahli bangunan ataupun pelaut, si pembelajar membutuhkan waktu yang cenderung lama untuk diakui sebagai ahli bangunan. Sistem pembelajaran adalah in-situ (langsung di tempat), dengan mentor baik dari refleksi pribadi atas trial and error alias coba-coba, maupun secara paternalistik (langsung melalui tuturan orang tua ataupun praktisi yang lebih tua). Tergantung konteks (jaringan, waktu dan tempat), model ini bisa menghasilkan orang yang cerdas dan kompeten dalam berbagai bidang, termasuk yang kita lihat hari ini melalui salah satu Menteri Kabinet Kerja.

Model berpengetahuan ini semakin ditinggalkan karena beberapa faktor. Di masa yang lalu, kelemahan model ini adalah berbasis verbal dan pengalaman langsung dari si murid maupun si mentor. Pelajaran-pelajaran umumnya tidak memiliki horizon waktu yang panjang karena sangat subyektif dan kontekstual. Pengetahuan yang didapat tidak didokumentasikan secara sistematis dan gampang hilang ditelan waktu.

Kelemahan model ini, umumnya membutuhkan waktu yang lama dan rata bisa mencapai dua hingga empat puluhan tahun untuk mencapai kualifikasi mumpuni. Dalam dunia kini, model ini mungkin akan mengalami modifikasi dalam konteks kekinian ketika sumber-sumber bacaan dapat dengan lebih mudah diperoleh dibanding lampau.

Universitas Sebagai Dunia Buatan
Dalam studi sosial, khususnya dalam konteks Jerman, universitas terkadang disebut sebagai sebuah realitas buatan yang diproduksikan dan terlembagakan dan menjadi mekanisme yang tereplikasi sendiri karena beberapa keunggulan yang secara historis terbukti bermanfaat.

Fungsi yang pertama adalah sekolah mengambil jarak dari kompleksitas masyarakat, menyederhanakan realitas dalam suatu lingkungan yang artifisial agar dalam lingkungan buatan yang bernama sekolah/universitas, para murid/siswa/mahasiswa dapat dipersiapkan dengan lebih sistimatis, metodis dan praktis untuk kembali menghadapi kompleksitas realitas sosial. Fungsinya yang kedua, adalah  mengambil jarak dan untuk sementara waktu, memutuskan hubungan dengan segi-segi negatif dan destruktif dari masyarakatnya, sang murid/siswa dapat disiapkan justru untuk menghadapi segi-segi negatif tersebut dengan persiapan yang lebih matang dengan sikap yang lebih kritis.

Halaman
123
Editor: benny_dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help