Cerpen: Ada Pesan yang Belum Tersampaikan

Jangan paksa aku menangis lagi, wahai hujan. Aku telah berjanji pada malam kalau aku tak ingin menangis lagi untuk kesekian kalinya.

Cerpen:  Ada Pesan yang Belum Tersampaikan
istimewa
ilustrasi cerpen

Hingga hari baru itu datang lagi, demikian aku masih saja menagisi diriku ini. Pagi yang menyapa   dengan wajah menyeramkan, seiring berarak perginya awan-awan, memutar lagi memoria hidupku menuju kembali ke titik awal.  Putaran roda waktu yang mengisi ruang hampa batinku, membuatku tak punya pengharapan atas hari ini.

Hari ini adalah ajalku. Biarkan aku menjadi mati atas tubuh yang tak punya arti ini. Dengan kata lain, aku ingin  membenturkan kepalaku berulang-ulang kali pada dinding tembok kokoh ini. Namun, ternyata yang aku bisa hanyalah menangis, menangis dan menangis seperti seorang perempuan.

Notes kacil kembali menjadi saksi tangisanku.

"Aku akan berhenti kuliah dan pulang karena tak mampu melunasi SPP semester ini, walupun aku punya nilai yang bagus. Tapi, apalah artinya. Dan,   kenapa air mataku tak bisa berhenti, padahal aku seorang lelaki tegar."

Aku coba merincikan lagi arti tangisan berpadu semua yang aku alami sekarang ketika celoteh-celotah membendung langit dan tampak hitam pekat. Aku menjelaskan kepada tembok-tembok bisu yang sudah muak mendengar tangisan seorang laki-laki tegar seperti aku.

Pertama, karena aku mencintai ayah dan ibuku. Kedua, bahwa  dalam benakku masih tak bisa terhapus kejadian buruk yang menimpa ayahku setahun silam. Kejadian tentang kepergian ayahku yang mati terbunuh secara tragis ketika musim hujan tiba. Itulah alasan kuat mengapa aku menangis ketika rintikan hujan di luar mendesisis. Hujan adalah simbol kepergian ayahku.

Sementara di saat-saat yang lain dan tiba-tiba saja aku menangis, itu adalah tangisan untuk ibuku. Kerap kali aku berpikir ketika aku tak punya apa-apa dikontarakan semisal tak punya uang,  beras atau makan hari ini, aku pasti akan menangis.

Menangis bukan karena aku merasakan lapar dan akan sakit, melainkan membayangkan bagamana dengan ibuku di sana. Apakah dia ada makan untuk hari ini ataukah tidak? Dan, bagaimanakah perempuan paruh baya itu memikul besi yang berat lalu pergi mengais tanah untuk mencari sesuap nasi hanya demi menahan lapar dalam sehari?

Demikian sudah jelaslah alasan mengapa aku sering menangis dan harus mengakhiri kuliahku. Aku lalaikan pesan yang dititipkan ayah. Ia mengatakan agar aku berkuliah dan kelak menjadi orang baik untuk mengangkat martbatnya sebagai seoarang petani.

Aku elakan semua impian ayah yang akan menjual semua ternak, sawah dan harta miliknya demi untuk menyekolahkanku ke perguruan tinggi hingga harus mengarungi lauatan luas. Akupun harus menghentikan doa seorang ibu kepada anaknya untuk sebuah kebahagiaan. Dan memang, aku sudah harus mengakhiri ini semua.

Halaman
1234
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help