Hujan di Biara

MUNGKIN akulah wanita pertama yang berani menangis karena sebuah biara. Kegeramanku memuncak saat panggilanku makin sekarat

Hujan di Biara
Net
Ilustrasi

"Cinta tak selalu mengenal kata serius, kan? Aku hanya tak ingin menderita terlalu lama karena perasaan ini. Itu saja."

"Ya Tuhan,,, Grace, sadarlah!
Segala sesuatu ada hukumnya, sayang." Ratih coba meyakinkan bahwa wanita itu sedang dalam sebuah kesalahan yang fatal.

"Jika demikian, aku berikir: Hukum juga demi cinta, bukan?" bantah Grace kritis.
"Kamu tahu, Grace? Diskusi terberat dalam hidup ini yang solusinya adalah tanpa solusi ialah tentang perasaan dan mimpi-mimpi," imbuh Ratih pasrah.
Malam sepekat kopi, ketika keduanya larut dalam pikiran masing-masing.

Berharap esok pagi, kemelut itu raib bersama hilangnya kelam. Tak ada yang tahu, bagaimana cinta itu melangkah, berjalan, dan pergi. Yang mereka tahu hanyalah kesadaran bahwa mereka tidak selalu betul-betul memilikinya. Andai saja Tuhan hidup di zaman ini, Ia pasti kaget keesokan harinya: Ia tidak bisa datang dan pergi sesuka hatiNya.

Ketika pagi belum terlalu dewasa, betapa kagetnya Ratih saat menemukan Grace tak ada. Dengan tergesa, ia berlari mendatangi beberapa kerabatnya namun hasilnya mubazir. Grace menghilang entah ke mana.

Karena letih, Ratih akhirnya kembali ke penginapannya dengan rasa bersalah. Dihempaskan tubuhnya pada sebuah kursi malas, sebelum matanya menangkap sebuah guratan pada kertas, tergeletak tepat di atas meja belajarnya.
Di dunia ini, sebenarnya tidak ada jarak
Jatuh cinta, pertemuan, dan perpisahan
Hanyalah perasaan.

"Ya Tuhan! Ini tulisan tangannya," batin Ratih sambil berlari menuju pantai yang letaknya tak jauh amat dari rumah.
Sebuah senyum perlahan tersembul di bibirnya, ketika sirene kapal jurusan Maumere-Makasar menjerit tiga kali.
            ***

* 2013
"Berdasarkan berita acara persidangan hari ini, Senin, 19 Agustus 2013, Sdr. Lukas Sabtu dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan Pasal 181 KUHP jo 65 Ayat 1 KUHP tentang menguburkan mayat sebagai tindakan menghilangkan barang bukti, maka keputusan yang sesuai adalah penjara seumur hidup."

Suara hakim terdengar membahana, disusul teriakan massa, "Hukum mati saja!"
Persidangan pun usai setelah air mataku kembali menetes dengan ikhlas. Aku sendiri tahu persis kejadiannya, dan apakah saudara terdakwa itu pantas dihukum demikian ataukah tidak. Sayang, suaraku tak cukup kuat mereka inderai, bahkan oleh telingaku sendiri.

Terhampar begitu saja di depan mata, perjalanan hidupku yang kian hancur: Wanita sundal yang malang. Kalimat yang sering kudengar bila sedang berpapasan dengan orang kebanyakan di emperan toko, lembaga LSM, biara-biara, rumah sakit, dan tempat ibadah. Mungkin inilah takdirku sebagai seorang wanita yang terjebak dalam tradisi.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved