KUDA DAN SANG DOKTER

"KUDA adalah hewan tunggangan arwah menuju alam baka. Bapak telah meninggal jadi kudanya harus dibunuh"

KUDA  DAN SANG DOKTER
Net
Ilustrasi 

 "Ibu....bapak mengatakan kita lebih berharga dari kuda. Manusia tidak mungkin tergantung kuda hanya untuk menuju alam baka"

"Wah, sejak jadi dokter, cara berpikirmu kacau. Jika Bapak masih hidup dia sangat kecewa denganmu. Sebaiknya simpan saja omonganmu itu karena jika tetua adat mendengarnya, masalahnya akan semakin runyam" 

"Aduh, bu.  Aku tidak peduli apa kata orang.  Aku hanya peduli dengan apa kata bapak bahwa kita lebih berharga dari kuda. Aku percaya sekali  bahwa  betapa berharganya manusia, maka kematiannya juga teramat berharga. Manusia tidak butuh kuda, atau secuil benda pun untuk menghadap sang khalik. Bapak tidak butuh kuda. Mati adalah perjalanan yang harus dilalui, dan bapakku telah berada bersama sang khalik karena amal bakti dan  perbuatannya telah menjadi kendaraan yang ditungganginya menghadap sang khalik"

"Ibu semakin tidak mengerti jalan pikiranmu. Mungkin lebih baik kamu tidur, karena dengan cara berdiam diri siapa tahu leluhur akan mengasihanimu dan mengirimkan kembali Ameaus kesayangan bapak itu padamu. Ibu serius, karena beberapa orang di kampung kami pernah mengalami hal seperti itu"
Ibu pergi sambil menutup pintu kamar.
Aku memang hendak tidur, tapi aku selalu percaya bapak telah berada bersama sang khalik.

"Nak, kamu lebih berharga dari kuda" kata- kata bapak kuingat kembali dan malam ini kata-kata itu menghantar tidurku. Dan tentang  kuda  Ameaus yang mati terbunuh itu, aku yakinkan pada diriku bahwa tidak akan terjadi lagi hal seperti itu di kampungku. Tidak akan terjadi lagi! *

Catatan
Orang Sumba meyakini bahwa dara ole dewa, bongga ole ura  (Kuda berkawan dengan jiwa, anjing berkawan dengan tuannya)

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help