PosKupang/

Jurnalisme Warga

Ruas Jalan Tanjung Bunga Rusak Parah

Mengapa tidak, usaha untuk meningkatkan kesejahteraan yang terus diperjuangkan,

Ruas  Jalan Tanjung Bunga Rusak Parah
POS KUPANG/FELIKS JANGGU
ilustrasi 

Oleh Maksimus Masan Kian

POS KUPANG.COM - Enam puluh sembilan (69) tahun kemerdekaan Indonesia di tahun 2014, masih menyisakan sekian persoalan dari hulu hingga ke hilir, pada sekian bidang kehidupan masyarakat.

Sungguh,  pernyataan Soekarno,  Bapak Proklamator Republik Indonesia masih sangat relevan dengan kondisi bangsa hari ini. Beliau pernah mengatakan, "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri".

Mengapa tidak, usaha untuk meningkatkan kesejahteraan yang terus diperjuangkan, diperhadapkan pada kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang hingga kini masih  merajalela, baik dari pusat hingga ke daerah. Alhasil, ada sekian kebutuhan dasar  masyarakat  yang bermanfaat besar dalam peningkatan kesehjateraan  terabaikan pemenuhannya oleh pemerintah.
Semua kita tentu sepakat bahwa kebutuhan yang paling mendasar dari masyarakat  saat ini adalah air, jalan (infrastruktur) dan listrik.

Air, jalan dan  listrik, manakalah terpenuhi dengan baik, maka dampak ikutannya adalah adannya perbaikan kehidupan pada bidang ekonomi, kesehatan, juga pendidikan serta lainnya.
Tidak menyebutkan di semua wilayah dalam lingkup Kabupaten Flores Timur, tetapi jika siapa saja yang sudah berkunjung atau melintasi jalur jalan di wilayah Tanjung Bunga, maka  sudah bisa mengambil kesimpulan akan kondisi itu.

Pantauan penulis, Kamis, 21 Agustus 2014, di salah satu ruas utama jalan yang melintasi wilayah Waikelak, Lama Ojan,  Desa Bahinga, Riangpuho,  Desa Waibao, Desa Riangkeroko, Turubean,  Desa Lamatutu, Desa Tanah Belen, hingga ke Bou saat ini rusak parah. Di sepanjang jalan, kita menemukan batu- batu dari kecil hingga besar yang berceceran di sepanjang badan jalan, belum lagi topografi yang tidak rata, seakan menambah sulitnya kehidupan masyarakat di tempat ini.

 Bahkan dari Bou ke Koteng Walang dan Basira,  masyarakat harus rela dan tabah melalui jalan setapak. Di wilayah ini, baik sepeda motor maupun kendaraan roda empat belum bisa masuk. Ada alternatif  melalui jalur trasportasi laut tetapi itupun hanya sekali jalan dalam satu minggu.

Menurut Silvinus Paun, ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) di Riangpuho, Desa Waibao, ruas jalan ini awalnya sudah diaspal tapi sejak gempa bumi 1992, aspal di ruas jalan ini hancur tak berbekas dan belum diperbaiki hingga saat ini.

Masyarakat di daerah ini memanfaatkan mobil pick-up dalam memobilisasi penumpang dan juga mendistribusikan komoditi ke Larantuka,  Ibukota Kabupaten Flores Timur. Untuk bisa membawa hasil komoditi dan bisa terjual di Pasar Inpres Larantuka, satu hari warga hanya bisa bertahan di Larantuka tiga atau empat jam. Contoh di Riangpuho, Desa Waibao, Kecamatan Tanjung Bunga, warga yang menjual komoditinya ke Larantuka, harus sudah berangkat dari rumah dan keluar dari kampung pada pukul 05.00 Wita dan akan tiba di Larantuka pukul 09.00 Wita.  Sementara siang tepat pukul 13.00 Wita mobil harus kembali  ke kampung sehingga  petani  memiliki waktu yang sangat singkat untuk berjualan atau berbelanja.

Tarif untuk penumpang Rp 20.000 untuk satu orang. Sementara barang berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 30.000, tergantung jumlahnya.

Untuk wilayah di Tanjung Bunga, hasil komoditi tergolong produktif. Ada jambu mete, pisang, pohon jati, mangga, asam, jeruk nipis, nangka, kelapa, dan lain-lain.

Jarak dari Kota Larantuka menuju  Riangpuho,  Desa Waibao kurang lebih 48 km, tapi karena jalannya rusak masyarakat harus menghabiskan waktu sekitar 3-4 jam dalam perjalanan. Kondisi ini  mempersulit kehidupan masyarakat di wilayah ini.

Harapannya semoga pemerintah memperhatikan jalan di Tanjung Bunga,  khusus untuk ruas jalan yang kerusakannya  sangat parah. Menyelesaikan seluruhnya, tentu tidak secepat yang diharapkan, tapi  seharusnya sudah mulai diagendakan.
Kondradus Kosa Brinu,  tokoh pemuda dari Riangpuho,  Desa Waibao mengatakan aspirasi masyarakat untuk perbaikan jalan, kadang jawaban pemerintah adalah jalur itu jalan provinsi sehingga  pemerintah provinsi yang mengurusnya, jalan itu jalan pusat sehingga  pemerintah pusat yang perhatikan. Bukankah pemerintah daerah juga adalah perpanjangan tangan dari pemerintah provinsi dan pusat? *

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help