Opini Pos Kupang

Memberikan Persembahan Persepuluhan

Pada saat itu hasil panen dari warga jemaat dipersembahkan sebagai persembahan sepersepuluhan mereka.

Oleh Dr. Ebenhaizer Nuban Timo

HARI Minggu besok (8 Juni 2014) umat Kristen sedunia merayakan Pentakosta, hari di mana Kristus yang bangkit mencurahkan Roh Kudus untuk membawa dunia pada pengenalan akan Dia.

Di jemaat-jemaat pedalaman Timor, terutama yang warganya hidup sebagai petani, perayaan Pentakosta dihubungkan dengan pengucapan syukur atas hasil panen yang mereka peroleh dari kebun dan sawah, dari kandang dan padang.

Itu sebabnya satu hari setelah perayaan Pentakosta, yakni hari Senin (9 Juni 2014) jemaat-jemaat di desa akan mengadakan kebaktian Pentakosta kedua. Pada saat itu hasil panen dari warga jemaat dipersembahkan sebagai persembahan sepersepuluhan mereka.

Berkenaan dengan itu saya membuat tulisan ini. Fokus tulisan ini adalah persembahan sepersepuluhan. Ada beberapa pokok yang akan disoroti, yakni: 1. Apa itu persembahan sepersepuluhan.

2. Mengapa kita harus memberikannya. 3. Bagaimana sepersepuluhan itu di persembahkan. 4. Apa manfaatnya bagi kita (pemberi) dengan memberikan sepersepuluh kepada Tuhan Allah.

Kita mulai dengan pertanyaan pertama: "Apa itu persembahan sepersepuluhan?"
Secara sederhana, sepersepuluhan adalah satu per sepuluh (1/10) bagian dari hasil kerja kita.

Bagian itu harus dipisahkan untuk dibawa kepada Tuhan. Karena latar belakang perintah Tuhan ini adalah dunia pertanian baiklah kita coba lihat bagaimana para petani melakukan itu. Saya tidak akan mengambil contoh dari Israel. Saya memilih mengambil contoh dari kebiasaan para petani di satu pulau kecil di bagian paling selatan Indonesia, yakni pulau Sabu, seperti yang dilaporkan oleh FH van de Wetering pada tahun 1868.

Setelah sawah selesai dipanen dan bulir padi dilepas dari tangkainya dengan cara di injak-injak, bulir-bulir padi itu ditampung dalam bakul-bakul besar untuk diangkut pulang ke rumah dengan menggunakan kuda. Tiba di rumah, padi-padi itu tidak langsung dibawa masuk rumah. Tapi ditumpukkan ditikar yang dibentangkan di depan rumah, lalu dibagi 10 tumpuk. Satu tumpukan diambil, lalu ditumbuk dan dimasak. Seekor babi yang dipotong. Bersama dengan nasi tadi daging babi itu disajikan untuk semua pekerja, mereka makan bersama sebagai tanda terima kasih dari pemilik sawah.

Tidak lupa sedikit nasi dan sepotong daging dipisahkan untuk jadi sesajen bagi perkakas kerja, juga bagi beni toba, beni pelaku, rai marra, udu mara, nama-nama yang indah bagi tikus dan kucing supaya mereka kelak tidak mencuri hasil panen yang disimpan di lumbung. Setelah makan bersama, 9 bagian yang tersisa itulah yang dibawa masuk ke lumbung.

Dari contoh ini sepersepuluhan adalah bagian ke-10 dari hasil panen. Kalau itu dalam bentuk uang, maka bagian kesepuluh dari pendapatan kita. Ini yang Tuhan minta dari orang Israel untuk melakukannya.

Sekarang pertanyaan kedua, mengapa orang Israel harus memberikan bagian ke-10 itu untuk Tuhan? Secara logis janggal. Yang berkeringan dan terluka selama bekerja adalah manusia. Tetapi hasilnya kok harus disisihkan untuk Tuhan? Ini khan tidak adil?

Ya... Bisa saja ada pikiran seperti itu. Tapi baiklah kita selidik apa latar belakangnya. Kanaan adalah tanah subur. Itu adalah negeri berlimpah susu dan madu. Ia termasuk dalam wilayah di Timur Tengah yang disebut bulan sabit kesuburan yang terbentang antara Iran dan Mesir.

 Jauh hari sebelum Israel menduduki Kanaan, negeri itu`sudah dihuni oleh bangsa-bangsa lain. Lalu kalau Israel mendapatkan Kanaan itu karena Tuhan yang memberikannya kepada mereka. Jadi Kanaan adalah milik Tuhan yang diberikan kepada Israel. Israel adalah petani-petani penggarap. Tuhan adalah tuan tanah. Sudah sewajarnya kalau bagian ke-10 dari hasil pertanian diberikan kepada Tuhan.

Bukankah kebiasaan seperti ini juga yang kita lakukan kalau kita bekerja sebagai penggarap di tanah milik orang? Kewajiban warga negara untuk membayar pajak juga sejajar dengan prinsip ini.

Tuhan yang adalah pemilik hidup dan alam semesta. Dia juga yang memberi hujan, matahari, kesuburan dll. Betapa menjadi orang yang egois kalau melupakan Tuhan saat memperoleh hasil yang baik dalam pekerjaan kita.


Mengapa para petani NTT memberi sepersepuluh dari hasil pertanian mereka sebagai persembahan? Pandangan orang NTT tentang tanah sama dengan pandangan orang Israel. Tanah adalah milik Uisneno atau Deo Rai. Sudah sepatutnya kalau hasil tanah itu juga disisihkan bagi Tuhan, yakni untuk pekerjaan-pekerjaan kemanusiaan dan keadilan.

Kita masuk dalam pertanyaan ketiga. Bagaimana sepersepuluh bagian dari hasil kerja itu kita bawa kepada Tuhan? Ulangan 14:22-27 menunjukkan dua cara: yakni diberikan dalam bentuk natura, yakni berupa jagung, padi, ubi, dan lain-lain. Atau dalam bentuk uang, hasil-hasil pertanian itu ditukar menjadi uang, lalu dibawa ke hadapan Tuhan.

Sepersepuluh bagian itu, menurut Ulangan 14 harus dibawa ke hadapan Tuhan, yakni tempat dimana umat Allah bersekutu. Saya pernah ditanyai: "Bapak pendeta bolehkah persembahan sepersepuluhan kami tidak berikan ke gereja, tapi langsung kepada yang membutuhkan seperti anak-anak yatim di panti asuhan atau kepada orang-orang kurang mampu yang kami kenal?"

Saya balik bertanya mengapa mau diberikan langsung? Jawabnya ada dua. Pertama, ada kekhawatiran persembahan sepersepuluhan itu tidak dipakai oleh gereja untuk membantu yang berkekurangan, tetapi untuk hal-hal lain seperti membangun gedung baru, beli fasilitas canggih, gaji atau urusan organisasi.

Kedua, kalau langsung diberikan ada kepuasan karena mereka tahu bahwa persembahannya tepat sasaran.

Jawaban si bapa menjadi koreksi yang perlu mendapat perhatian, supaya persembahan persepuluhan dipakai untuk pelayanan kepada sesama yang membutuhkan, bukan untuk pembangunan fisik atau penguatan institusi atau sekedar melayani keinginan dan bukan kebutuhan.

"Apa pun juga alasan bapak," demikian saya menjawab dia, "sepersepuluhan harus dibawa ke gereja. Itu kata Tuhan seperti disaksikan Allah. Bapak boleh memberikan bantuan langsung kepada orang yang berkekurangan, tetapi itu tak bisa menggantikan kewajiban memberikan persembahan persepuluhan. Bahwa gereja tidak transparan atau menggunakan persembahan itu, atau majelis jemaat menyalah-gunakan persembahan untuk hal-hal yang tidak mendesak, itu tidak bisa jadi alasan tidak membawa sepersepuluh bagian dari  penghasilan."


Pertanyaan lain yang diajukan: "Bagaimana kalau penghasilan kami sedikit dan tidak seberapa, bahkan kami penerima raskin, dll. Haruskah kami juga membawa sepersepuluh darinya untuk Tuhan?"

Betapapun ini berhubungan dengan pokok keempat, tetapi patut diingat bahwa yang berhubungan dengan kekayaan, manusia selalu tidak pernah katakan dia punya banyak. Selalu saja manusia mengeluh karena belum punya banyak. Jadi kalau tunggu kapan memperoleh banyak, pasti tidak pernah akan memberi.

Sekarang menyangkut pertanyaan terakhir: "Apa faedahnya bagi si pemberi kalau ia memberikan persembahan sepersepuluhnya kepada Tuhan?" Ulangan 14:22-29 memberikan dua jawaban. Pertama di ayat 23: "Supaya engkau belajar untuk takut akan Tuhan Allahmu." Takut akan Tuhan yang dimaksud di sini ialah supaya si pemberi belajar bergantung dan berharap pada Allah.

Bayangkan si A memiliki penghasilan sebulan satu juta rupiah. Sementara kebutuhan keluarganya perbulan sebesar satu juta lima ratus rupiah. Kalau dia harus membawa persembahan sepersepuluhan, maka uang yang sisa padanya adalah sembilan ratus ribu rupiah. Wahhh... Dari mana dia harus mengambil kekurangan enam ratus ribu itu?

Nah... di sini dia belajar bergantung kepada Tuhan. Karena dari usahanya sendiri dia hanya mendapatkan satu juta padahal kebutuhannya satu juta lima ratus ribu, maka dia akan selalu datang kepada Tuhan dalam doa. Dia bergantung kepada Tuhan.

Dengan membawa 1/10 hasil pekerjaannya, sebelum hasil itu dia pakai, maka si pemberi dilatih untuk bergantung kepada Tuhan yang berwujud dalam bentuk disiplin pembelanjaan, yakni membelanjakan apa yang dia butuhkan bukan apa yang dia inginkan.

Manfaat kedua, disebutkan dalam ayat 29 bagian akhir: "supaya Tuhan Allahmu memberkati engkau di dalam segala usaha yang dikerjakan tanganmu." Secara singkat ayat ini hendak menegaskan bahwa, "tangan yang terulur untuk memberi dalam ketaatan kepada Tuhan tidak pernah akan dibiarkan Tuhan menjadi kosong. Tuhan akan terus mengisi tangan itu dengan berkat-berkat yang berguna.  (Dogmatikus di Salatiga, Menyelesaikan Studi Doktor di Kampen-Belanda)

Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved