PosKupang/

NTT Propinsi Jagung Hanya Slogan

Direktur Eksekutif Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC), Dr. Elcid Li, menilai, NTT

NTT Propinsi Jagung Hanya Slogan
POS KUPANG/OBY LEWANMERU
Dari kiri ke kanan, Drs. Herman Y Utang, Lic.Phil (moderator), Dr. Elcid Li, Rm. Leo Mali, Lic.Phil, Dr. Anton Belle dan Rm. Dr. Okto Naif, pada acara seminar Keluarga dan Tahun Orang Miskin serta peluncuran buku Dari Cura Animarum ke Cura Hominum di Aula STIPAS Kupang, Sabtu (15/2/2014). 

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Direktur Eksekutif Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC), Dr. Elcid Li,  menilai,  NTT sebagai propinsi jagung hanya slogan saja. Pasalnya, banyak jagung yang dijual di pasar-pasar berasal dari luar NTT.

"Saya melakukan penelitian di beberapa daerah seperti di Belu, Timor Tengah Utara (TTU) dan Timor Tengah Selatan (TTS), ternyata jagung-jagung yang dijual di pasar adalah jagung impor. Jagung itu kebanyakan dari Sulawesi dan Jawa Timur. Dengan kondisi ini jelas saya sangat pesimis dengan propinsi jagung. Kalau untuk slogan saja bisa," kata  Elcid dalam dialog seminar tentang  Keluarga dan Tahun Orang Miskin serta Peluncuran Buku dari Cura Animarum ke Cura Hominum di Aula Sekolah Tinggi Pastoral (Stipas) Keuskupan Agung Kupang (KAK), Sabtu (15/2/2014).

Seminar yang dibuka Ketua Stipas, Rm. Gerardus  Duka, ini kerja sama Komisi Hak Anak dan Stipas KAK. Moderator, Drs. Herman Y Utang, Lic. Phil. Tampil saat itu editor buku Cura Animarum, Cura Hominum, Rm. Leo Mali, Lic. Phil, pemateri  Dr. Antonius Bele, M.Si dan Rm. Dr. Okto Naif, Pr.

Elcid mengatakan, ia pesimis program Pemerintah Propinsi NTT terwujud, yang salah satunya  propinsi jagung. Sebab, hasil penelitiannya tentang produksi jagung di sejumlah kabupaten di NTT, terutama jagung yang dipasarkan oleh petani, ternyata jagung yang dijual petani di pasar-pasar berasal dari luar NTT.

Elcid menyampaikan hal itu menanggapi salah satu pertanyaan dari peserta diskusi tentang data kemiskinan di NTT yang ada kaitan dengan program-program intervensi dari Pemprop NTT, seperti Anggur Merah.

"Saya pesimis program propinsi jagung, juga ternak. Khusus jagung, intervensi apapun saya pesimis bahwa program itu berhasil. Alasannya, selama ini pasar siap membeli dari petani, tetapi  produksi jagung di tingkat petani kurang," ungkap Elcid.
Menurut dia, meski pemerintah daerah melakukan berbagai intervensi seperti program intensifikasi pertanian, sangat sulit karena pengembangan jagung di NTT sangat dipengaruhi oleh cuaca dan iklim.

"Petani kita selalu terkecoh dengan iklim. Ketika mereka memiliki bibit atau benih kemudian tanam. Saat benih itu tumbuh, hujan tidak turun, akibatnya jagung itu mati. Untuk menanam lagi, petani tidak punya benih, akhirnya harus menunggu dari pemerintah lagi," katanya.

Sementara pemerintah, lanjut Eclid, untuk pengadaan benih harus melalui proyek sehingga saat benih ada, musim tanam  sudah lewat. "Karena itu, salah satu intervensi yang saya kira bisa diterapkan adalah benahi pengairan di NTT," saran Elcid.

Menurt dia, masalah lain yang dihadapi petani,  yaitu daya tawar mereka rendah. Kondisi ini bukan saja terjadi di bidang pertanian, tetapi juga di bidang peternakan. 
"Misalnya ternak sapi, warga harus bawa ke karantina yang memakan waktu  dan biaya untuk perawatan dan pakan ternak. Ketika hendak bertahan dalam posisi tawar, petani peternak sangat sulit sehingga mereka menjual ternaknya dengan harga murah. Jika ternak dipertahankan, konsekwensinya  adalah tambahan biaya untuk pengadaan pakan," kata Elcid. (yel)

Editor: alfred_dama
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help