Cerpen Minggu ini: Luka

KAU, entahlah. Aku merasa kau begitu memprihatinkan. Sangat amat. Kau seperti hidup sebatang kara

Cerpen Minggu ini: Luka
Net
Ilustrasi

"Bisakah kau tersenyum di depan mereka?"
"Tersenyum? Mereka? Entahlah, kuusahakan untuk tersenyum. Tapi, bukankah memang seharusnya begitu? Ataukah aku punya pilihan lain? Keadaan membuatku tak bisa berbuat apa-apa"

Getar-getar suaramu terlalu jelas kudengar. Kupegang pundakmu, aku tak tahu kenapa aku melakukan itu. Kau memang tak terisak, tapi sempat kutangkap sebening aliran dari matamu yang cepat-cepat kau usap. Aku ingin bilang agar kau menangis jika ingin, tapi sejauh ini aku sadar, kau gadis yang cukup kuat dan mungkin aku bukan tempat yang tepat untuk itu. Tak apa, setidaknya saat kita masih betah bersama gelap ini, kuharap ada yang bisa kulakukan untukmu meski sekedar menjawab pertanyaanmu dengan jawaban yang mungkin benar mungkin juga salah. Ah aku pun tak tahu.

"Kau memang harus seperti itu, tapi bukan karena kau tak punya pilihan. Hei,  apa kau tahu betapa berharganya senyummu di saat seperti ini? Tidak ada yang salah dengan keadaan."

"Tidak ada yang salah? Kak, semua sedang salah saat ini. Dan mungkin kesalahan terbesar ada pada diri saya. Di kampus aku sekelas dengan cowok itu, di asrama kita ini aku sekamar dengan ceweknya. Kak, bagaimana caraku menuju ke dua tempat itu dengan hati yang damai? Aku tak bisa menghindar, kampus adalah tempat yang pasti kudatangi, tujuan kehidupanku di sini, asrama adalah tempat yang lebih dari sekedar untuk pulang, tempat untuk hidup, lalu bagaimana caraku melalui hari-hari. Aku seperti prajurit yang baru sadar kalau aku lupa membawa senjata saat perang sudah di depan mata."

Kau betul. Posisimu terlalu memberatkan langkahmu. Dia yang memberimu harapan adalah teman sekelasmu. Dan dia yang sekamar denganmu adalah yang telah menghancurkan harapanmu tanpa kau sadari. Tanpa sebuah petunjuk, tiba-tiba saja kau sampai pada sebuah jalan buntu.  Berada di kedua tempat itu adalah hal yang sudah pasti buatmu. Seperti dengan penuh kesadaran kau menuju tempat untuk melukai hatimu. Tidak ada tawaran lain. Aku tak bisa menyuruhmu menghentikan kuliah, atau jangan memasuki kamar itu, karena itu adalah hal paling bodoh yang terpikirkan.

"Hadapi kenyaataan itu."
"Jika itu satu-satunya cara yang kakak pikirkan maka satu-satunya kelemahanku adalah aku tak punya kekuatan untuk itu. Aku punya banyak senyum kak, tapi tak bisa kuberikan pada semua hal. Berat kak, berat."
"Terkadang tidak ada salahnya kita pura-pura kuat."
"Membuat seolah-olah semuanya baik-baik saja? Tidakkah itu munafik."
"Tidak, itu adalah cara kau menjadi kuat."
"Tapi..."

"Berpura-pulah kau menjadi kuat dan tegar Ina, hingga kau lupa bahwa kau sedang pura-pura. Lanjutkan hidupmu, waktu tidak berhenti hanya karena kau terluka. Waktu akan mengajarkan bagaimana kau mengobati lukamu. Terkadang air mata yang melambangkan kerapuhan bisa menjadi awal kekuatan. Menangislah jika kau ingin menangis, menangislah sampai kau membenci air matamu, hingga kau sadar betapa sakralnya air matamu untuk sebuah luka."

Kau terdiam. Aku juga. Kau terisak. Aku masih diam. Membiarkan kau menikmati air mata yang sarat penyesalan. Aku berusaha mencari kalimat penghiburan yang tepat dalam kamus gelap namun tak ada apapun yang terbaca. Ingin rasanya kukoyak saja langit malam ini agar bisa kutemukan sebuah bintang yang bisa menerangimu. Sebut saja itu hadiah dariku untukmu. Namun tak bisa. Maka aku hanya bisa diam.

Bagimu mungkin pengorbanan yang sudah kau lakukakn selama ini adalah syair terbodoh yang pernah kau tuliskan dalam lembaran kisahmu. Senja-senja menjadi penghias kata. Hujan menjadi moment paling suci untuk mengenangnya. Kau menjadikan setiap waktu adalah senyum. Dan kini, kau terisak bersama perih yang kau rasakan.

Lalu saat terdiam itulah, mataku lalu menangkap sebuah tatapan, ada keteduhan di sana. Sebuah kerinduan cinta yang lain. Bersinar di balik kegelapan. Menawarkan perlindungan ternyaman yang terpercaya, dahulu, kini dan selamanya. Penantian panjang yang tidak pernah melelahkan. Bukti cinta yang paling nyata meski kadang terabaikan. Guru terbaik untuk tetap mencintai meski terluka berulang kali.

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved