Opini Pos Kupang

Healthcare City

Banyak orang Indonesia lebih suka berobat sembari memperkaya negri jiran ini daripada negeri sendiri.

Healthcare City
Maksi Marho
SENIOR--Senior Advisor Kupang Hash House Harrierrs, Charles Pitoby (kiri), didampingi Letty Lyadi dan TheoWidodo, di Kantor Pitoby Tour And Travel Kupang, Kamis (20/2/2014)

DUDUK menemani seorang sahabat yang menanti giliran dipanggil untuk konsultasi medis di salah satu rumah sakit di Penang-Malaysia bikin perasaan jadi galau.  Pasalnya, selama menunggu lebih dari enam jam itu ada rasa kebangsaan yang terusik. 

Nama-nama yang kedengaran dipanggil perawat kebanyakan adalah nama-nama Indonesia.  Artinya, pasien rumah sakit ini lebih banyak orang Indonesia daripada bangsa lain.  Banyak orang Indonesia lebih suka berobat sembari memperkaya negri jiran ini daripada negeri sendiri.

Sambil menanti, saya ngobrol dengan salah satu pasien berusia tujuh puluhan yang duduk di sebelah saya.  Pria asal Medan ini tahu banyak tentang Penang karena ditahun tujuh puluhan dia pernah beberapa kali mengunjungi Penang.  Maklum,
Penang tetangga dekat Medan.  Hanya dua puluh lima menit penerbangan.
Menurut dia, Penang di masa itu masih berupa sebuah daerah terbelakang.  Kota Penang laiknya kampung yang dikelilingi hutan belantara.  Jalan nyaris semua tak beraspal.  Listrik seadanya. 

Rumah-rumah sederhana semi permanen.  Pokoknya Penang betul-betul ndeso.  Penduduknya miskin dengan mata pencaharian mayoritas petani dan nelayan.  Penang adalah potret buram khas negara terbelakang.  Indonesia kala itu sudah jauh lebih maju.  Indikasinya ada.  Salah satunya menurut orang Medan ini,  banyak guru yang didatangkan dari Indonesia untuk mengajar di sana.

Seiring perjalanan waktu, dalam tempo tiga puluh tahun kota dan pulau ini telah berubah drastis.  Pertumbuhannya begitu pesat jauh melampaui kota-kota besar di Indonesia, termasuk Medan kota besar tetangga seberangnya yang berpenduduk 2,6 juta jiwa.  Kemajuan luar biasa dalam tempo singkat ini berkat adanya beberapa rumah sakit yang dibangun pemerintah dan swasta sekitar tahun tujuh puluh sampai delapan puluhan. 

Penang yang miskin terbelakang dengan cepat berubah menjadi Penang yang metropolitan dan kaya raya.  Pemerintah Malaysia berhasil menjadikannya destinasi utama wisata kesehatan.  Salah satu progam pemerintah ketika itu adalah  "Penang healthcare city".  Sektor industri seperti elektronik dan IT pun tumbuh pesat seiring perkembangan wisata kesehatan di kota ini.  Indonesia yang terlalu luas dengan pemerintahan sentralistik ketika itu (bahkan sampai sekarang) bersikap masa bodoh terhadap wilayah pinggiran.  Akibatnya wilayah Indonesia di sekitar Penang ketinggalan jauh dalam hal fasilitas kesehatan. Laksana sebuah etalase yang mendisplay barang bagus dengan harga murah persis di depan muka hidung pembeli, Penang berhasil menarik banyak pembeli dari wilayah perifer Indonesia yang jauh dari ibukota. 

Minimnya fasilitas kesehatan modern di Indonesia ini jadi berkat buat Penang.  Belakangan, yang berobat ke sana bukan hanya warga Indonesia sekitarnya, tapi juga dari tempat yang jauh.  Bahkan orang Jakarta pun ikut ikutan ke sana.  Padahal  fasilitas di Jakarta tak kalah canggih.  Padahal pelayanan di Penang belakangan bisa dibilang tidak seramah dulu lagi.  Para dokter memeriksa pasien sekenanya saja, terburu-buru karena berjubelnya pasien.  Perawat sering ketus dalam berkomunikasi. 

Barangkali saja ibarat sebuah product branded, Penang sekarang merasa tidak perlu lagi takut kehilangan pembeli.  Maka pelayananpun boleh suka-suka.
Pikiran saya lalu menerawang jauh ke kampung halaman.  Kupang.  Letak geografis Kupang yang sangat strategis ini seharusnya bisa jadi "Penang" di Indonesia timur.  Bersebelahan langsung dengan negara Timor Leste yang belum memiliki fasilitas kesehatan memadai.  Jarak anjungan minyak celah Timor ke Kupang yang sangat dekat, bahkan lebih dekat ketimbang ke Australia.  Rupiah yang murah juga bisa jadi daya tarik tersendiri bagi penduduk Northern Teritory Australia, kendati di sana fasilitas kesehatan lebih dari memadai.  Mereka bisa sekaligus mengunjungi tempat tempat pariwisata di NTT.  Buat provinsi tetangga, barangkali juga mereka akan lebih tertarik ke Kupang daripada ke Jawa, apalagi daerah tingkat dua dalam provinsi NTT sendiri.

Kenapa Kupang tidak belajar dari sukses Penang? Kalau saja di Kupang bisa dibangun beberapa rumah sakit bertaraf internasional, saya yakin "sukses Penang" bukan sesuatu yang mustahil buat Kupang.  Syaratnya cuma satu.  Kupang harus cukup seksi bagi para investor.  Mesti ada karpet merah buat mereka ini.  Beri banyak kemudahan seperti tax holiday, kemudahan perizinan, kepastian status lahan, keberpihakan pemda dan pemerintah pusat, kurangi regulasi perda perda yang memberatkan pengusaha, bangun prasarana penunjang seperti bandara internasional yang memadai dan sebagainya.  Dengan begitu saya yakin akan ada banyak rumah sakit swasta menyusul Rumah Sakit Siloam, seperti hotel berbintang yang tumbuh menjamur sekarang.

Pemerintah juga jangan tanggung-tanggung.  Berapa sih biaya membangun sebuah rumah sakit bertaraf internasional?  Terlalu kecil buat pemerintah.  Sebagai pemilik modal raksasa,  pemerintah sangat mampu jadi lokomotif dalam progam ini dengan membangun rumah sakit modern bertaraf  internasional.  Lengkapi dengan fasilitas canggih.  Perbanyak jumlah dokter spesialis (tentu dengan bayaran yang memadai.  Tidak seperti sekarang ini, gaji dokter di UGD rumah sakit umum cuma sekitar dua juta rupiah, jauh di bawah gaji seorang guru. Juga jangan ada diskriminasi dalam pendidikan dokter spesialis sehingga bisa menghasilkan banyak dokter spesialis yang hebat hebat). 

RSU bertaraf internasional ini perlu dibangun, sebab di mana-mana yang namanya General Hospital itu pasti selalu menjadi tumpuan utama rumah sakit swasta dalam hal peralatan.  Di Singapura misalnya.  RS Mount Elizabeth, Glenn Eagle dan lain- lain yang katanya hebat.  Mereka semua masih sangat tergantung pada General Hospitalnya.

Jangan lupa perlu juga roadshow ke mana-mana, termasuk ke pemerintah pusat dan para konglomerat. Dengan berbagai terobosan ini, hadirnya rumah sakit bertaraf internasional adalah sebuah keniscayaan.  Maka Kupang yang tidak punya sumber daya alam tidak perlu lagi terlalu tergantung pada APBN.

Kupang bisa jadi healthcare city.  Asalkan kita semua peduli. Waduh, tiba-tiba ada yang membangunkan saya dari mimpi.  Si sohib ini sudah selesai konsultasi dokter. Dia tanya "Kapan RS Siloam jadi?" "Iya, kapan ya?". ( Oleh Theodorus Widodo, Wakil ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) NTT)

Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved