Opini Pos Kupang

Religiositas Sepak Bola

Sepak bola memang bukan agama. Namun sepak bola bisa memancarkan religiositas, yang menjiwai setiap agama.

Religiositas Sepak Bola
ist
Anggota DPRD Kota Kupang, Isidorus Lilijawa

Oleh Isidorus Lilijawa, S.Fil, MM

 PERHELATAN akbar piala dunia empat tahunan dimulai. Brazil selaku tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia tahun 2014 menjadi begitu gegap gempita oleh euforia sepak bola. Tidak cuma itu, hampir seluruh penduduk dunia pun merasakan football fever (demam sepak bola).

Piala dunia memang selalu memiliki daya magis yang luar biasa. Piala dunia melahirkan nilai-nilai kehidupan, keutamaan-keutamaan yang bisa kita dapatkan dari penghayatan keagamaan kita (religiositas). Sepak bola memang bukan agama. Namun sepak bola bisa memancarkan religiositas, yang menjiwai setiap agama.  

Homo Ludens
Sepak bola adalah sebuah permainan manusia. Manusia yang diwakili oleh para pemain sepak bola adalah pribadi-pribadi yang aktif, bergerak, mobil demi sebuah tujuan bersama. Sepak bola merupakan eksplisitasi dinamika hidup manusia yang bekerja sama, berkonfrontasi, berekonsiliasi, bertenggang rasa dalam wadah kehidupan ini demi sebuah tujuan bersama menjadi manusia yang lebih manusiawi, manusia yang sejahtera lahir dan batin.

Dalam wacana filosofis, Prof. Johan Huizinga mengatakan bahwa manusia adalah homo ludens (makhluk bermain). Kemampuan bermain adalah kekhasan manusia. Dalam bermain, manusia menunjukkan eksistensinya. Ia menghadirkan totalitas yang nyata dalam kegembiraan, sukacita, kesedihan, dukacita.

Manusia yang bermain adalah manusia yang bisa meraih kemenangan, menerima penghormatan dan sorak-sorai, tetapi sekaligus pada sisi yang berlawanan manusia yang bermain juga adalah manusia yang tidak dapat menghindarkan diri dari kekalahan,  keterbatasan, kekurangan, caci maki dan hujatan. Dalam konfrontasi dua sisi kehidupan inilah manusia mengada.

Dalam perspektif refleksi teologis filosofis, kemampuan bermain manusia bersumber dari Sang Pencipta. Kemampuan itu adalah hadiah, rahmat (gabe) serentak juga merupakan tanggung jawab (aufgabe).

Maka manusia yang bermain sesungguhnya mengungkapkan keterciptanya di satu sisi dan cetusan puji-pujian syukur kepada Sang Pencipta di sisi lain. Keberanian manusia adalah titik perjumpaan ontologis si tercipta dan pencipta. Dalam bermain manusia mengada dan keberadaan itu bertumpu pada Ada Mutlak dari mana segala yang mengada itu berasal.

Locus Theologicus
Tak dapat dipungkiri bahwa dalam bingkai pemahaman di atas, sepak bola adalah sebuah locus theologicus, tempat di mana manusia bisa mengalami perjumpaan dengan  Allah (Theos).

Dalam perhelatan piala dunia, setiap negara tampil dengan para pemain terbaiknya yang juga mempunyai harapan terbaik, menjuarai atau setidaknya-tidaknya memenuhi target yang telah ditetapkan. Ke manakah harapan-harapan itu dilambungkan?

Harapan-harapan itu menepi dalam kebesaran kuasa Ilahi. Dan harapan itu melahirkan keyakinan bahwa Tuhan akan mendengarkan pinta mereka. Maka kita akan menyaksikan aneka ungkapan syukur kepada Tuhan ketika dalam permainan itu ada kesebelasan yang menang atau ada gol-gol yang tercipta. Aneka simbol keagamaan ditampilkan.

Hemat saya simbol-simbol itu bukan hanya sekadar ditampilkan, tetapi ada harapan yang mau digapai melalui kehadirannya. Simbol-simbol itu melambangkan pengakuan manusia pada kekuatan yang lebih tinggi (daya ilahi) sekaligus penelajangan keterbatasan manusia. Ada pemain yang setelah mencetak gol, ia berlari, menjatuhkan dirinya dan membuat tanda salib. Sebuah pengakuan pada kebesaran Tuhan dalam perendahan dirinya karena memang ia sadar ia terbatas.

Ketika hendak bermain dan memasuki lapangan hijau, tak pernah orang melupakan simbol-simbol religius. Ada pemain yang menggunakan simbol religius, seperti "tanda salib". Konon diceritakan bahwa sebelum turun bertanding dalam memperebutkan kejuaraan World Cup 2002, semua pemain Korea Selatan menceburkan dirinya ke dalam sebuah tempat pemandian untuk menimba kekuatan dari air pemandian itu. Demikian juga para pemain dari Afrika yang secara kasat mata direciki dengan 'air berkat' di pinggir lapangan sebelum bertanding.

Pada titik ini kita dihadapkan pada fakta bahwa kultus terhadap dunia persepakbolaan hampi sejajar dengan kultus di dalam religi atau yang dalam agama Katolik terjelma dalam misa, ibadat dan devosi. Melalui hal-hal ini, para pemain sebenarnya tengah mempertemukan dua realitas, natural dan supra-natural, mundana dan supra-mundana.

Dalam pertautan dua realitas inilah, manusia bisa merasakan kehadiran Yang Kuasa dalam permainan sepak bola, sekaligus dunia sepak bola bukanlah realitas profan melulu. Manusia yang bermain sepak bola mengkonkritkan perjumpaan dengan Allah. Dan kita yang menikmati pertandingan sepak bola mesti sampai pada tahap merasa berjumpa dengan  Allah.

Di sini ungkapan iman terwujud: percaya kepada Allah Pencipta langit dan bumi, Allah yang menjadi sumber pengatur utama dinamika manusia dalam bermain sepak bola. Karena sepak bola berperan sebagai locus theologicus, maka kita yang terlibat di dalamnya walau hanya sebatas menonton juga mempunyai kewajiban menjadikan diri sendiri sebagai locus bagi Kerajaan Allah, tempat di mana buah-buah rohani lahir. Itu berarti, kita mesti tampil sebagai penonton yang tertib, penonton yang kritis, penonton yang bisa menyelami makna sepak bola secara mendalam.

Pemersatu
Sepak bola mempersatukan semua orang dari berbagai latar belakang kebudayaan, agama, warna kulit, status sosial yang berbeda dan mereka menjadi rekan kerja, sahabat, sesama yang saling menghargai. Bahkan kehadiran sepak bola bisa dilihat sebagai kritik terhadap agama.

Pada titik tertentu agama justru memilah-milah manusia ke dalam kategori keyakinan dan kepercayaan.  Manusia terpecah-pecah dan saling mencurigai ketika agam hadir sebagai wajah yang ekstrim. Pendapat rekanku ini memang benar.

Sepak bola memang hadir sebagai pemersatu umat manusia. Sepak bola telah mengalami pergeseran kiblat, bukan semata sepak bola untuk sepak bola itu sendiri. Sepak bola tidak lagi semata-mata hanya untuk meraih kemenangan walaupun orang mesti bermain sebaik mungkin supaya bisa menang. Sepak bola saat ini lebih mengutamakan nilai.

Prioritas nilai inilah yang membangkitkan keyakinan bahwa manusia tak mempunyai sesuatu pun yang lebih penting daripada manusia itu sendiri. Ini berarti, sepak bola tampil lebih humanis.

Sepak bola demi martabat manusia. Nilai sportivitas, solidaritas, toleransi, rela berkorban, kejujuran, fair-play, kerendahan hati, berani mengakui kesalahan, menerima kekalahan adalah nilai-nilai yang perlu kita pelajari dan maknai dari setiap pertandingan yang disuguhkan.

Sepak bola tanpa batas, inilah misi Piala Dunia, yang harus jadi misi kita juga dalam berbagai aspek kehidupan ini. Sepak bola adalah kritik untuk rendahnya solidaritas kita.

Dengan label sepak bola, banyak dana dikumpulkan dan disumbangkan untuk kepentingan pemanusiaan manusia, untuk orang-orang yang  tidak diperlakukan selayaknya sebagai manusia. Para pemain sepak bola banyak membuat tindakan amal untuk kemanusiaan. Kritik untuk keyakinan kita yang berprinsip "esse est to-esse" (ada berarti berada untuk yang lain), tetapi tak jelas aplikasinya.

Prof. Magnis Suseno menyebut kondisi manusia yang tak diperlakukan layak sebagai manusia dengan  "compassion fatique" (mereka yang tidak dibutuhkan lagi). Kondisi masyarakat kita saat ini menampilkan potretnya yang buram.

Magnis Suseno menyebutkan fenomen masyarakat dua lantai. Di lantai atas terdapat mereka yang memainkan peran dalam sistem perekonomian. Sedangkan di lantai bawah terdapat mereka yang tidak punya pekerjaan, gelandangan. Di antara kedua golongan ini terdapat  kesenjangan yang  lebar. Mereka yang  berada di lantai atas terus-terusan hidup dalam keenakan, sementara mereka yang  berada di lantai bawah terus tenggelam dalam ketakberdayaan.

Mungkin saja mereka yang  berada di lantai ataslah yang  paling banyak menonton perhelatan piala dunia karena tersedianya sarana yang  memadai. Namun, pernahkah menjadi sadar bahwa mereka sedang mempertontonkan sebuah otokritik, mempertontonkan penyakit "minus solidaritasnya?"

Di hari-hari Piala Dunia ini, setiap orang tentu akan berbicara tentang sepak bola, berdiskusi mengenai sepak bola, bahkan mempertaruhkan segalanya demi sepak bola.

Di hari-hari ini pula, kita akan secara langsung berusaha mengalami perjumpaan dengan yang ilahi dalam setiap pertandingan. Mampukah kita menyingkap tabir yang  menghalangi revelasi ilahi dalam sepak bola? Selamat memaknai piala dunia 2014.  (Penikmat Sepak Bola)

Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help