PosKupang/

Jurnalisme Warga

WVI Gelar Workshop Perlindungan Anak

Kegiatan diikuti 30 peserta dari unsur guru, yakni Pembina Organisasi Siswa Intra Sekolah

Oleh Maksimus Masan Kian

POS KUPANG.COM - Wahana Visi Indonesia (WVI) Area Development Program (ADP) Kabupaten Flores Timur sejak Senin  8-10 September 2014 menyelenggarakan kegiatan Child Protection (Pelatihan Perlindungan Anak) di Biara Saron Larantuka.

Kegiatan diikuti 30 peserta dari unsur guru,  yakni Pembina Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), dan Pendamping Sekami atau animator dan animatris dari beberapa stasi.
Pembina OSIS dan pendamping Sekami yang hadir berasal dari sekolah dan stasi yang merupakan wilayah binaan  Wahana Visi Indonesia (WVI) di  Kabupaten Flores Timur,  di antaranya Pembina OSIS SMP Negeri Satu Atap Riangpuho, SMPN 01 Tanjung Bunga, SMUN 01 Tanjung Bunga, SMP Swadaya Tuakepa Titehena, SMP Negeri Satu Atap Nobo, SMP Swasta Katolik Sanctisima Hokeng, SMPN 01 Wulanggitang, SMP Negeri 02 Wulanggitang, Pembina Sekami Stasi St. Darius Riangpuho, St.Lodovikus Waiklibang.

Dengan visi untuk setiap anak hidup utuh sepenuhnya doa kami untuk setiap hati tekad untuk mewujudkannya, Wahana Visi Indonesia (WVI) khusus Area Development Program (ADP) Kabupaten Flores Timur, sudah sering melakukan kegiatan pelatihan Perlindungan terhadap Anak juga memberikan pendampingan terhadap anak di sekolah binaan yang tersebar di sekian sekolah di Kabupaten Flores Timur.

Hal ini dikatakan Manajer WVI ADP Flores Timur,  Andries Kooswinanto saat membuka pelatihan perlindungan anak,  Senin (8/9/2014). "Teman-teman yang datang hari ini tentu memiliki harapan yang sama, bagaimana memberikan ruang, kesempatan dan waktu bagi anak-anak demi terpenuhinya hak-hak anak. Di masyarakat kita dewasa ini,  terjadi banyak kasus kekerasan, juga lebih dari itu terjadi kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur, parahnya lagi bahwa hal buruk itu dilakukan oleh orang-orang dekat dari korban. Kita semua tentu tidak menginginkan hal ini terus terjadi dan berulang dalam kehidupan sehari-hari di wilayah ini. Semoga dengan kehadiran para guru dan pembina sekami mengikuti kegiatan yang dimulai hari ini, memampukan kita untuk bisa berbuat seturut hak-hak anak," kata Andries.

Andries berharap  dengan pelatihan perlindungan anak yang terus dilakukan bisa memutuskan mata rantai pembinaan keras oleh orang dewasa terhadap anak di NTT dan Flores pada khususnya. "Mari bersama kita berusaha untuk memutuskan mata rantai pembinaan anak dengan cara yang kasar, anak adalah karunia terindah yang harus dilindungi. Banyak orang sukses, berhasil, dan memegang posisi strategis di banyak bidang kerja dengan melewati masa kecil dan jenjang pendidikan dengan binaan dan didikan yang tidak harus dengan kekerasan," kata Andries.

Materi yang disampaikan, antara lain pengenalan pendekatan berbasis sistem, perlindungan terhadap perlakuan salah, kekerasan dan eksploitasi, intervensi awal dan dukungan keluarga, pengasuhan alternatif.

Hilda Rumambi, selaku Child Protection dan Advocacy Coordinator Wahana Visi Indonesia untuk Wilayah Nusa Tenggara Timur mampu menarik minat dan perhatian  30 orang peserta. Melalui dinamika kelompok, ia mampu mencairkan suasana di antara para peserta. Selanjutnya dengan metode sedikit ceramah dan didominasi saling berbagi dan diskusi dari para peserta , Hilda Rumambi berhasil membuat materi yang ia bawakan tentang pengenalan  pendekatan berbasis sistem menjadi sangat menarik dan berkesan untuk  peserta.

Pembina OSIS SMA PGRI Boru,  Kecamatan Wulanggitang, Yosep Jati  mengatakan kegiatan yang diselenggarakan oleh WVI sangat efektif  memberikan penyadaran dan pemahaman yang baru berkaitan dengan bagaimana mendidik, mendampingi dan mengawasi perkembangan anak dengan tidak menerapkan kekerasan tetapi sebaliknya. (*)

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help