MENGGUNCANG Dunia dengan Tarian

Delapan remaja meliukkan tubuhnya diiringi musik etnis daerah Belu. Gerak kaki, tangan dan tubuh mereka selaras dengan musik yang dimainkan rekannya.

MENGGUNCANG Dunia dengan Tarian - upt_taman_budaya_(1).JPG
POS KUPANG/NOVEMY LEO
UPT TAMAN BUDAYA --- Kepala UPT Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Eldi Sius Angi, bersama para penari Bidu Hodi Hakdau asal Belu-NTT, dalam acara Galadinner Charity Ethnic Fashion Show & Green Kupang di Swiss-Belinn Kristal Kupang, Sabtu (29/3/2014) malam.
MENGGUNCANG Dunia dengan Tarian - upt_taman_budaya_(6).JPG
POS KUPANG/NOVEMY LEO
PENARI PRIA --- Penari Pria dari UPT Taman Budaya Dinas pendidikan dan kebudayaan NTT, menarikan Bidu Hodi Hakdau asal Belu-NTT, dalam acara Galadinner Charity Ethnic Fashion Show & Green Kupang di Swiss-Belinn Kristal Kupang, Sabtu (29/3/2014) malam.
MENGGUNCANG Dunia dengan Tarian - upt_taman_budaya_(15).JPG
POS KUPANG/NOVEMY LEO
PENARI WANITA --- Penari Wanita dari UPT Taman Budaya Dinas pendidikan dan kebudayaan NTT, menarikan Bidu Hodi Hakdau asal Belu-NTT, dalam acara Galadinner Charity Ethnic Fashion Show & Green Kupang di Swiss-Belinn Kristal Kupang, Sabtu (29/3/2014) malam.
MENGGUNCANG Dunia dengan Tarian - eldi_sius_angi.JPG
POS KUPANG/NOVEMY LEO
Elda Sius Angi, Kepala Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Delapan remaja meliuk-liukkan tubuhnya diiringi musik etnis daerah Belu. Gerak kaki, tangan dan tubuh mereka selaras dan harmonis dengan musik yang dimainkan oleh rekan mereka. 

Busana adat modifikasi yang dikenakan mereka pun sangat 'semarak' sehingga mampu memeriahkan seni pertunjukkan di panggung.

Dari menit pertama hingga terakhir, ratusan pasang mata undangan tak berkedip. Aplaus panjang terjadi saat para penari mengakhiri tarian Bidu Hodi Hakdau asal Belu dengan mengangkat seorang penari wanita dalam posisi tubuh tengkurap.

Tarian adat Bidu Hodi Hakdau  telah dimodifikasi gerakannya oleh Kareografer Melki JE Neolaka, M.Sn, putra asal NTT. Racikan  jebolan ISI Yogyakarta ini sangat harmonis dilihat.

Tarian ini menggambarkan rasa syukur dan bahagia masyarakat terhadap hasil yang dicapai seperti menang perang atau mendapatkan hasil panen berlimpah.  Dalam tarian itu para pria menampilkan gerakkan keras sebagai lambang sosok pria yang kuat dan perkasa. Sementara gerakan gemulai wanita yang memukul tebe tebe menunjukkan kelembutan seorang wanita.

Para penari adalah sebagian kecil dari anggota sanggar Laboratorium UPT Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT. Malam itu, selain Tarian Bidu Hodi Hakdau, para penari juga menampilkan tarian Ledi Tua dari Kabupaten Sabu dan Rote Ndao  NTT.

Kepala Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Eldi Sius Angi, ditemui sebelum pertunjukan, mengatakan, hingga saat ini sudah ada ratusan hingga ribuan pelajar SD, SMP dan SMA serta masyarakat umum yang menjadi anggota dari Laboratoriun UPT Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT.

Setiap hari Rabu, anak anak dilatih sejumlah tarian adat/tradisional juga tarian modifikasi, serta dilatih bermain musik dari alat musik tradisional. Pelatihan ini diberikan oleh dua tenaga teknis, yakni sarjana tari Widyawati dan Marsela Klau serta sarjana musik Paulina Samosir dan Muhadi Yolanda.

Bahkan sesekali, khususnya saat akan menggelar atau mengikuti evet khusus, maka akademisi dari ISI Yogyakarta yakni Jemi Neolaka dan Floribertus Pono, akan terbang ke Kupang untuk memberikan pelatihan intens.

Sejumlah prestasi sudah diraih tiga tahun terakhir ini seperti Juara Umum Parade Tari Tingkat Nasional tahun 2011; juara lima Parade Tari Tingkat Nasional tahun 2012 serta juara kelima Parade Tari Nusantara Tingkat Nasional tahun 2013 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Bahkan bulan Juni 2014 ini, Tarian Bidu Hodi Hakdau akan kembali ditampilkan di Papua Nugini.

"Sudah saatnya putra-putri NTT mencintai dan mampu memperkenalkan dan mengembangkan adat istiadat budaya daerah NTT ke luar NTT. Dengan tarian dari NTT kita bisa 'mengguncang' dunia," kata Eldi.

Ia menjelaskan, setiap saat usai latihan tari dan musik di UPT Taman Budaya di Kupang, anak-anak biasa memanfaatkan waktu untuk berdiskusi tentang apa saja.

"Jadi, ke UPT Taman Budaya bukan hanya sekadar latihan tari dan musik, namun juga bisa berbagi ilmu seni dan berdiskusi tentang berbagai hal yang menjadi perhatian masyarakat saat ini," kata Eldi.

Penulis: omdsmy_novemy_leo
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved