Opini Pos Kupang

Momentum Menafsirkan Kembali Cara Beragama Kita

Isra' adalah perjalanan Nabi di malam hari dari Mekkah hingga ke Jerusalem.

Momentum Menafsirkan Kembali Cara Beragama Kita
PK/VEL
Efraim Benyamin Djara Dima, SPd yang memerankan Tokoh Tuhan Yesus, pada Pentas Salib yang digelar di Taman Nostalgia Kupang, Kamis (28/3/2013) malam.

DALAM pekan ini umat Islam merayakan peringatan Isra' dan Mi'raj Nabi Muhhamad SAW dan umat Kristiani merayakan Kenaikan Yesus Kristus (Isa Almasih). Koinsidensi kedua hari raya keagamaaan ini menarik untuk dibahas relevansinya bagi kehidupan spiritual umat beragama, paling tidak untuk umat muslim dan umat kristiani dalam ziarah iman yang sama, meskipun berada pada lajur yang berbeda.

Isra' adalah  perjalanan Nabi di malam hari dari Mekkah hingga ke Jerusalem. Mi'raj, perjalanan lanjutan dari Jerusalem menuju ke langit ke tujuh diteruskan ke suatu puncak yang disebut Sidratul Muntaha. Konon pada saat itulah Nabi bertemu Allah, dan menerima ajaran tentang shalat lima waktu. Kenaikan Yesus Kristus adalah peristiwa terangkatnya Yesus ke Surga, kembali kepada BapaNya untuk kelak datang kembali dalam cara yang sama.

Terlepas dari dogmatik Islam dan Kristen yang berbeda secara radikal,  dalam tafsiran teologi yang umum, peristiwa Is'ra dan Mi'raj, terutama Miraj' Nabi dan Terangkatnya Yesus ke Surga, dimaknai sebagai peristiwa naik atau berada di atas dan melampaui sesuatu yang ada di bawah.

Mungkin bisa disepadankan dengan aufhebung dalam filsafat Hegel: yaitu kondisi di mana tahap-tahap perkembangan yang lebih rendah dapat dilampaui karena adanya sintesis baru yang lebih baik dan berasal dari keadaan-keadaan sebelumnya. Mi'raj Nabi dan Kenaikan Yesus Kristus adalah fenomena di mana Nabi Muhammad mampu melampaui situasi-situasi material dalam kehidupan duniawi lalu "naik" untuk "manunggal" dengan kenyataan yang Benar (al haqq) dan Yesus Kristus menyatu dengan BapaNya di Surga.

Orang yang beriman, tidaklah sempurna keimanannya jika hanya berhenti menjadi -meminjam bahasa pemikir besar Iran, Ali Syari'ati- basyar atau manusia sebagai jasad dan badan, tetapi tidak mampu naik lebih jauh lagi menjadi "insan" atau manusia sebagai "roh" yang sadar dan bergerak ke arah kemungkinan-kemungkinan yang baik. Mi'raj Nabi dan Kenaikan Yesus Kristus menandai keadaan di mana kedua utusan Allah ini menjadi "insan" sepenuh-penuhnya karena saat itulah mereka bertemu dengan sumber kebenaran yang murni yakni Allah.

Apakah mi'raj adalah sesuatu yang hanya bisa dialami dan terjadi pada Nabi Muhammad SAW dan kenaikan ke Surga hanya dialami oleh Yesus Kristus yang bangkit? Historisitas fisik barangkali iya. Namun jika kedua peristiwa ini dimaknai secara spiritual sebagai "kemanunggalan" dengan Allah, begitu dekat dengan-Nya, maka setiap umat Islam bisa dan bahkan dianjurkan mengalami Mi'raj Nabi demikian juga halnya setiap umat Kristen harus dan bisa mengalami peristiwa Kenaikan Yesus ke Surga dalam kesehariannya.

Dalam tafsiran yang lebih sekuler Mi'raj Nabi dan Kenaikan Yesus Kristus bisa dimaknai sebagai kemampuan untuk "melampaui batas", transendensi. Seorang manusia sebagai basyar, sebagai jasad, adalah hanya seorang agen dengan kemampuan rohaniah yang begitu rendah sehingga tidak mampu melalukan takhannuts, berpuasa atau penjarakan terhadap situasi-situasi material yang mengukungnya.

Sebaliknya manusia sebagai "insan" adalah seorang agen dengan kemampuan rohaniah yang tinggi sehingga bisa melampaui batas-batas material dalam kehidupan duniawi. Hendaknya setiap orang beriman dapat mengalami itu, sehingga  mampu melampaui pengkotak-kotakan yang tercipta karena situasi kehidupan nyata dan mencapai esensi kebenaran yang melampaui kotak-kotak itu.


Dalam konteks ini jika pengertian kedua peristiwa ini hendak dimaknakan secara radikal, maka kemampuan melampaui batas ini bisa juga berarti kemampuan untuk memahami esensi dan semangat Islam dan Kristen untuk melampaui ketentuan-ketentuan yang tertulis secara harafiah dalam Kitab Suci atau bahkan ucapan-ucapan Nabi dan Yesus sendiri.

"Menjadi Islam" dan "Menjadi Kristen" tidak cukup sekadar mengikuti secara benar dan literal semua yang tertulis dalam agama, tetapi juga harus mampu menembus tulisan dan huru-huruf dalam agama itu hingga ke inti sendiri.

Salah satu tantangan besar yang dihadapi umat beragama saat ini adalah makin popular dan kuatnya pandangan-pandangan keagamaaan yang literal, yang harafiah. Atau yang biasa disebut dengan keberagamaan formal. Pandangan ini berkembang justru mewakili kehendak umat Islam dan Kristen untuk mencari "identitas" sebagai "Muslim atau Kristen yang unik", di tengah serbuan globalisasi yang hendak melampaui "identitas-identitas sempit".

Kecenderungan keislaman dan kekristenan yang demikian jelas berlawanan dengan semangat mi'raj dan Kenaikan Yesus itu sendiri. Karena dengan agama formal kita terjebak untuk membangun  monumen hebat tetapi penuh kemunafikan, penyelewenangan dan ketidak-adilan. Rajin berdoa namun tak pernah membiarkan satu detikpun berlalu tanpa menerir dan menindas orang dan agama lain. Rajin memberi sedekah tetapi juga gemar melakukan korupsi.

Setiap umat beragama -dalam konteks tulisan ini setiap umat Muslim dan Kristen- pantas membangun suatu identitas khusus dengan kembali kepada ketentuan-ketentuan dalam ajaran masing-masing. Namun, identitas kemusliman dan kekristenan itu tidak bisa dibangun secara terisolasi dari identitas-identitas lain yang lebih luas, yaitu identitas kemanusiaan universal yang tidak mengenal batas agama, suku, budaya atau batas -batas artifisial lain yang biasa muncul sebagaimana kemestian kehidupan duniawi yang nyata.

Kehendak membangun identitas kemusliman dan kekristen yang seolah terpisah sama sekali dari common denominator kemanusiaan yang umum justru membawa akibat negatif terhadap Islam dan Kristen itu sendiri. Keberadaan Islam dan Kristen dalam dunia ini tidak dimaksudkan untuk saling menegakan benteng yang memisahkan diri dari manusia-manusia lain yang kebetulan terperangkap dalam kotak-kotak yang lain pula. Apalagi saling menegasikan. Karena itu Islam dan Kristen sama-sama berlomba untuk mewujudkan jati dirinya sebagai rahmat dan berkat untuk satu sama lain.

Koinsidensi kedekatan peringatan Mi'raj Nabi dan Kenaikan Yesus Kristus memang menunjukkan suatu identitas, ada umat Islam, ada umat Kristiani. Namun sekaligus juga mengajarkan dan mengajak masing-masing umat untuk "melampaui" atau "menembus" identitas terbatas itu untuk merengkuh identitas yang lebih luas yaitu identitas sebagai "insan" atau manusia yang dicipta menurut gambar Tuhan.

Kehidupan bangsa dan Negara Indonesia saat ini terkoyak dengan berita pelecehan seksual terhadap anak-aanak. Televisi mengumandangkan tanggap darurat nasional atas situasi ini. Namun kita ditertawakan dunia karena masing-masing justeru menarik garis demarkasi pembenaran diri itu pelaku Kristen atau Islam tanpa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan anak-anak ini.

Mungkin kita lupa bahwa Islam dan Kristen, yang berasal dari satu bapak lain ibu, datang justru untuk "memfasilitasi" setiap orang beriman untuk berjumpa (dalam pengertian encounter) tidak hanya dengan saudara sebapak tetapi juga dengan manusia-manusia lain bukan untuk memisahkan mereka diri dari kemanusiaan universal agar bersama-sama diselamatkan. Maka marilah kita jadikan Mi'raj Nabi, dan Kenaikan Yesus Kristus, sebagai momentum untuk menafsirkan kembali cara beragama kita selama ini. Agar keberadaan kita sungguh menjadi rahmat dan berkat bagi yang lain.  (Oleh JB Kleden, PNS pada Kementerian Agama)


Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved