Beli (s)

AKAN terjadi transaksi tawar menawar yang sengit antara pedagang dan pembeli. Sang pedagang adalah laki-laki dengan kumis

Cerpen  Fransiska Eka

AKAN terjadi transaksi tawar menawar yang sengit antara pedagang  dan pembeli. Sang pedagang adalah laki-laki dengan kumis dipelintir ke atas pada ujungnya. Pelintiran ini saya terjemahkan sebagai usaha paling putus asa untuk menciptakan kesan sangar.

Ia jadi tampak persis seperti salah satu tokoh berkumis termashyur dalam lakon perwatakan di Republik ini, Pak Raden. Hanya saja tubuhnya kurus. Bukan karena kurang gizi, tapi karena ia ingin tubuhnya tetap kurus, sebagai sinyal kepada dunia bahwa ia bukan golongan orang rakus.

"Itu, mereka-mereka itu yang gendut-gendut, itu karena rekeningnya mendadak gendut... Rakus! Hahahaha," katanya dengan leluasa, seolah di Republik ini tak ada satupun yang layak disebut penguasa, kecuali dirinya yang terbiasa mengakhiri sindiran dengan tawa lugas.

Sang pembeli, sebaliknya, tampak berwajah bayi: lugu dan malu-malu. Ukuran tubuhnya pun berbanding terbalik dengan sang pedagang. Dia tambun. Tambun karena rakus, meski dia menolak disebut rakus. Dia lebih suka dibilang menikmati hidup. Ya, menikmati hidup dengan jalan memanjakan nafsu makan. Kau kira itu salah? Dia punya alasan.

"Hidup cuma sekali, maka makanlah apa saja berkali-kali. Setelah mati, kita tidak bisa lagi makan. Masih untung kalau anak cucu menaruh makanan di atas meja untuk kita, seperti yang biasa kita kerjakan buat para nenek moyang. Sekarang ini, orang tidak lagi sajikan sesajen makanan untuk orang yang sudah mati. Maka makan sajalah sampai mati. Hahaha."

Melihat keduanya duduk di ruang tamu, berhadap-hadapan, saling menatap, dan mempersiapkan kata-kata, rasanya bagaikan akan menonton pertarungan David melawan Goliath tanpa senjata, ejekan dari yang merasa lebih hebat, serta campur tangan Tuhan.
                 **
 "Lima puluh juta rupiah untuk satu orang omnya. Sepuluh juta rupiah untuk kakak laki-lakinya, lima belas juta rupiah untuk mamanya sebagai ganti air susu ibu. Baru anak ini kami lepas." Demikian sang pedagang membuka jurus mula-mula. Dalam hatinya yang tulus meski tidak sepenuhnya berisi hal-hal lurus terselip rasa malu. Bagaimana mungkin ia duduk dan berbicara seperti ini, disini.

"Baik Eja. Hanya saja.... Saya kira keluarga kami perlu pertimbangkan lagi. Bagaimana dengan binatang ?" Sang Pembeli tidak ketinggalan melempar jurus. Dia membuka peluang penawaran. Jika uang ditukar binatang, maka tak perlu sampai ada yang berhutang di bank. Cukup kumpulkan hewan peliharaan puluhan sanak saudara di kampung, maka biaya bisa ditekan. Soal balas jasa, bisa diperhitungkan belakangan.

"Zaman sekarang, sepertinya tidak terlalu butuh binatang. Tapi...ya baiklah. Untuk omnya dua ekor sapi, uang tiga puluh juta rupiah. Adiknya satu ekor sapi dan uang lima juta rupiah. Mamanya lima belas juta rupiah." Saat menyebut kalimat terakhir, hatinya teriris. Bagaimana mungkin ia duduk dan berbicara disini soal memberi harga pada air susu seorang Ibu?

"Baik Eja, kami rundingkan dulu dengan keluarga di luar."
Sang pembeli bergegas keluar dari ruang tamu, sementara para tua-tua keluarga terlihat harap-harap cemas. Seekor babi sudah disembelih, mudah-mudahan kata sepakat secepatnya bisa terpetik.

Halaman
1234
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved