KUDA DAN SANG DOKTER

"KUDA adalah hewan tunggangan arwah menuju alam baka. Bapak telah meninggal jadi kudanya harus dibunuh"

KUDA  DAN SANG DOKTER
Net
Ilustrasi 

Aku tersenyum. Diam-diam aku mengagumi bapakku. Harus kuakui, justru disitulah  letak perbedaan cara berpikir bapakku dengan bapak-bapak yang lain di kampungku. Hampir semua anak pengusaha kuda bahkan tidak bersekolah karena telah memutuskan menjadi joki sejak kecil, dan sekolah bukan lagi dunia yang menarik untuk mereka.
"Nak, lihatlah mereka cuma kuda. Tidak seharusnya kita menggantungkan seluruh nasib kita pada kuda. Kita harus tetap berdoa, belajar, bersekolah, dan bekerja"

Aku masih ingat, bapak selalu mengingatkan hal itu padaku setiap  saat, ketika kita berdua menunggang kuda  sambil menjelajahi padang pengembalaan di Keruni. Di padang pengembalaan lepas Keruni, aku dan bapak mengawasi dan mengembalakan kuda-kuda bapak yang banyak ini.

"Iya bapak" 
"Kamu telah memiliki cita-cita?"
"Iya, bapak" kataku yakin.
Aku mengangkat wajahku berpaling ke arah bapak. Bapak menghentikan kudanya dan memandang dari seberang, ke arah diriku yang juga telah menghentikan laju kudaku.
"Aku ingin menjadi dokter hewan. Bolehkah?"
Bapak melompat dari kudanya. Tubuhnya yang gagah itu mendekatiku, di bopongnya aku dari atas kuda. Aku sungguh terharu ketika bapak menaikan tubuh mungilku ke atas kudanya yang jauh lebih besar dan kokoh. Bapak pun telah duduk persis di belakangku, berdua kami berada di atas kuda bapak. Sambil memandang ke hamparan luas padang Keruni, bapak beralih menatap wajahku dalam.

"Bagiku kau lebih penting dari pada kuda. Iya, kuda tetap kuda. Aku akan menjual semua kuda  kita agar kau bisa menggapai cita-citamu menjadi dokter hewan. Teruslah belajar, teruslah bersekolah. Pilihlah kuliah kedokteran, teruslah kuliah sampai kamu berhasil menjadi dokter hewan. Saat kau berhasil jadi dokter hewan, kau  harus kembali ke kampungmu ini untuk mengembangkan kuda-kuda unggulan di Sumba ini. Kampung kami ini akan dikenal sebagai gudang kuda unggulan dunia. Itu akan terjadi jika  harus memulainya dari sekarang"
Aku mengangguk walau aku tidak tahu persis apakah impian bapak tentang Sumba, tentang kampung kami ini sebuah impian yang muluk? Aku belum mengerti mungkinkah aku benar-benar akan menjadi dokter hewan? Mungkinkah impian itu akan mewujud lewat diriku?

Hingga akhirnya aku mendapati diriku telah meninggalkan orangtuaku. Pengumuman ujian SMA telah selesai bersamaan dengan pengumuman seleksi di beberapa perguruan tinggi terkenal. Sungguh, betapa terharunya diriku ketika namaku terbaca pada pengumuman seleksi penerimaan mahasiswa kedokteran....

"Aku diterima, aku akan kuliah bapak!  Mama, aku diterima! Sungguh, aku tidak menyangka bisa meninggalkan keluarga tercintaku secepat ini"

Kedua orangtuaku memelukku, mengantar kepergianku meraih cita-cita. Sejak saat itu aku tinggalkan padang Keruni, juga kuda-kuda bapak yang sangat banyak itu. Bapak akhirnya mencari dua orang pekerja lagi, serta dua orang joki. Kepada dua orang joki itu bapak mengulang kata-kata yang pernah diucapkannya padaku, walau dengan kalimat yang berbeda.

"Joni dan Aleks.... lihatlah mereka cuma kuda" bapak telah menunjuk kuda-kudanya yang begitu banyak. Kuda-kuda itu sedang merumput dan digembalakan oleh Aleks dan Joni.

"Ya, mereka cuma kuda.  Ingat itu. Tidak seharusnya kita menggantungkan seluruh nasib kita pada kuda. Kita harus tetap berdoa, belajar, bersekolah, dan bekerja" bapak kembali mengajak Aleks dan Joni  bercakap perihal kuda kuda  bapak yang semakin bertambah banyak itu.

Sekalipun kuda merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan orang Sumba, serta budaya pacuan kuda selalu marak hingga ke kampung-kampung pedalaman, namun bapak tidak pernah menerima permintaan Joni dan Aleks untuk berhenti sekolah.
"Saya hanya ingin lebih berkonsentrasi sebagai joki. Saya tidak suka sekolah"

Halaman
1234
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved