Lelaki Lamaknen

DI BAWAH tiang bendera ada barisan kecil. Rapi. Seseorang, berbaju kotak-kotak agak lusuh, disisipkan di dalam sarung Timor yang merah menyala

Cerpen Herman J Bataona
   
DI BAWAH tiang bendera ada barisan kecil. Rapi. Seseorang, berbaju kotak-kotak agak lusuh, disisipkan di dalam sarung Timor yang merah menyala. Ia menatap matahari yang tersembunyi di balik kibaran Sang Merah Putih di ujung tiang bambu itu. Usai penghormatan, ia mengeluarkan sehelai kertas kusam, dibukanya dengan tangan sedikit gemetar.....

"Di antara luluh-lantak  ini..
Kami mencari damai..
Dalam letih siang dan malam..
Kami masih di sini.. berteriak...
Atas nama leluhur dan anak cucu kami
Kami masih ingin menangis..
Tapi air mata kami sudah habis.
Untukmu persada Ai Tameak..

Terpaksa... kami berjuang dengan sisa napas..
Parau suara ini hanyut...
Dalam rimba hatimu wahai para konglomerat..
Air mata luluh hampa...
Dalam belantaramu wahai rezim kami
Gerigi buldoser pembangunanmu terlalu sakit.
Kami tergusur... terhimpit... Terbuang kini di negri sendiri...
Oh Lamaknen.. terpaksa kami harus mengemis...
Dikaki para pencaplok dan pencuri warisan kami.
69 tahun Merdeka... Tapi terjajah bangsa sendiri..
Sampai kapankah semua kepahitan ini...???

Lelaki itu berhenti sejenak, menatap lagi pada awan di balik Sang Merah Putih yang berkibar. Menunduk dan air mata itu jatuh lagi.
Aku Tinus. Lengkapnya Martinus Raya. Lahir di bumi Lamaknen sepuluh tahun yang lalu, ketika gerimis tiris lewat atap alang-alang rumah kakek, tempat ibu lahir dan dibesarkan. Ya kami memang orang asli Ai Tameak - Lamaknen.

Dari balutan lebam di sekujur kulit tubuh, orang langsung kenal dengan pasti. Ibu memang lahir di tanah ini. Ayah datang dari jauh untuk sebuah urusan proyek jalan raya, menyusul pertukangan di pelosok Amarasi hingga akhirnya menemukan cintanya di bumi Lamaknen. Waktu itu ibu masih sekolah sedangkan ayah putus sekolah dan mulai bergabung dengan proyek-proyek lintas pulau.

Walau gajinya kecil, tapi itu cukup menjamin orang-orang rumah yang tertinggal di kampung. Tidak gampang menerima syarat minang orang-orang dari kampung ibu, tapi demi cinta ayah kawin masuk dan memilih tinggal di samping rumah mertuanya. Kini tak ada lagi atap rumah yang tiris. Masih ada di pinggir perkampungan sebelah, beberapa masih beratap alang-alang.

Ayah baru menggantinya tiga bulan lalu ketika ada seng bekas hasil bongkar rumah di kota. Dulu kakek sering bercerita tentang perang dan tragedi perebutan tanah, juga soal kematian mantap pacar kakek yang diculik dan dibunuh sewaktu berjualan di Timor Timur. Dari cerita kakek baru aku mengerti kenapa Ajoi dan Arina, sahabat karibku itu selalu disebut sebagai pengungsi.

"Dulu, Tahun 1999 memang ada banyak pengungsi. Mereka semua lari ke Timor Barat. Ada yang pulang kembali, tapi banyak yang pilih tinggal di sini..."
"Makashi e Ba'i, besok kita bacarita lagi.. eh saya lupa Ba'i, besok itu 17 Agustus toh, ada upacara bendera di kami punya lapangan Sekolah, nanti Ba'i ikut e, Saya yang nanti kasi naik bendera,...."

"Iya...iya, kau pi tidur sudah, supaya besok pagi jangan terlambat.."
Lampu kamar sudah padam. Semua penghuni rumah asyik dengan mimpi-mimpinya. Di sebelah bukit, raung mesin-mesin tambang masih terdengar. Kadang begitu jelas. Pekak di telinga, dan terasa asam di gigi ketika jemari-jemari besi itu mencabik-cabik akar batu. Aku terbangun pada tengah malam itu sekedar memastikan arah datangnya bunyi.

Memiringkan badan pada lubang titian bambu di dinding rumah. Ada cahaya merah menjulang di kejauhan. Terbayang banyak orang tidur tak tenang oleh gemuruh tiap saat. Hampir semua penghuni Ai Tameak, sudah biasa dengan situasi itu. Aku kembali menutup mata hingga pagi itu tiba.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help