Cerpen: Ada Pesan yang Belum Tersampaikan

Jangan paksa aku menangis lagi, wahai hujan. Aku telah berjanji pada malam kalau aku tak ingin menangis lagi untuk kesekian kalinya.

Cerpen:  Ada Pesan yang Belum Tersampaikan
istimewa
ilustrasi cerpen

Cerpen Irenius Elo Alupan

POS-KUPANG.COM --- Jangan paksa aku menangis lagi, wahai hujan. Aku telah berjanji pada malam kalau aku tak ingin menangis lagi  untuk  kesekian kalinya. Dan,  bukankah aku pun pernah memintamu untuk tidak datang membawa semua memori hidupku lewat rintikanmu? 

Sudah cukup, hujan. Hentikan sekarang rengengkanmu. Hentikan! Aku takut. Aku muak mendengar desaumu."

KUTULIS lagi dalam diaryku sesaat, setelah hujan hari ini jatuh untuk kesekian kalinya. Kutuliskan semua keresahan hati yang tak bertepi dan tak dapat terbendungkan dalam gejolak permainan hidup ini.

Bersama air mata yang masih menetes, kutuliskan lagi kehidupan yang sama sekali tak punya artinnya, lantaran martabatku sebagai manusia diinjak lalu digilas sampai remuk dan yang tersisa hanyalah butiran debu.

Kutuliskan semua hinaan, lantaran aku layaknya anjing  kurus kelaparan yang tengah  menanti sisa remah-remah  di meja perjamuan.  Aku tulis semua kisah hitam hidupku ini, lewat pena yang kian enggan menupakan tintanya.

Dan itulah aku. Adalah aku dan semuanya tentang hidupku yang  sekarang kujalani. Menderita, sengsara dan bahkan tidak punya seciut harapan di hari ini, apalagi mengibas gorden hari esok, lalu memaksa senyum di bibir namun hati berat menjalani hidup ini. Adalah aku yang tengah hidup dalam perjuanagan melawan gletser kehidupan yang sementara membanjiriku menuju kekebekuan. Adalah aku yang hampir saban hari menelan asinnya air mata.

Kembali ke titik nol dan memulai lagi yang baru, sudah tak mungkin lagi. Sementara aku sudah di pertengahan jalan dan hendak sampai ke tujuan. Perjuanganku mungkin hanya sampai di sini. Meraih gelar sarjana harapan keluarga, kian jauh dan makin menghilang. Aku berhenti. Mungkin saja takdirku menginginkan aku sampai di sini saja.

Aku berhenti bukan karena aku telah menidurkan Tuhan dalam hidupku, tetapi  bagiku Tuhan adalah subyek yang selalu penuh tanya keberadaanya, hingga tak sempat melihat rintihan atau bahkan mendengar sebait doa yang kulafaskan setiap hari-hariku. 

Hanya itu yang aku bisa bilang untuk menenangkan hati dan budiku  yang hampir lari dari kemutlakan sebagai manusia yang adalah milik Tuhan semata. Ingin aku mengelak lari lalu mencari tuhan yang lain, tapi apalah daya. Tuhan itu satu. Satu, hanya saja tak tentu keberadaannya. Entah Dia di mana sekarang.

Halaman
1234
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help