Dari Roma dengan Cinta

PERCAKAPAN antara dirinya dan pelayan kedai kopi masih bergema dalam hatinya: "Selamat jalan. Sampai jumpa"

Dari Roma dengan Cinta
Net
Ilustrasi

"Tidak ada siapa siapa?" (lelaki itu merenung dalam hatinya. Ia terkejut mendengar kata kata itu. Pikirannya...)
"Huh, pikiranmu melayang, yah?"
"Oh, tidak. Aku mendengarkan perkataanmu".

"Baik kalau begitu. Aku senang karena aku sungguh didengarkan".
"Saling mendengarkan itu sangat penting. Banyak hal buruk terjadi karena orang tidak saling mendengarkan".

"Orang tuaku broken home. Itu karena tidak saling mendengarkan. Tidak ada yang mau mengalah".
"Benarkah demikian? Aku turut prihatin".
"Aku dibesarkan di sebuah institut pemerintah yang merawat, membesarkan dan menyekolahklan anak anak yang keluarganya bermasalah. Aku tinggal di institut itu selama empat tahun".

"Jadi kamu ini jebolan institut, yah?"
"Iya dong. Tapi bukan institut ilmu pengetahuan melainkan institut kemanuisaan dan kasih sayang".

"Bagus, yah. Pemerintah kamu memiliki perhatian besar terhadap masalah seperti itu. Lalu apa alasannya kamu masuk institut itu?"

"Kedua orang tuaku selalu terlibat pertengkaran. Perkelahian. Pemukulan. Kekerasan dalam rumah tangga. Masyarakat melaporkan hal itu ke pemerintah setempat. Lalu petugas sosial melaporkan hal itu ke polisi dan pengadilan. Aku diambil dari keluargaku dan diasuh di institut itu. Banyak anak masuk ke sana dari berbagai latar belakang masalah keluarga. Karena perselingkuhan. Narkoba.

Broken home. Bayi yang dibuang sesudah dilahirkan ibunya. Kematian ayah atau ibu atau keduanya karena kecelakaan lalu lintas. Aku sendiri karena kekerasan dalam keluarga".

"Jadi masyarakat memiliki peranan penting sebagai pengontrol terhadap keharmonisan dalam hidup berumah tangga dan bermasyarakat. Apakah anak anak itu akan kembali ke rumahnya?"

"Biasanya pengadilan akan memberikan penilaian berdasarkan rekomendasi masyarakat setempat dan psikiater yang ditetapkan pengadilan untuk pendampingan keluarga bermasalah. Setiap tiga bulan dimasukkan laporan tentang perkembangan hidup keluarga tersebut. Setahuku, banyak anak yang tidak dikembalikan pengadilan karena kuatir dengan masa depan anak anak itu.

Termasuk diriku. Orang tuaku tidak  berubah. Akhirnya pada suatu hari Natal aku "dihadiahkan" kepada sebuah keluarga yang ingin mengadopsi anak."
"Di manakah orang tua angkatmu tinggal?"

Halaman
1234
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved