Nasabah di Flotim Desak Polisi Tangkap Niko Ladi

Mereka yang mendesak Kapolres dan Kapolda menangkap Niko Ladi, antara lain Ijah,

Nasabah di Flotim Desak Polisi Tangkap Niko Ladi
ilustrasi

POS KUPANG.COM, LARANTUKA - Belasan ribu nasabah yang merana akibat uang mereka hilang mendesak Kapolres Flores Timur dan jajarannya segera menangkap Direktur LKF Mitra Tiara, Niko Ladi yang sudah setahun buron.

"September  ini genap satu tahun LKF Mitra Tiara kolaps. Kami ingin tagih janji  Kapolres Flotim dan Kapolda NTT untuk menangkap Direktur LKF Mitra Tiara, Niko Ladi. Kami ingin minta Kapolres dan Kapolda membuktikan kepada masyarakat Flotim bahwa Niko Ladi masih hidup dan ia harus bertanggungjawab atas penipuan yang menimpa belasan ribu nasabah yang menabung ratusan miliar di LKF Mitra Tiara,"kata  nasabah LKF Mitra Tiara yang menghubungi wartawan, Jumat (12/9/2014).

Mereka yang mendesak Kapolres dan Kapolda menangkap Niko Ladi,  antara lain Ijah,  warga Kecamatan Adonara Timur, Nuen, warga Kecamatan Adonara Barat,  Mikel Niron asal  Solor Barat, Agus  warga Lewolaga, Boli Gela,  warga Tanjung Bunga, Nong warga Maumere dan sejumlah nasabah lainnya di Larantuka, Kabupaten Flores Timur.                       

Para nasabah  mendesak Kapolres dan Kapolda NTT fokus menyelesaikan kasus Mitra Tiara dengan menangkap Niko Ladi, Direktur Lembaga Kredit Finansial (LKF) Mitra Tiara, Larantuka, Flores Timur (Flotim) setelah hajatan nasional pileg dan pilpres 2014.

Kapolres juga harus tegas menyatakan dan menyampaikan kepada publik apakah penanganan kasus Mitra Tiara  oleh Polda atau Polres Flotim, walaupun masyarakat secara umum tahu locus deliktinya di Flotim. Karena apa yang dilakukan Niko Ladi telah menghancurkan perekonomian masyarakat Flotim bahkan merugikan dan menipu 17.417 nasabah dengan total kerugian mencapai Rp 700-an miliar.

"Sejak November 2013  polisi telah menetapkan Niko Ladi sebagai tersangka dan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO),  namun hingga kini Niko Ladi belum ditangkap. Ini mengundang kecurigaan masyarakat. Saya menduga polisi 'bermain mata' dengan Niko Ladi sehingga dia masih tenang-tenang saja berkeliaran di Jakarta atau daerah lain di Indonesia.  Kasihan masyarakat kecil, uang mereka sudah hilang, Niko Ladi juga menghilang, lalu membiarkan stafnya menjadi korban," kata  Agus,  warga Lewolaga.

Menurut Agus, tidaklah sulit menangkap Niko Ladi karena polisi memiliki jaringan yang sangat kuat dan bisa koordinasi dengan Interpol. Dengan kecanggihan teknologi komunikasi itu,  Interpol tidak akan kesulitan melacak dan menangkap Niko Ladi.  "Mestinya tidak sulit tapi polisi selalu buat alasan," katanya.      

Boli, warga Tanjung Bunga mengatakan,  kasus Mitra Tiara  membawa dampak negatif  luar biasa terhadap perkembangan ekonomi dan sosial di Flotim. "Roda ekonomi benar-benar merosot tajam, banyak orang stress, gila, bahkan ada yang meninggal mendadak. Dan, saat ini sejumlah pedagang sampai gulung tikar karena bangkrut. Karena itu, polisi mestinya peduli terhadap kasus yang menimpa warga itu," ujarnya.

Hal senada disampaikan Ijah,  warga Adonara Timur. Dia mengatakan akibat bangkrutnya LKF Mitra Tiara berdampak terhadap pendidikan anak-anak di Adonara. "Banyak anak-anak putus sekolah karena orang tua terlilit hutang. Karena itu, kami minta polisi serius membantu masyarakat dan meminta Niko bertanggungjawab. Apalagi aset Niko cukup banyak,  termasuk rekan-rekan Niko yang mengunakan uang Niko untuk berbisnis," tandas Ijah melalui telepon.

Mikel Niron mengakui, jika polisi tidak menangkap Niko Ladi maka dugaan masyarakat bahwa polisi menjadikan Niko  ATM itu benar. "Polisi harus buktikan kepada publik bisa menangkap Niko, kalau tidak maka ada kecurigaan polisi berkerja sama dengan Niko,  itu benar. Karena itu kami harap polis bisa tangkap Niko," ujarnya. (iva)

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved