Dari Roma dengan Cinta

PERCAKAPAN antara dirinya dan pelayan kedai kopi masih bergema dalam hatinya: "Selamat jalan. Sampai jumpa"

Dari Roma dengan Cinta
Net
Ilustrasi

Cerpen Videntus Atawolo

PERCAKAPAN antara dirinya dan pelayan kedai kopi masih bergema dalam hatinya:
      "Selamat jalan. Sampai jumpa"
      "Selamat tinggal. Terima kasih".
      Ia masih mengingat persis gambaran pelayan kedai kopi itu. Bertubuh ramping.

Berambut hitam asli panjang terurai. Berhidung mancung. Berbibir tipis. Berkuteks coklat tembakau dipadu anting bermata gading. Bercelana jeans. Bersepatu panjang. Nampak mandiri. Penuh percaya diri. Berbicara polos, lepas bebas merdeka.    

Kereta yang sudah berhenti di stasiun kota Antica sekitar sepuluh menit yang lalu, berangkat menuju stasiun Piramida. Seorang lelaki menumpang kereta tersebut; meninggalkan kedai kopi tempat ia nongkrong beberapa jam lalu sambil menikmati hangatnya kopi dan indahnya panorama pantai Antica; sebuah kota yang terletak di tepi pantai laut Mediterania, tak jauh dari Roma. Ia memandang keluar jendela yang masih berembun tipis. Pandangan matanya yang tajam menerawang jauh menuju sebuah percakapan yang belum lama berlalu.

"Kamu dari mana?" Tanya pelayan itu.
"Aku dari Indonesia". Lelaki itu menjawab dengan menopang kedua sikunya pada meja.

"Sudah tujuh kali aku melihat kamu di sini. Baru kali ini kamu minum kopi?"
"Aku datang untuk melihat pantai laut Mediterania saja. Aku tidak biasa minum kopi. Hari ini aku minum kopi. Aku tidak tahu mengapa?"
"Apakah karena aku ada di sni?"

"Aku tidak tahu. Mungkin. Bisa benar. Mungkin juga tidak. Namun memang kita tidak bisa menghindar dari hal hal yang akan terjadi diluar kendali kita. Apa yang akan terjadi di depan, kita tidak tahu pasti. Apalagi, bukankah selama hidup apa saja bisa mungkin?" Sambung lelaki itu dengan tatapan tajam menjurus ke pelayan di depannya.

"Benar katamu. Selama hidup apa saja bisa mungkin. Aku suka pernyataan itu?"
"Mengapa?"
"Karena aku melihat ada kebenaran di dalamnya."
"Kebenaran?"

"Hari ini kamu di sini. Entah besok, di mana. Hidup bukan matematika seperti dua tambah dua sama dengan empat. Hidup adalah sebuah perjalanan dengan berbagai pengalaman menanti di depan. Hidup ini ada manisnya. Ada pahitnya. Bercampur jadi satu. Keindahannya tentu ada. Tergantung siapa yang dengan hati mengolahnya. Kayak kopi yang kamu minum. Ada manis. Ada pahit. Kalau sudah dicampur dan diminum, nikmat bukan?", sambil menggerakkan tangan, pelayan itu mengerutkan bibirnya.

"Maaf ada tamu. Aku layani dulu." Pelayan itu pergi meninggalkan bunyi derit kursi.

Halaman
1234
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved