Gara-gara Ikan Asin

HARI Senin memang hari pertama sekolah yang paling membosankan. Setelah liburan Minggu dengan ceria dan kelelahan

Gara-gara Ikan Asin
Net
Ilustrasi

Adik langsung melirik buku TTS. Jari telunjuknya mencari nomor pertanyaan dalam buku TTS.
"Oh ini kak. 31 mendatar. Nama lain untuk pulau Kalimantan?"
"Saya tidak tahu!" jawabku sambil mengernyitkan dahi.
Fatin, kemudian, diam. Mungkin ia sedang berpikir bahwa kakaknya ternyata bodoh juga. Karena responsnya cuma diam, aku mencoba berinisiatif mencari alternatif. Seolah-olah aku sedang antusias dengan TTS-nya itu.

"Huruf bantunya, ada?" tanyaku kepadanya.
"Mmmmmm  ada. 27 menurun. Udang yang dikeringkan."
 Adikku membaca pertanyaan itu dengan keras supaya aku mendengarnya dengan jelas pula.

Aku langsung dan lantang menjawab, "udang kanas!"
Mendengar jawabanku, Fatin langsung tertawa terbahak. Para pedagang di sekitar juga keras tertawa. Mereka mengikuti pembicaraan kami. Adikku ternyata sudah menulis jawabannya pada kotak-kotak TTS itu. Karenanya, ia tertawa.

Saat itu, aku tidak berpikir panjang. Bayang pengetahuanku seperti sebutan ikan yang dikeringkan. Orang-orang di kompleks kami adalah nelayan. Tumpukan ikan kecil hasil tangkapan, biasanya dikeringkan di samping rumah mereka. Ikan kering itu dilumuri garam biar tidak membusuk. Ikan yang sudah kering disebut dengan ikan kanas. Atas dasar itu, aku berpikir, udang yang dikeringkan disebut dengan
udang kanas. Ternyata kanas itu sendiri merupakan singkatan dari ikan asin.

Gara-gara ikan asin aku ditertawakan adikku dan orang banyak. Karena malu, aku meninggalkan tempat itu dan berkelana mengelilingi pasar. Melihat orang-orang yang kuanggap aneh bisa menghiburku. Gara-gara kejadian itu pula, aku berjanji dalam diriku untuk tidak akan makan ikan asin. Gara-gara ikan asin. *  
Djogja, November 2013

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help