Cerpen: Ada Pesan yang Belum Tersampaikan

Jangan paksa aku menangis lagi, wahai hujan. Aku telah berjanji pada malam kalau aku tak ingin menangis lagi untuk kesekian kalinya.

Cerpen:  Ada Pesan yang Belum Tersampaikan
istimewa
ilustrasi cerpen

Roda kehidupan berputar begitu pesat. Harapan ayah, hanyalah harapan yang nihil. Harta miliknya tak tersisa. Sementara doa ibu, hanyalah doa semu kepada angin, yang tak punya tujuan dan arah yang jelas, lantas tak akan pernah bersambung dan mengamini ke titik bahagia.

 Sekali lagi aku hanya sepotong manusia yang tak ada artinya. Sulur-sulur kehidupan  tak jua gapai bahagia. Mimpi-mimpiku membintang sejuta. Angan-anganku membulan seribu. Harapanku kandas hadirkan derita tak berhujung.

Jadi, sudah seharusnya aku berhenti berlari mengejar pelangi harapanku. Aku berhenti kuliah dan kembali ke tanah asalku. Pulang tanpa membawa apa-apa.

                  ***

"Hari-hari terakhir di tanah perantauan, ayah hanya bisa mengucapkan sepenggal kalimat ketika ia mendengar bunyi stom kapal yang akan mengantar ayah kembali. "Wahai tanah perantauan, aku gagal menaklukkanmu."

Ayah menangis ketika harus kalah dalam persaingan hidup dengan perantau-perantau lain.  Ayah tak bisa berbuat apa-apa karena kelemahan ekonomi. Namum, berselang beberapa saat sebelum keberangkatan ayah, ayah mendapat sebuah surat yang  langsung ia baca isinya.

Isinya sederhana, namun merampas seluruh isi hati hingga membuatnya diam dan mengusap-usap dada di pelabuhan itu. Tepat bersama deburan ombak yang memecah di bibir pantai.

Di dalam kertas itu tertera tulisan tetang sebuah arti rasa syukur dalam kehidupan. Bahwa sesusah apapun kehidupan ini, kita mestinya bersyukur. Dan, pada kata-kata terakhirnya, bertuliskan nama sang ayah yang tertulis. Anak itu termasuk mahasiswa berprestasi dan mendapat beasiswa hingga akhir kuliahnya.

"Lelaki tua itu berhenti bercerita dan tersenyum sembari memeluk anak sulungnya yang kini sudah menjadi seorang pemimpin.

Dalam hidup ini, selain bersyukur dalam keadaan apapun,  kita tidak bisa menjadi pemenang kalau kita tidak pernah kalah dalam melewati cobaan sekecil apapun. Kita harus kalah dalam kehidupan ini dan harus turut merasakan pahitnya hidup yang teramat menyiksa.

Halaman
1234
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help