Opini Pos Kupang

(Real) Visi-Misi Jokowi-JK

Pasangan Joko Widodo-Kalla lebih memberi ruang pada tataran konkrit kehidupan rakyat.

(Real) Visi-Misi Jokowi-JK
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dari kubu koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Joko Widodo - Jusuf Kalla memaparkan visi misi saat Debat Capres - Cawapres bertema Pembangunan Ekonomi, Pemerintahan Bersih dan Kepastian Hukum di Balai Serbini, Jakarta, Senin (9/6/2014) malam. Pemilu Presiden 2014 akan berlangsung 9 Juli 2014 mendatang.. 

Oleh Agustinus Dasion

DEBAT capres-cawapres di satu sisi telah memberi sebuah ruang baru bagi para figur untuk menjabarkan visi dan misi untuk rakyat Indonesia agar bisa memilih secara lebih tepat. Tujuan dilakukan debat ini cukup mulia yakni agar rakyat mendapatkan sebuah kepastian untuk tidak salah dalam memilih.

Figur yang dipilih diharapkan adalah figur yang benar-benar mencerminkan seorang negarawan sejati dan berjiwa bangsa yang utuh. Debat yang telah berlangsung banyak diwarnai oleh beberapa diskusi simulasi kebenaran politik (atau kebenaran yang dibuat) yang tidak mengena pada inti kehausan politik di Indonesia saat ini.

Namun di antara dua kandidat yang beradu argumen pada debat tersebut, pasangan Joko Widodo cukup menampilkan diri dan argumen sebagai figur yang lebih mengetahui kehendak rakyat. Tanpa menegasikan beberapa poin penting yang digagaskan pasangan Prabowo-Hatta, namun pasangan Joko Widodo-Kalla lebih memberi ruang pada tataran konkrit kehidupan rakyat.

Pertanyaan tulisan ini adalah jawaban seorang pemimpin (baca: visi misi) seperti apa yang dibutuhkan oleh rakyat sekarang? Inti tulisan ini terletak pada pemaparan visi misi yang harus mengena pada kehidupan konkrit rakyat banyak dan bukan mengulangi "novena" politik dengan mengumbar sebuah janji kosong (dan umum). Jujur, penulis bukan anti partai koalisi PDIP yang mencalonkan Jokowi sebagai presiden dan sekaligus penulis tidak pernah mempunyai nostalgia indah dengan partai banteng tersebut. Penulis hanya menghormati diskusi politik untuk dapat memberi pencerahan politik bagi siapapun yang berubah.

Visi Real dan Hiperreal
Pertarungan kekuatan wacana yang ditampilkan dalam debat yang telah berlangsung beberapa hari yang lalu menunjukkan bahwa politik tidak hanya bermain pada level kebenaran real tetapi hadir juga dalam simulasi kebenaran (baca: wacana yang dibuat seakan menjadi sebuah kebenaran). Seperti inilah wacana yang dibangun oleh para pasangan ketika debat berlangsung.

Sebuah wacana biasa bisa dijadikan sebuah kebenaran sejati karena persuasi politik dan penggerahan wacana. Tujuan politik pencitraan lewat penciptaan wacana adalah demi mencapai kekuasaan. Dalam upaya penggalangan opini dan pencitraan diri, politisi mengerahkan semua sarana persuasi dari bentuk yang paling transparan, yaitu representasi, sampai dengan manipulasi dan simulasi (Jean Boudrillard, 1981: 17).

Banyak kalimat normatif yang muncul pada waktu debat berlangsung. Sebut saja beberapa kalimat yang hanya mengulangi "grand narasi" (narasi besar) wacana politik. Kalimat-kalimat seperti memperbaiki Indonesia, memperbaiki demokrasi, dan yang lainnya, tanpa disertai sebuah gagasan konkrit yang baru dan kreatif adalah merupakan kalimat mati.

Dikatakan kalimat mati sebab kalimat tersebut tidak memberi arti apa-apa pada kerinduan dan hati nurani rakyat banyak. Ada pasangan yang membangun citra secara jujur dan transparan dengan membeberkan apa saja yang telah dilakukan bagi bangsa ini, dari hal-hal yang kecil hingga hal-hal yang cukup besar. Hannah Arendt telah menekankan bahwa politik selalu diukur dari keutamaan politisi mengabdikan diri kepada orang lain (masyarakat banyak).

Poin inilah yang dikehendaki oleh rakyat ketika seorang figur ingin membeberkan segala visi dan misinya. Rakyat sebenarnya sudah sampai pada tataran jenuh dengan berbagai verbalisasi politik, simulasi politik, hingga kalimat-kalimat normatif yang tidak langsung mengena pada kehidupan konkrit rakyat. Rakyat muak dengan hadirnya diskusi beberapa kebenaran yang harus disembunyikan demi menciptakan kebenaran baru dan tidak mengancam citra figur tertentu.

Kurang dari sebulan, hajatan besar memilih pemimpin negara ini akan berlangsung. Tugas rakyat sebagai konstituen hanya satu yakni memilih secara benar dan miilih orang-orang benar.

Orang benar selalu mengatakan kebenaran apa adanya tanpa menyembunyikan kebenaran itu. Jika rakyat tidak cerdas dalam memilih, harapan akan perubahan mungkin harus kita tunggu pada pilpres-pilpres berikutnya. Ini berarti Indonesia sulit untuk berubah jika tidak dimulai dari sekarang.  (Pemerhati Masalah Sosial-Kupang)

Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved