Lelaki Lamaknen

DI BAWAH tiang bendera ada barisan kecil. Rapi. Seseorang, berbaju kotak-kotak agak lusuh, disisipkan di dalam sarung Timor yang merah menyala

Aku bergegas mencium tangan kakek, lalu ke sekolah.  Di kejauhan teman-teman sudah berkumpul di bawah pohon ketapang besar tempat kami berkumpul sebelum kelas dan saat bersenang.
"Teman-teman, itu Julio, kita pung kawan..., slamat pagi bro.."
"Julio, kau punya seragam di mana??"

Semua mata tertuju pada Julio. Lelaki itu tertunduk lesuh. Tak banyak yang tahu kalau di hampir seluruh kulit badannya ada semacam borok.
"We kasihan kawan, dia punya kulit terluka.., kemarin dulu mereka mandi di kali., dia punya kawan tiga orang ada masuk  Puskesmas..."
"Terus kenapa dia ada di sini? Dia kan harus dirawat di Puskesmas juga toh?"
"Iya Bro, tapi kamu tahu toh., dia punya orangtua susah..."

Julio menghindar dari kumpulan kami. Ia memang sudah biasa begitu. Peliknya hidup membuatnya merasa minder. Ia anak petani kopi di desa itu, namun belakangan kebun kopi tak memberi harapan. Tanah tak lagi memberi hasil meski sekedar untuk konsumsi di rumah. Ayahnya kembali menanam jagung bila musim hujan tiba. Namun lagi-lagi tanah tak terlalu memberi hasil.

"Sekarang ini Lamaknen su berubah, Anak..." Kakek menyambung ceritanya. "Dulu waktu orang-orang datang ke sini, mereka senang skali bisa hirup udara segar. Malah banyak juga yang jatuh cinta dengan Lamaknen dan orang-orang Lamaknen..."

"Termasuk saya punya Bapa juga toh Ba'i..??"
"Hahahaha, kalo itu kau tanya saja kau punya Nene. Aiii.., seandainya dia masih hidup e..." Kakek terdiam sebentar. Kubiarkan dia bernostalgia dengan ingatan dan perasaannya pada kisah hidup, cinta dan pengorbanannya kepada Omaku yang kini sudah beristirahat dalam damai.

Kakek terus bercerita saban senja, ketika mesin-mesin tambang itu terus bergemuruh. Dari cerita kakek, aku membayangkan masa lalu kampungku yang kini terluka. Ada aroma khas kampung, anak-anak pasti sedang berlari ceria di sekitar sini. Sekarang semuanya seperti berkabung duka. Carutan tanah, pohon-pohon tertidur, semuanya digusur oleh tangan-tangan asing. Tak satu pun yang aku kenal di antara orang-orang itu.

Kampung yang dulunya damai, kini ramai oleh lalu lalang kendaraan proyek. Dari hati kecilku timbul amarah, dendam, dan kebencian. Darah mudaku memaksaku untuk segera bertindak, atas nama orang-orangku, atas nama Lamaknen yang terluka.

"Tanah ini memang tanah yang terlalu kaya Nak... dulu waktu kau punya mama masih muda, keluarga Ba'i tidak pernah kuatir dengan uang. Penghasilan cukup untuk kehidupan kami, bahkan cukup untuk biaya sekolah kau punya mama dan kau punya Om..."

"Nah, terus kenapa sekarang jadi begini Ba'i? Orang-orang itu, mereka asal dari mana? Kenapa mereka kasi hancur kita punya tanah Ba'i..,"
"Ai Nus... Nus.., nanti suatu saat ju kau akan mengerti ini semua, sekarang belum saatnya, lebih baik kau pikir kau punya sekolah saja..."

"Tapi kasihan kita punya orang-orang toh Ba'i. Tadi di sekolah, Julio Tida pake seragam. Dia pung badan luka samua. Mereka bilang kemarin dulu pulang skolah, mereka pi mandi di kali. Habis mandi begini, mereka punya badan luka smua. Ibu guru bilang, mereka kena limbah dari itu tambang Ba'i..."

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help