PosKupang/

Jurnalisme Warga

Jalan Moro-Kopong Rusak Delapan Tahun

Kondisi ruas Jalan Wairotan-Apinggoot-Baobatung-Kopong-Gloir-Geliting sangat memrihatinkan.

Jalan Moro-Kopong Rusak Delapan Tahun
POS KUPANG/JULIANUS AKOIT
Tampak sebuah lubang kubangan berlumpur di ruas jalan Asam Tiga - Oe Baboa. Kendaraan harus menepi, menghindari kubangan berlumpur yang menghadan 

POS KUPANG.COM, MAUMERE--Kondisi ruas Jalan Wairotan-Apinggoot-Baobatung-Kopong-Gloir-Geliting sangat memrihatinkan. Ruas jalan itu melewati lima desa di Kecamatan Kewapante-Sikka. Kelima desa yang dilewati adalah  Desa Wairkoja, Desa Umagera, Desa Iantena, Desa Kopong, dan Desa Geliting.  Bila Anda mengunjungi daerah Baobatung atau Kopong, dijamin perjalanan Anda akan sangat terhambat.

Dari Wairotang hingga Apinggoot perjalanan Anda menjadi sangat membosankan karena kondisi jalan yang telah rusak. Banyak jalan berlubang. Material jalan terlepas menyisakan tanah yang berabu bila dilalui kendaraan. Keadaan ini menyebabkan pengendara harus mengurangi kecepatan kendaraannya.

Ruas jalan yang rusak akan Anda jumpai hingga Baonilot. Memasuki Baobatung hingga Moro sedikit perjalanan Anda terasa nyaman karena kondisi jalan lebih baik dari sebelumnya. Namun bila Anda melanjutkan perjalanan menuju Kopong, dijamin Anda tidak mampu membedakan jalur jalan raya atau jalan setapak. Jalur jalan Moro-Kopong sudah ditinggalkan oleh pemerintah sejak delapan tahun yang lalu tanpa perbaikan. Ruas jalan semakin sempit dengen tertimbunnya tanah di atas badan jalan. Hal inilah yang menyebabkan rerumputan tumbuh liar dibahu jalan hingga di atas badan jalan.

Pemandangan jalan yang menyerupai jalur jalan Wairotan- Apinggoot akan Anda temui dalam perjalanan Kopong-Gloir- Geliting. Badan jalan akan menjadi danau-danau kecil saat musim penghujan tiba.

Keadaan ini seakan dibiarkan begitu saja tanpa perhatian. Bupati Sikka, Drs. Yos Ansar Rera, sudah pernah melalui jalur jalan Wairotan-Baobatung saat melantik Kepala Desa Iantena beberapa waktu lalu. Namun setelah satu tahun belum ada tanda-tanda diperbaiki.

Mata pencaharian masyarakat pada lima desa tersebut sebagian besar adalah petani. Petani yang mengharapkan sesuap nasi pada hasil panen jagung, padi, ubi-ubian serta hasil perkebunan seperti jambu mete, kelapa, kemiri, asam. Namun lagi-lagi masyarakat berada pada posisi yang tidak beruntung. Harga semua komoditi di atas, tidak sebanding dengan biaya, tenaga yang dikeluarkan untuk mendapatkan hasil itu. (Oleh Yohanes N Bunga/warga Apinggoot, Desa Umagera-Sikka)

Editor: benny_dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help