Dari Roma dengan Cinta

PERCAKAPAN antara dirinya dan pelayan kedai kopi masih bergema dalam hatinya: "Selamat jalan. Sampai jumpa"

Dari Roma dengan Cinta
Net
Ilustrasi

Dari arah depan, seorang pria dan wanita masuk ke kedai kopi. Mereka mengambil tempat duduk dekat jendela. Gulungan ombak seperti memanggil mereka pulang pada kenangan masa lalu. Sebentar sebentar percikan air laut membasahi lengan mereka. Rupanya mereka pasangan suami istri. Mereka memesan dua cangkir kopi dan makanan ringan. Si pria membaca koran, mulutnya komat kamit. Entah karena bacaan atau hal lain.

Si wanita mengisap rokok. Di kota ini kebanyakan wanitanya, baik tua maupun muda, suka merokok sedangkan yang pria cenderung mengunyah gula gula karet. Kalau seseorang memerlukan pemantik, maka mintalah saja pada wanita. Mereka akan memberikannya dengan senyum penuh makna. Pelayan tadi kembali menemani lelaki di mejanya.

"Bolehkan aku tambah kopi untuk kamu?" Mereka meneruskan percakapan.
"Oh, boleh. Baik sekali!"
"Sebentar. Aku buatkan kopi".

Tidak lebih dari dua menit, pelayan itu membuat kopi. Maklumlah. Semuanya serba elektrik dibarengi sumber daya manusia yang memadai. Ada sarananya dan ia tahu bagaimana memergunakannya. Efektif dalam menggunakan waktu dan hasilnya bermutu. Menghormati pekerjaan entah sesederhana atau sekecil apapun, itulah karakter orang orang di sini. Cleaning service pada sebuah hotel, datang bekerja memakai mobil. Begitu juga tukang masak.

"Wah, mengapa memakai cangkir sebesar ini? Terlalu banyak kopi untukku"
"Biar banyak agar kamu dapat merasakan nikmatnya kopi di kedai ini".
"Aku akan habiskan kopi ini. Karena hari ini aku mendapat suatu pelajaran baru".
"Benarkah. Pelajaran apa itu?"

"Hidup ini dapat diibaratkan seperti minum kopi. Ada pahitnya. Ada manisnya. Keduanya bercampur jadi satu. Kalau diminum, rasanya nikmat".

"Itulah hidup. Ada manis. Ada pahit. Semua orang mengalami hal tersebut. perbedaan terletak pada sejauh mana seseorang menerima, menghargai, mensyukuri dan menarik hikmahnya".

"Hebat. Kata katamu terdengar matang dan refleksif. Aku tersentuh".
"Terima kasih atas pujianmu. Belum ada orang yang memujiku dalam tiga hari ini. Aku sungguh merasa berarti dan berharga".
"Kamu suka dipuji?"

"Normal kalau seseorang merasa senang menerima pujian. Pujian yang tulus dan obyektif mesti diterima dan disyukuri".
"Apakah kamu sendirian di sini?" (Lelaki itu bertanya demikian karena tidak ada orang lain yang masuk keluar kedai ini dengan meneriakkan `mama' atau apa lagi begitu)

"Harap kamu tidak keberatan dengan pertanyaanku".
"Aku tidak keberatan. Aku bekerja di kedai ini. Di depan rumahku. Kedai ini buka jam sepuluh pagi. Tutp jam sepuluh malam. Sesudah itu aku pulang ke rumah. Tidak ada siapa siapa di sana. Aku tinggal sendirian".

Halaman
1234
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help