KUDA DAN SANG DOKTER

"KUDA adalah hewan tunggangan arwah menuju alam baka. Bapak telah meninggal jadi kudanya harus dibunuh"

KUDA  DAN SANG DOKTER
Net
Ilustrasi 

Bapak sangat marah ketika Aleks dengan teramat terang mengatakan hal itu. Bahkan dengan kecewa Joni pun ikut bicara. Menurut Joni,  ia tidak menyukai pergi ke sekolah karena gurunya sangat membosankan.

"Lebih enak di padang bersama kuda, dari pada di kelas bersama guru yang membosankan. Kuda tidak pernah membosankan"

"Kuda itu menyenangkan, namun kalian berdua lebih penting dari kuda. Kalian  tidak boleh kalah jika itu berkaitan dengan belajar dan sekolah.  Saya harap kalian berdua harus punya cita-cita dan teruslah berdoa"

Akhirnya Aleks dan Joni pun berhasil dalam sekolah . Mereka telah bekerja sebagai pegawai negeri sipil di kabupaten, namun setiap pulang kantor mereka masih menyiapkan waktu mereka untuk menjadi pelatih joki-joki di peternakan kuda milik bapak.

Dan sekarang aku pun telah berada di sini, di kampungku sebagai seorang dokter hewan. Bapak telah meninggal dan seminggu lalu kuda kesayangan bapak,  Ameaus harus dibunuh dalam upacara adat marapu. Memang kuda itu telah apkiran, tetapi Ameaus kesayangan bapak itu merupakan  generasi terbaru  dari kuda turunan Ameaus lainnya. Kuda itu lahir saat aku diterima kuliah. Bagi bapak, kuda itu telah membuka sejarah untuk pertamakalinya aku meninggalkan kampung, pergi melanjutkan pendidikan.  Kuda itu lahir saat aku  melanjutkan pendidikan keluar, dan bapak  menganggap kehadiran kuda itu sebagai hiburan ketika ia mengingat aku. Kuda itu peringatan akan kepergianku mengapai cita-cita. Bahkan konon, bapak seringkali bercakap-cakap dengan sang Ameaus kesayangannya itu jika bapak sangat ingin tahu keadaanku di tanah rantau.

"Aku mendapatkan rejeki yang berlipat ganda, yakni pertama  anakku pergi kuliah, dan kedua kuda ini lahir. Ini kuda kesayanganku.  Temanku bercerita saat anakku tidak ada di sini"
Sejak saat itu ketika Ameaus besar dan telah bisa ditunggangi, kemana pun ayah pergi,  Ameaus pasti ditungganginya. Joni dan Aleks secara bergantian dan terjadwal ketat melatih Ameaus sehingga  kuda itu berhasil memenangkan beberapa kali pacuan kuda secara beruntun.  Tetapi sekarng... sekarang kuda itu telah di bunuh. Kuda yang gagah dan sehat serta telah mengukir banyak prestasi itu telah mati bukan karena seharusnya dia mati, namun karena dia  akan dikendarai arwah bapak menuju alam baka. Jika tidak demikian, maka bapak akan terus bergentanyangan. Mungkinkah? Aku terus menangis. Aku sangat sedih. Entahlah!

 "Mungkinkah sebagai dokter hewan aku merestui tindakan itu? Bukankah tugasku mencegah kuda-kuda ini dari sakit penyakit, bahkan kematian yang tidak wajar? Mengapa aku harus mendukung kuda Ameaus ini dibunuh? Benarkah arwah bapak masih membutuhkan kuda untuk melewati perjalanannya?"
Aku terus bermonolog dengan pikiranku yang semakin realistis. Dunia kedokteran membuatku tidak bisa menerima tindakan seperti itu harus terjadi pada hewan, apalagi hewan kesayangan Bapak. Ibu masuk ke kamar tanpa memanggil namaku, apalagi mengetuk pintu. Walau begitu aku tersenyum. Aku tahu apa yang harus kukatakan, sekalipun dengan cara apa pun Ameaus kesayangan bapak itu telah mati dibunuh.

"Ibu, waktu aku masih kecil, bapak selalu berkata bahwa kita tidak boleh tergantung pada kuda" aku telah berbicara yang membuat ibu memerah wajahnya.

"Kamu salah mengartikan maksud bapak"
"Tidak! Aku tidak pernah salah mengartikannya. Maksud bapak benar, bu"

"Ya, ibu tahu itu. Dan kamu telah salah memahaminya. Jadi jelas sekali kamu yang salah, padahal  maksud bapak itu benar"
Aku menggeleng. Kali ini aku melihat dengan jelas ibu begitu gelisah.

Halaman
1234
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help