PosKupang/

Jurnalisme Warga

Indahnya Umat Dua Agama di Satu Kampung

Honihama adalah sebuah kampung di Pulau Adonara terletak paling timur dari Kecamatan

Indahnya Umat Dua Agama di Satu Kampung
ist

Oleh Maksimus Masan Kian *

POS KUPANG.COM. Seumpama sebuah taman jika hanya ada satu bunga, maka taman itu tidak terlihat indah. Menjadi indah, jika di dalam taman itu terdapat lebih dari satu bunga. Sama halnya  dengan agama di dalam sebuah kampung. Dua agama di dalam satu kampung,  itu terlalu indah.

Demikian  Rasyid Payong dalam sambutannya sebagai Imam Mesjid Al-Mutakim Honihama, Desa Tuwagoetobi,  Kecamatan Witihama,  Kabupaten Flores Timur, Selasa,  29 Juli 2013, dalam acara Idul Fitri 1 Syawal 1435 hijriyah bersama antara umat Islam dan Katolik di desa itu.

Honihama adalah sebuah kampung di Pulau Adonara terletak paling timur dari Kecamatan Witihama. Secara administratif, dikenal dengan Desa Tuwagoetobi. Di tempat ini, tolerasi antar umat beragama sangat kental. Toleransi antar umat beragama (Islam dan Katolik) di kampung ini merupakan sebuah tradisi yang diwariskan secara turun temurun oleh tokoh-tokoh agama Katolik dan  Islam.

Pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1435 hijriyah tahun 2014 tingkat Desa Tuwagoetobi,  Kecamatan Witihama,  Flores Timur, terlaksana di Dusun Tiga Lewolein. Umat Islam sejak pagi berdiri berjejer di sepanjang jalan di dalam kampung menanti kedatangan uamat Katolik. Saat umat Islam sudah siap, umat Katolik yang sebelumnnya sudah berkumpul di halaman gereja berjalan pelan dalam posisi barisan berjabatan tangan dengan semua umat Islam yang sudah berdiri siap.
Kurang lebih 1.200 umat hadir dalam acara Idul Firti bersama, baik umat dari Masjid AL- Mutakim Honihama dan umat dari 13 komunitas basis Gerejani St.Yudokus Honihama. Umat yang hadir laki-laki dan perempuan, dari yang tua hingga anak- anak.

Hadir dalam acara itu, Kepala Desa Tuwagoetobi, Imam Masjid Al- Mutakim Honihama, Ketua Dewan Stasi St. Yudokus Honihama, tokoh-tokoh adat.
Klemens Kopong Miten,  Ketua Dewan Stasi Honihama mengatakan,  tolerasi antar umat beragama di Honihama sudah merupakan sebuah tradisi. Baginya, tradisi yang ada merupakan sebuah hal yang membanggakan dan harus terus dipertahankan.
Audaktus Lawe Ama,  selaku Kepala Desa Tuwagoetobi mengatakan, tak ada gading yang tak retak. Saling memaafkan antar manusia itu penting dalam kehidupan  bermasyarakat.  "Saya mengajak semua masyarakat Desa Tuwagoetobi untuk meningkatkan partisipasinya dalam pembangunan di desa demi kemajuan bersama," pintanya.

Acara Idul Fitri bersama juga dimeriahkan tari perang yang diperagakan oleh anak-anak dan orang dewasa,  tarian sole oha yang merupakan tariaan adat Adonra, juga pembacaan syair Lamaholot yang dibawakan oleh anak-anak. *) Tokoh Pemuda Adonara

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help