Opini Pos Kupang

Pergi Kepada Allah Adalah Bertemu Sesama

Saya hanya bisa datang kepada Allah dengan menjadi pribadi yang secara etis peduli dan penuh perhatian terhadap orang-orang di mana saya berada.

Pergi Kepada Allah  Adalah Bertemu Sesama
POS KUPANG/ALFRED DAMA
Patung Yesus Kristus ukuran sangat besar ambil bagian dalam Pawai Paskah 2013

EMMANUEL Levinas (1906-1995), seorang filsuf Yahudi-Prancis yang sangat gigih mempopulerkan gagasan hidup bersama dalam damai dengan dia yang lain mengatakan hal menarik berikut ini: "Going towards God is meaningless unless seen in terms of my primary going towards the other person. I can only go towards God by being ethically concerned by and for the other person."

Datang kepada Allah adalah kehampaan kecuali diwujudkan dengan kesediaan untuk pergi kepada sesama. Saya hanya bisa datang kepada Allah dengan menjadi pribadi yang secara etis peduli dan penuh perhatian terhadap orang-orang di mana saya berada.

Saya menjadikan penegasan Levina ini sebagai pijakan untuk berbicara tentang Petrus dan Yohanes yang datang ke Bait Allah untuk berdoa beberapa waktu setelah peristiwa Pentakosta (Kis. 3:1-10). Dikatakan bahwa di pintu gerbang Indah Bait Allah selalu ada seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahir. Ia duduk di situ untuk minta sedekah dari orang-orang yang masuk ke Bait Allah untuk berdoa.
Orang ini mengalami masalah hidup yang akut, bukan hanya secara fisik karena lumpuh, bukan juga sekedar finansial sebagai peminta-minta, tetapi juga secara psikologis karena penyandang cacat dan religius sebab dianggap sebagai orang kelas dua dalam strata keagamaan Yahudi.

Bertahun-tahun si lumpuh berada di situ melihat orang-orang keluar masuk Bait Allah bertemu Tuhan. Tidak banyak yang memperhatikan dia. Kalau pun ada hanya sekadar sebagai something bukan someone. Ada yang mungkin memberi dia uang, tetapi tanpa melirik atau menatap. Orang-orang ini fokus kepada Allah. Kerinduan untuk datang kepada Allah, perhatian pada aturan-aturan haram dan halal menyedot andrenalin mereka sehingga si lumpuh terabaikan.

Kalau para pengunjung ibadah saja sudah mengabaikan si lumpuh, betapa lebih lagi sikap para pemimpin agama dan pemuka masyarakat. Salah satu aturan kesucian bagi seorang pemimpin ibadah kurban adalah selalu harus mengambil jarak dari orang kebanyakan, apalagi yang punya masalah. Sikap ini secara demonstratif ditujukkan dalam sikap sang iman yang mengambil jalan lain saat melihat korban yang jatuh ke tangan penyamun di perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho sebagaimana yang dikisahkan Yesus dalam Lukas 10:30-45.

Aturan kepejabatan tadi, tidak hanya berlaku di Israel. Indonesia pun mengenal tata krama protokoler kepejabatan. Sudah merupakan kelaziman bahwa begitu jadi pejabat seseorang harus dilindungi dari sebanyak mungkin kontak dengan masyarakat umum atau rakyat jelata. Pejabat adalah wakil rakyat, tetapi ia tidak boleh terlalu dekat dengan rakyat supaya bisa lebih konsentrasi memikirkan perbaikan nasib rakyat. Ini menjadi semacam budaya aristokrasi. Manakala budaya aristokrasi ini dibumbuhi lagi dengan pandangan teologis yang diciptakan sendiri bahwa pejabat wakil Allah (padahal ia adalah hamba Allah) maka sempurnahlah sikap pejabat untuk menjauhkan diri dari rakyat supaya bisa lebih dekat kepada Allah.

Karena pendirian ini maka tidaklah ada harapan bahwa pejabat-pejabat di Bait Allah akan bertemu dengan si lumpuh di gerbang Indah. Jalan untuk mereka datang ke Bait Allah lain rutenya. Kalau pun sama, mereka akan dikawal sehingga tidak bisa bertemu dengan peserta ibadah lain apalagi oleh si lumpuh.
Padahal kalau jujur ada banyak masalah dan penyakit dalam masyarakat yang dihadapi rakyat 50% akan teratasi jika pajabat dan rakyat bisa berkomunikasi satu dengan lain. Kedekatan jarak inilah yang tidak pernah dialami oleh si lumpuh di gerbang indah dan karena itu masalah ia alami makin hari makin rumit.

Tetapi... Pada suatu siang, si lumpuh serta merta sembuh. Itu terjadi begitu saja, tanpa obat atau perawatan medis khusus. Ia sembuh karena ada perhatian, perlakuan ramah dan penghargaan kepada dirinya sebagai manusia. Ia sembuh karena mendapat perlakuan kasih dan penerimaan hangat. Semua itu dia terima dari Allah melalui Petrus dan Yohanes, dua tokoh pemimpin jemaat mula-mula.
Petrus dan Yohanes tidak tunduk pada budaya aristokrasi tadi. Mereka menyempatkan diri berbicara dan berbincang-bincang dengan si lumpuh.

Akibatnya luar biasa. 100% penyakit si lupuh terobati. Si lumpuh menjadi pribadi yang sehat. Ia berjalan di belakang Petrus dan Yohanes untuk bertemu dengan Tuhan.

Lukas menempatkan cerita tadi di jilid kedua dari kitab yang dia tulis kepada Teofilus. Teofilus disebut dengan sapaan yang mulia. Agaknya Teofilus adalah seorang berkedudukan tinggi dalam wilayah kerajaan Roma, yang menaruh simpati pada Yesus. Kalau begitu agaknya Lukas melalui cerita ini mau mengingatkan kepada pejabat-pejabat bahwa ada warga masyarakat yang mengalami nasib seperti si lumpuh. Dia mengalami krisis kehidupan. Kesembuhan memang datang dari Tuhan, tetapi para pemimpin memainkan peranan penting dalam proses ke arah itu, yakni apabila mereka tidak mengambil jarak dari masyarakat tetapi membangun komunikasi yang intense, bersedia berdialog dan memberi perhatian pada keluhan dan kesulitan-kesulitan yang masyarakat hadapi.

Cerita ini Lukas tempatkan di awal jilid kedua buku yang dia siapkan untuk berkisah tentang sejarah pertumbuhan gereja. Rupanya, Lukas tidak hanya sekedar mau menunjukkan kepada para pejabat pemerintahan seperti Teofilus. Dia juga mau mengingatkan para pejabat dalam gereja bahwa status mereka sebagai pelayan Allah, tidak berarti mereka harus menjauhkan diri dari pertemuan yang bersifat langsung dan personal dengan sesamanya manusia. Menjadi pelayana Allah tidak lain adalah memperhatikan dan peduli terhadap orang-orang yang ada di sekitar kehidupan, terutama mereka yang mengalami berbagai pergumulan.  (Oleh Dr. Ebenhaizer Nuban Timo, Dogmatikus di Salatiga, Menyelesaikan Studi Doktor di Kampen-Belanda)

Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help