Gara-gara Ikan Asin

HARI Senin memang hari pertama sekolah yang paling membosankan. Setelah liburan Minggu dengan ceria dan kelelahan

Gara-gara Ikan Asin
Net
Ilustrasi

                    ***
Terlepas dari sekolah dan pantai, aku tumbuh di lingkungan aktivitas ekonomi tinggi, pasar. Di kampungku, hari Senin adalah hari pasar. Maklum, di daerahku hanya ada pasar Mingguan. Pada hari itu, aku sangat ingin pulang sekolah secepatnya. Biasanya aku memaksa kaki kecilku berlari secepat mungkin sehingga aku masih sempat merasakan suasana pasar. Tak peduli panas terik memanggang tubuhku. Jika aku terlambat, pasar akan tutup. Pukul 15.00 pasar sudah tutup.
Sebelum pasar tutup, aku senang sekali merasakan keramaian pasar. Pasar membuatku terasa lebih hidup. Di pasar, aku menjumpai banyak orang.

Orang-orang di pasar tidak membosankan; tidak seperti orang di sekolah yang membosankan dan itu-itu saja. Di setiap hari pasar, orang-orang bergantian datang. Orang-orang ini menarik perhatianku. Aku tidak menjual dan membeli apa-apa. Padahal, di sana terdapat berbagai jenis barang. Maklum, di tanah Nuca Lale, "tongkat, kayu dan batu" jadi tanaman.

Aku senang memandang orang-orang dengan ciri dan perilaku yang berbeda. Aku suka mendengar bahasa yang berbeda dan menarik. Gaya bicara dan dialek mereka juga unik. Ketika berbicara dengan orang sekampung, mereka menggunakan bahasa dearahnya sendiri.

Di pasar, terdapat beberapa bahasa daerah yang kukenal, diantaranya bahasa Rongga, Ende, Mbaen, Manggarai, Bima, Jawa, Padang, Bajawa, Sabu dan Sumba. Ada juga pedagang keturunan Cina yang memakai bahasanya, tetapi dialeknya seperti bahasa Manggarai. Mereka semua akan menggunakan bahasa Indonesia "pasar" ketika mereka bertransaksi dengan pedagang lain.

Berada di pasar, aku merasa seperti berada dalam miniatur Indonesia. Indonesia lengkap dengan "berbagai"-nya. Di sana, aku merasakan pengetahuan ke-Indonesia-an dan wawasan nusantara.  Tentu dimulai dari bahasa. Tentang pengetahuan itu tidak saja kudapatkan dari guru mencecar pada mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Ah, Indonesia kaya bahasa.

                    ***
Sepulang sekolah, aku tiba lebih awal di pasar dari teman-teman sekolahku sekompleks. Ada tempat usaha ibuku di dalam pasar. Aku makan siang di warung ibu. Ibu sangat pandai memasak. Fatin, adikku, memilih tidak sekolah hari ini. Dia sudah kelas dua SMP, sementara aku kelas tiga SMP. Kalau saja aku tidak tertahan kelas satu tahun saat SD (Sekolah Dasar), aku pasti sudah kelas satu SMA (Sekolah Menengah Atas). Sayang, nasip selalu berbeda dengan rencana.

Setelah makan, aku duduk santai di depan warung. Fatin sedang asik dengan dengan buku TTS (teka-teki silang). Buku TTS tidak ber-cover. Kata adikku, ayah merobeknya ketika ia datang saat jam istirahat kantor. Mungkin ayah benar, sebab cover buku TTS biasanya bergambar perempuan cantik nyaris telanjang. Gambar ini tidak baik bagi perkembangan remaja seperti kami. Maklum, selain pegawai pemerintah, ayah juga seorang yang sangat religius.

Fatin memandang fokus pada daftar pertanyaan dan labirin kotak dalam buku TTS. Matanya berbinar pada setiap matra pertanyaan. Kadang ia seperti melamum sendiri, lalu menulis huruf pada kotak tak berarsir. Setelah menulis, ia senyum-senyum sendiri. Ada pancaran kebahagiaan di wajahnya. Jawabannya benar dan cocok dengan jumlah kotak. Ia menjawab sendiri. Kadang, ia bertanya pada para pedagang pakaian yang berada di dekat warung ibu. Ia senang ketika pedagang itu memberikan jawaban yang cocok menurutnya.

Aku bosan memperhatikan aktivitas adikku. Rasanya seperti membuang waktu saja. Aku memilih berkelana keliling pasar sembari memperhatikan orang-orang dalam pasar itu.

"Mau ke mana, kak?" tanya adikku
"Mau ke sana."
"Ke sana mana?"
"Biasa, keliling-keliling pasar."
"Sabar dulu, saya mau tanya."

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help