Opini Pos Kupang

Gereja Katolik Harus Bersih

Pimpinan politik Katolik mesti mencari kebanggaan memajukan wilayah tanggungjawabnya.

Gereja Katolik Harus Bersih
POS KUPANG/FELIKS JANGGU
Beberapa imam menyerahkan pernyataan sikap dan peti mati kepada Kapolda NTT melalui Kapolres Lembata, AKBP Wresni Haryadi Satya Nugroho, S.T, di Mapolres Lembata, Selasa (21/1/2014) sore. 

Oleh Edu Dosi, SVD


Keprihatinan
Prof. Dr. Frans Magnis Suseno SJ memberikan masukan pada sinode III Keuskupan Ruteng pada Rabu (5/1/2014). Beliau mengatakan bahwa politisi Katolik dituntut agar tidak boleh korup. Pimpinan politik Katolik mesti mencari kebanggaan memajukan wilayah tanggungjawabnya. Namun tuntutan yang lebih penting lagi adalah aparat Gereja Katolik tidak boleh korup. Gereja Katolik harus bersih.

Prof. Magnis bilang, tidak ada yang lebih memalukan dan lebih melumpuhkan semangat umat daripada adanya uskup, imam, rohaniwan-rohaniwati yang mencari keuntungannya sendiri, mendahulukan keluarga dan para kerabatnya atau kongkalingkong dengan para penguasa, apalagi kongkalingkong untuk melawan rakyat.

Beberapa  awam dalam gereja Katolik mengatakan bahwa mereka sebagai umat malu dan enggan untuk bicara secara terbuka tentang keprihatinannya terhadap segelintir aparatur gereja yang terlibat korup. Juga prihatin pada segelintir gembala umat dalam memimpin yang lebih suka memberi instruksi dan petunjuk dan mau menang sendiri.

Dikatakan, mungkin kami keliru menempatkan segelintir para gembala  sebagai pemimpin di atas singgasana terlalu tinggi  dan megah. Mungkin juga kami kelewat hati-hati menjaga wibawa segelintir para gembala dengan mengamini begitu saja apa yang dilakukan dan dikatakan para gembala.

Atau mungkin juga para gembala itu sendiri kurang tahu diri tanpa sadar menganggap dirinya semacam raja kecil, beliau sibuk urus kepentingan sendiri, urus uang sendiri, mengurus organisasi intern gereja, menikmati tour ke Lourdes dan Tanah Suci, tenggelam dalam kegemaran membangun kerajaannya sendiri: investasi tanah dan bangunan, investasi asrama, bisnis sekolah, lobi-lobi dengan kekuasaan demi sebuah pengakuan, dan lains sebagainya. Kelihatannya ada kekuatan, "tuhan lain" sedang coba menggerogoti rahmat kasih yang dikaruniakan kepada para gembalaNya.

Terdorong oleh rasa hormat dan cinta kepada para gembala, umat sangat mendambakan kebersamaan sejajar yang wajar antara umat dan gembalanya dalam memberi kesaksian cara hidup gereja.

Teologi Tani
Dalam buku "Peasant Theology" karangan Charles R Avila tentang  pemimpin, seorang petani katakan bahwa pemimpin tak perlu seperti bintang yang bersinar dengan sinarnya sendiri di langit yang jauh di tata surya yang megah. Kalau kita lihat, paling kita katakan betapa indahnya bintang itu. Tetapi kita tahu  bahwa ia jauh sekali  dari kita, dia  berkilauan sendirian, dia begitu elitis.

Karena itu, seorang pemimpin sejati mesti lebih menyerupai  sebuah satelit  bagi orang-orangnya. Dia dekat dengan rakyat atau umatnya. Dia tidak jauh kemilauan sendirian, berjalan-jalan sambil menikmati sendiri-tak berbagi, dia tidak elitis, tapi mengumat. Demikian refleksi petani itu tentang pemimpin gereja Katolik.
Konsili Vatikan II melihat Gereja sebagai umat Allah yang  sedang dalam perjalanan.

Umat yang menggereja, hidup dinamis. Bukan suatu  lembaga  mati terpaku, yang menekankan kewibawaan  formal, yang aparaturnya bersinar sendiri sampai-sampai lupa masyarakatnya yang miskin. Juga bukan Gereja  yang kelihatan  lebih berhasil membuat orang sembahyang, menyanyi, ketimbang membuat umatnya  bebas dari kemiskinan.

Kewibawaan Rohani
Sekarang orang berbicara tentang krisis ketaatan kepada pemimpin dan krisis kewibawaan pemimpin. Orang tak mudah lagi begitu saja taat kepada pemimpin entah dalam jajaran gereja dan pemerintah.

Ada umat yang unjuk rasa pada  pastor.  Kalau demonstrasi  pada pemerintah, rasanya sudah jadi lazim. Salah satu alasan yakni umat sudah sadar soal sebenarnya  bukan hanya krisis ketaatan tapi di sisi lain ada krisis kewibawaan pemimpin.

Para pemimpin perlu memiliki kewibawaan rohani, bukan hanya mengandalkan kewibawaan formal. Kewibawaan formal adalah tingkatan pengaruh yang diberikan untuk mengatur tingkah laku hidup umat atau rakyat. Kewibawaan ini berasal dari luar, diinstruksikan, diturunkan, terkadang dikongkalikongkan, menurut petunjuk babe dan tante atau atasan yang berwewenang.

Memang, kewibawaan formal  itu perlu sejauh masih berada dalam takaran yang baik. Jika kewibawaan formal terlalu ditekankan tak mustahil  pemimpin memperlakukan umat atau rakyat sebagai hamba di negerinya sendiri atau di gerejanya sendiri.

Pemimpin perlu kewibawaan rohani yakni suatu tingkatan pengaruh dari dalam sang pemimpin itu sendiri, di mana pemimpin itu mampu memperoleh dukungan dan kepercayaan dari umat/rakyatnya.

Mereka memberikan penghargaan secara ikhlas terutama oleh bobot rohani sang pemimpin  yang memiliki kerendahan hati, mendengarkan, menjiwai, menghargai umat/rakyatnya, tidak menggurui atau menganggap diri tahu semua. Oleh kewibawaan jenis ini sang pemimpin diterima, disegani, didengar, diikuti, dipercayai,  dicintai. (Rohaniwan, Dosen Fisip Unwira)

Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help