Puisi: Pada Gerimis Terakhir

Hari-hari bergumpal dalam tahun berjumlah tiga dasawarsa di luar sana, hidup yang sakral, sudah mati di sana-sini tinggal hanya materi

Puisi: Pada Gerimis Terakhir
istimewa
ILUSTRASI 

Puisi Gerardus Bibang

Cuma Sekedar Angka

hari-hari bergumpal dalam tahun berjumlah tiga dasawarsa
di luar sana, hidup yang sakral, sudah mati
di sana-sini tinggal hanya materi

tetes-tetes gerimis jatuh dalam rombongan kecil di ujung matanya yang sepi
kekasih bergeming dari detik-detik bersiur tanpa angka
acuh dari suara-suara berdesak tanpa arti
tetes-tetes gerimis terakhir jatuh sendiri
pasti ini untuk yang terakhir kali
kekasih tetap bergeming
ia tahu kepada SIAPA, ia percaya
segala yang terjadi ada gunanya
meski belum jelas untuk apa peruntukannya

gerimis terakhir kian deras
air mata kekasih mengucur, bergumpal-gumpal
ingin ia keringkan tapi untuk apa
gerimis sudah cukup menyadarkannya bahwa percuma untuk mengeringkannya

(gnb:minggu:jkt:23.3.14 )

Untuk Biru

terbentang hijau itu
seakan tanpa penghujung dan tanpa cakrawala
terbentang di bawah naungan biru
menyapa sesosok biru yang sedang berkembara

entah untuk apa dia berkembara, tak satu pun yang tahu
langkahnya yang sudah dimulai dengan hitungan satu
tak akan lagi dia berlangkah surut

cinta menjadi-diri terus membekas di dalam kepala dan hatinya
di antara riuh pasar tengik dan kecamuk rasa yang tak berkesudahan
cinta yang sama membuatnya bertahan
untuk tegar demi  menyentuh kaki langit
meski sebelum sampai di sana, dia mungkin sudah mati

Halaman
12
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved