Dari Roma dengan Cinta

PERCAKAPAN antara dirinya dan pelayan kedai kopi masih bergema dalam hatinya: "Selamat jalan. Sampai jumpa"

Dari Roma dengan Cinta
Net
Ilustrasi

"Di situ. Di rumah itu. Pelayan kedai menunjuk ke arah depan.
 "Mereka sudah meninggal. Rumah itu sah menjadi milikku. Tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Aku memiliki surat keputusan dari pengadilan. Termasuk kedai kopi ini. Kalau nanti aku meninggal, itu persoalan lain. Pengadilan pasti akan menanganinya secara adil".

Mendengar kemelut yang diutarakan pelayan tadi, lelaki itu berdiam sejenak. Ia memainkan telinga cangkir ke sana ke mari. Lalu hening.
"Maaf, kalau boleh tahu. Apakah kamu sudah menikah?"

"Tidak. Aku tidak menikah. Entahlah. Hanya hati nuraniku menolak. Mungkin aku keliru atau salah. Bisa juga aku dikatakan bodoh. Terserahlah. Itulah kesadaran dan keputusanku. Yang terpenting bagiku adalah bahwa aku merasa aman, nyaman dan hepi dengan hidupku saat ini. Entah apa yang akan terjadi besok, aku tidak tahu. Apa yang pasti di dunia ini? Dan bukankah kamu mengatakan bahwa selama hidup apa saja bisa mungkin?"

 "(Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa ada alasan lain yang mungkin tidak ia sadari yaitu rasa trauma yang terpendam dalam alam bawah sadarnya berkaitan dengan sikap hidup keluarganya yang penuh kekerasan yang telah ikut berkontribusi dalam pilihan dan keputusannya. Namun aku tidak ingin mengganggu perasaan hatinya yang penuh dengan kebanggaan atas sikap, pilihan dan keputusan hidupnya. Toh untuk apa juga. Nyatanya ia enjoy dan hepi saja dengan hidupnya. Itulah yang terpenting. Namun aku juga mulai was was dengan pengulangannya atas pernyataanku tadi: bukankah selama hidup apa saja bisa mungkin?)"

 "Aku merasa bangga dengan pemerintahan negara kami yang sungguh memerhatikan nasib dan masa depan anak anak karena pada merekalah terletak keberlanjutan budaya, karakter, disiplin, kesejahteraan, harga diri, martabat dan masa depan negara kami". Kata pelayaan itu sambil tersenyum penuh bangga.

 Tidak terasa sudah empat jam lelaki itu berceritera dengan pelayan kedai kopi itu. Walau selama itu, wajahnya tak tampak buram. Hanya beberapa kerut bergelombang di dahinya. Ia seperti meresap dengan resah ceritera pelayan kedai kopi itu. Hari semakin beranjak siang. Sudah jam dua lewat tigapuluh menit waktu setempat. Matahari bersinar cerah. Namun udara terasa dingin mengental menerpa setiap tubuh yang ada di tempat wisata itu. Dingin, karena angin tenggara yang bertiup semilir membawa uap air laut Mediterania. Lelaki itu berkata.

"Cangkir ini bagus, yah"    
"Bagus apanya?" Tanya pelayan itu."
"Tulisan yang ada di cangkir ini".
"Benarkah?"

"Boleh aku bawa cangkir ini?"
"Oh, boleh. Cangkir itu aku beli dua puluh tahun yang lalu. Usianya sudah setengah dari usiaku. Tak apa. Aku rela. Bawalah untuk kamu. Kan selama hidup apa saja bisa mungkin. Betulkan? Yang penting cangkirnya, bukan...?"
"Sungguh? Banyak terima kasih." Spontan sambung lelaki itu sambil mengumbar senyum.

"Ada satu hal", kata pelayan itu.
"Apa itu?" Tanya lelaki itu tak sabar.
"Bolehkan dua orang yang dari tadi berbincang bincang ini saling memberikan nama dan mungkin emeil sekaligus."
"Biarkan semuanya tersimpan dalam keabadian bersama birunya laut Mediterania". Lelaki itu menjawab dengan taktis.

"Oh, aku tahu maksudnya". Kata pelayan itu sambil mengalihkan sedikit rasa malu yang tersirat di raut wajahnya.
"Apa itu?" Dengan tenang lelaki itu bertanya.

"Begini. Lebih indah membiarkan buah yang matang tergantung pada pohonnya daripada dipetik karena keindahannya akan sirna. Walaupun sesungguhnya selama hidup apa saja bisa mungkin". Kata pelayan itu penuh percaya diri.
"Dan bukankah kemungkinan itu juga adalah sebuah kepastian?" Balas lelaki itu dengan wajah menyelidik persis seorang detektif kawakan.

"Tetapi tidak untuk hari ini". Jawab pelayan itu dengan tangkas.
"Sebab, bukanlah besok punya ceritera tersendiri?" Jawab lelaki itu sedikit berfilsafat.

"Yah, besok adalah hari yang lain". Kata pelayan itu bersemangat.
"Wou. Hebat, yah kamu. Aku tahu dari mana kamu kutip kata kata itu".
"Oh, memang. Dari Gone With The Wind. Jawab pelayan itu tak mau kalah.
"Tapi aku pergi dengan kereta". Jawab lelaki itu sambil melambaikan tangan kanannya.

"Yah, kereta angin". Teriak pelayan itu sambil menatap kereta yang bergerak pergi. Angin laut Mediterania bertiup agak kencang menggerakkan rambutnya yang hitam panjang terurai seakan ikut melambai lambai mengucapkan selamat jalan.
Kereta tiba di stasiun Piramida. Lelaki itu terkejut kalau kereta telah sampai di tujuannya. Ia bergegas turun meninggalkan kereta dengan tersenyum sambil membaca tulisan pada cangkir yang ada di tangan kanannya: "Dari Roma Dengan Cinta".

Roma, 16 November 2013

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved