Beli (s)

AKAN terjadi transaksi tawar menawar yang sengit antara pedagang dan pembeli. Sang pedagang adalah laki-laki dengan kumis

Sang pembeli masuk lagi dengan wajah tanpa ekspresi. Tetap tertata dengan baik, persis seperti ragi yang dia kenakan. Ikatannya tidak bergeser sekalipun, pertanda yang memakai adalah generasi paham tradisi.

"Eja. Kami sebenarnya sangat menghargai pihak keluarga Eja. Hanya saja, keluarga tidak bisa menyanggupi sebesar itu. Kami minta pengertiannya. Bagaimana? Kalau misalnya masih menuntut sebesar itu, kami butuh waktu lebih lama untuk kumpulkan uang bersama keluarga besar."

Seluruh tua-tua keluarga yang sedari tadi  berusaha memasang wajah ramah, mulai menunjukkan raut gerah. Sang pembeli tetap memagari perasaannya dengan raut tertata rapi tanpa kilas emosi, walau dia tahu raut gerah itu ditujukan untuknya. Buat dia, instruksi sudah jelas: keluarga perempuan bukan dari turunan bangsawan, anggota keluarganya  juga bukan orang penting di wilayah ini. Apa tidak keterlaluan kalau kita harus membayar belis3 semahal itu?
"Baik Eja, mari kita minum dulu."

Sang pedagang menuangkan moke ke dalam gelas-gelas bening. Menyilahkan sang pembeli untuk minum. Dengan sekali kibasan tangan dia memerintahkan gadis-gadis muda dalam trah keluarga, yang rupanya dari tadi menunggu perintah, untuk membagikan sirih dan pinang kepada keluarga sang pembeli. Beberapa orang sudah memenuhi halaman rumah. Lima orang laki-laki paruh baya memakai ragi, dua orang perempuan pada pertengahan usia tiga puluh memakai lawo lambu dan dua orang anak kecil.

Duduk dengan manisnya pada kursi-kursi plastik yang tersedia. Segera sesudah sirih dan pinang terhidang, para perempuan mulai sibuk mengunyah dan meludah. Tanah mulai berwarna merah, seperti dikucuri darah, ketika perempuan itu meludah dengan asyiknya.

" Bagaimana moke-nya, mantap? Sebaiknya kita makan siang dulu baru bicarakan lagi."

Sang pedagang mencoba mencari jalan keluar.
"Ah, bagaimana kita bisa makan dengan senang kalau urusan ini kita belum putuskan. Bagaimana Eja? Barangkali mau rundingkan dulu dengan bapa dan mamanya?"

"Oh, tidak perlu. Kami sudah bicara di belakang tadi, semua sudah diserahkan kepada saya sebagai adik dari bapaknya."

Sesungguhnya, sang pedagang tersinggung. Reputasinya sebagai juru bicara keluarga sedikit direndahkan. Dalam hati pasti dia bertanya, apa saya terlihat bingung? Dia memang kelihatan sedang bingung.

"Jadi begini. Kalau soal antaran, angka itu yang keluarga kami patok, soalnya anak kami ini sarjana. Keluarga Eja pasti tahu mahalnya biaya kuliah. Selain sarjana, dia juga bekerja, tulang punggung keluarga. Kalau menikah, yang besok-besok menikmati hasil kerjanya itu kan sudah bukan kami. Karena dia sudah tidak akan tinggal dengan kami. Jadi, keluarga kalian pasti tahu berapa penghargaan yang pantas untuk anak kami ini. Tolong hargailah dia...dengan layak."

Halaman
1234
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved