Karena Angga Syahputra

SEBAGAI sahabat, kita mungkin terlalu naïf. Menyimpan cemburu yang purba. Menangkup sakit hati yang nisbi.

Persahabatan kita jadi apalah artinya. Jika untuk mengakrabi diri, kita butuh waktu untuk saling melepas jauh-jauh perasaan cinta kita terhadap lelaki itu. Selalu begitu. Berulang-ulang kali. Dan kita masih saja mengikuti pola itu, pola yang telah memenjara kita dalam cemburu yang kaku. Persahabatan yang semu. Dipenuhi lembar-lembar muram kamuflase.

Dan setelah perpisahan ini. Setelah kita menanggalkan seragam putih abu. Kita menjadi lebih mandiri. Lebih memilih untuk tidak lagi bersekolah di satu lembaga. Apalagi satu jurusan. Kita sudah memutuskan untuk menjadi diri sendiri. Lebih bebas. Lebih nikmat. Namun, perasaan suka kita kepada lelaki itu, tentu tak akan pernah pupus. Bahkan sampai kini.

Aku. Memang aku sudah menduga sebelumnya. Bahwa engkau sengaja untuk memilih kuliah di kampus yang berbeda denganku. Lantaran, kamu mempunyai strategi sendiri untuk merebut hati lelaki itu. Kamu pasti beranggapan, tanpa diriku, kamu akan lebih bebas mengajaknya jalan-jalan. Menunggu senja turun di pesisir Pantai Taddys sambil makan jagung bakar. Atau berjoging awal pagi hari di trotoar jalan Eltari hingga mentari bertandang lantas makan kacang ijo berdua di depan Hotel Cendana.

Kamu. Kamu tentu mengira dengan kesendirianku di kampus ini, aku tentu akan lebih mudah berhubungan dengannya. Menemaninya bermain basket bersama di Taman Nostalgia. Selepas itu, kami akan bercanda ria sambil menyeruput mocca dingin.

Kamu pun menduga aku akan mengajaknya untuk mengajariku menyelesaikan tugas Kalkulus yang kurang aku pahami. Setelah itu, mungkin kami akan duduk di beranda samping rumah sambil berdua mendendangkan lagu-lagu jazz kesukaannya.

Akan tetapi, untuk saat ini, sebaiknya pikiranmu, pikiranku, pikiran kita ini, kita kemas rapi-rapi dalam peti kenangan. Menjadi sebuah monumen masa silam yang salah bikin. Sebab, dirimu dan diriku sejatinya adalah sahabat sejati. Tanpa perlu lagi memerebutkan, siapa yang layak menjadi pacar lelaki itu. Karena, dia kini telah menjalin hubungan asmara dengan lain orang. Kamu tentu masih ingat dengan Angga `kan? Teman sekelas kita yang suka ikut-ikutan memakai jaket pelangi milik kita dan gemar bermain gitar sambil mendendangkan lagu-lagu jazz. Ya, Angga Syahputralah yang kini mengisi relung hati Max. Bukan aku, Veni, bukan pula kamu Yeni.

Kupang, 2013

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help