PosKupang/

Javara Produksi Mete di Sikka untuk Ekspor

Dua lembaga yang bergerak di bidang produksi pangan ringan, Javara Indigenous Indonesia dan Yayasan Sahabat Cipta

Javara Produksi Mete di Sikka untuk Ekspor
POS KUPANG/SIMON PETRUS SELI TUPEN
Pohon jambu mete di Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Rabu (20/8/2014). 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Aris Ninu

POS KUPANG.COM, MAUMERE -- Dua lembaga yang bergerak di bidang produksi pangan ringan, Javara Indigenous Indonesia dan Yayasan Sahabat Cipta siap memproduksi mete asal Sikka jadi makanan ringan untuk ekspor.

Mereka juga akan membangun tempat pengolahannya di Sikka.
Hal tersebut disampaikan Direktris Javara, Helianti Hilman diAula Bappeda Sikka, Sabtu (23/08/2014) pagi, saat presentasekan keunggulan produk lokal dalam rangkaian kegiatan Bisnis Meeting untuk Sektor Unggulan di Kabupaten Sikka.

Helianti menjelaskan,  produk unggulan di Kabupaten Sikka yang siap diolah adalah mete, kakao dan kelapa. Ketiga produk itu bisa diolah menjadi manakan ringan untuk eskpor antara lain  ke Eropa, Amerika, Jepang dan Korea.

Selain meningkatkan nilai ekonomis produk unggulan itu, kehadiran Javara dan Sahabat Cipta di Sikka untuk  memperkenalkan produk ke luar daerah. Saat ini Javara memproduksi pangan lokal sebanyak 540 jenis.

Sebanyak 130 di antaranya sudah tersertifikasi dan 90 persen di antaranya diekspor.

Bupati Sikka, Drs. Yoseph Ansar Rera menyambut baik kehadiran kedua lembaga ini karena sesuai dengan rencana dan program kerja Pemerintah Kabupaten Sikka lima tahun ke depan. "Dua lembaga ini menjadi pendukung rencana pemerintah lima tahun ke depan.

Pemerintah  juga berencana mengembangkan produk unggulan di  Sikka," jelas Ansar Rera.

Menurut bupati, pemerintah segera membentuk tim khusus yang akan menangani peningkatan produk unggulan yang ada.
Dalam sesi diskusi, Perwakilan Dinas Pertanian Sikka, Viator Nong mengharapkan adanya kepastian harga sehingga mampu menggairahkan masyarakat mempersiapkan produk yang dibutuhkan.

Helianti berjanji duduk bersama masyarakat menentukan harga. "Masalah harga jual beli, kami akan duduk bersama petani untuk menentukan harga. Sebab pengalaman kami di beberapa tempat, petani mendadak menaikkan harga sehingga proses produksi menjadi terhambat. Saya juga meminta agar petani bekerja sesuai standar operasional produksi dengan tujuan mutu hasil produksi bisa dijaga dengan baik," jelas Helianti.

Hadir pada kesempatan tersebut para pelaku bisnis, Perwakilan Kopdit Pintu Air, pimpinan dan utusan SKPD serta undangan lain.*

Editor: alfred_dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help