Hujan di Biara

MUNGKIN akulah wanita pertama yang berani menangis karena sebuah biara. Kegeramanku memuncak saat panggilanku makin sekarat

Hujan di Biara
Net
Ilustrasi

"Maafkan aku, suamiku. Aku hanya sanggup menatapmu dari tempat ini tanpa berbuat banyak untuk menolongmu," keluhku lirih saat terdakwa digiring ke luar ruangan.

Dengan cekatan kuseka air mata yang tumpah, saat seorang gadis kecil mendekatiku dari samping.
"Kenapa Ibu menangis?" tanya gadis itu polos.
"Tidak apa-apa, nak," jawabku sekenanya sambil memaksa diri untuk tersenyum.
"Tapi kan, ada air matanya?" Kembali gadis kecil itu bertanya dengan nada memrotes.

Sebelum sempat kujawab pertanyaannya, terdengar suara berat dari arah belakangku,
"Tinny, dengan siapa kamu bicara?"
"Dengan Ibu ini, Ayah" jawab gadis itu sambil menggandeng tanganku.
"Ibu?
Tidak ada siapa-siapa di sini, nak. Ayo pulang!"

Maumere, Agustus-September 2013.

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help