Parodi Situasi Sakura

INI bukan sakura sembarang sakura. Jangan engkau kira bahwa ini sakura dari Jepang.

Parodi Situasi Sakura
DOK POS KUPANG
Maria Matildis Banda

                                        ***
"Kita perlu juga belajar dari temannya Rara yang kirim bunga sakura itu. Belajar menghargai pilihan orang lain, sehingga tidak perlu cemberut, tidak perlu menunjukkan permusuhan, apalagi memperlemah karakter orang lain hanya karena berbeda dengan apa yang kita mau. Apalagi memperlemah dengan memberi cap sakukurata," kata Benza.

"Betul, kalau selama ini kita mencoba mengambil hikmah mawar sebagai tanda cinta, sekali-sekali kita perlu belajar dari kembang yang lain. Sakura, yang Rara bawa untuk kita," sambung Nona Mia. "Tidak cukup kata-kata untuk menjelaskan mekarnya bunga sakura. Bagi orang Jepang filosofi dan nilai spiritual sakura berkaitan dengan kehidupan manusia. Ada kegembiraan dan kesedihan, kebersamaan dan perpisahan, cinta, damai, kesejukan, keheningan, dan kebahagiaan yang tidak terkatakan."
"Juga kesiapan mental untuk gagal dan untuk berhasil," sambung Benza.

"Itu yang ingin kupelajari sesungguhnya dari bunga sakura ini," kata Rara. "Supaya kalau aku gagal dan tidak dapat kursi dalam pileg nanti, aku tetap memiliki harapan bagai bunga sakura."

"Pintar sekali kamu, Rara!" Puji Nona Mia. "Yang paling penting lagi, filosofi sakura yang kucatat khusus untukmu dan ingin membacanya sekali lagi. Sakura kutata dalam renungan hidup. Ada suka, ada duka, ada sedih dan gembira. Ada hidup  ada saatnya mati. Pada saatnya sakura mekar dengan indahnya, dan ada saatnya jatuh berguguran ke tanah.  Mekar dan gugur itulah  yang dilakukan bunga sakura dari musim ke musim. Mekar dalam ribuan kembang yang dinantikan dengan rindu. Orang Jepang merayakannya  bersama keluarga, kekasih tercinta, berjalan menyusuri taman atau duduk di bawah pohon sakura sambil mensyukuri kebersamaan. Kebiasaan ini dinamakan hanami."

                                  ***

"Apa hubungannya dengan caleg ya?" komentar Jaki. "Sakura yang jauh di tanah orang dibawa-bawa untuk mendukung Rara."

"Aku dapat bunga ini dari temanku di Tokyo," kata Rara. "Dia menulis sepucuk surat untukku. Isinya meyakinkan aku bahwa sakura juga mengajarkan kita tentang rasa syukur. Meskipun pasti jatuh berguguran, ada waktunya juga untuk pasti bermekaran lagi. Semua ada waktunya bukan? Rasa syukur sepanjang waktu...Itu kata-kata temanku," kata Rara.

"Kata-kata yang indah dan menggetarkan hatiku," sambung Nona Mia.   "Ya, ambillah filosofi sakura, terutama keberaniannya untuk bersyukur sepanjang waktu dalam untung dan malang dalam susah maupun senang."
"Kalau begitu Rara si caleg, kuucapkan salam sakura untukmu!"
"Tapi bukan sakukurata!"
"Ya! Pasti!" *

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help